Sabtu, 01 Februari 2025

 SORE ITU...

Sore itu, di kuil suci di pinggir danau di Selatan bukit yang selalu indah saat melihat matahari terbenam, ada seorang paruh baya memandangi bunga Teratai merah yang mulai menguncup untuk mekar lagi esok hari, seketika terhenyak merasakan suasana kelam..senyap..sunyi yang tita-tiba membuat jantung berdebar kencang, sesak dan gemetar…bahkan suara angin pun tak terdengar..tak ada satupun suara makhluk lain yang terdengar

Muncul dihadapannya yang diapun tak tahu apa itu, wujud itu menyapa, dan  bergeser mendekat..

“mengapa kau gemetar … manusia  ….” Dengan suara yang ramah, lembut namun terasa berat dan membuat tubuh gemetar.

“a..a..aku….iya a..aku…”terbata bata dengan gemetar entah karena takut atau takjub..

“ya..kau..atau ada manusia lain disini..bukankah hanya kau seorang

“ ya…ya…aku..hanya aku..” masih dengan gemetar

dia gemetar tak bisa membedakan apakah seringai atau senyuman

kau takut…?”

“ah..ti..tidak..aku hanya takjub”..dia berkilah..”apa ini …” pikirnya  “ setan kah, ibliskah..atau malaikat” dia berfikir keras ”bila iblis mengapa begitu lembut dan nyaman”

hai..mengapa kau diam dan terus memandangiku seperti itu, kau tau siapa aku ?

“kau..kau pasti iblis”

“huaaa…hahaha …“aku iblis ..kata mu” Kembali tertawa

“ya hanya iblis yang berani menggodaku” dia mulai berani

“hmm..” senyum wujud itu “kau bisa memberikan bukti bila aku iblis ?

“kau…kau..datang untuk menggangu ku bukan,…di tempat dimana aku menyucikan diri, kuil suci yang sakral ini.

“hah…sakral kau bilang….kau pikir, kau akan menjadi suci hanya dengan berdiam diri disini tanpa berbuat apapun yang berguna?...makhluk itu Kembali tersenyum

“kau bilang perbuatan ku tak berguna”

“ya…apa lagi…”

“aku melakukan penyucian diri berserah kepada Hyang agung, meninggalkan nafsu dunia menjauhi hal hal kotor yang selalu kau bisikan”

“aku…aku membisikan hal hal kotor katamu?”

“ya..siapa lagi kalau bukan kau…”

“hmmm…lalu…kau pikir kau suci…kau bersih dari noda dosa ?

“ya tentu…aku rasa”..

“lagi lagi….kau rasa ….kau rasa…..hahahahaha”

“kau…kau….apa yang kau tertawakan”

“karna kau lucu…kau anggap dirimu suci, sedangkan kau tidak tahu suci itu apa, bahkan tanpa kau sadari.. kau sedang melakukan hal buruk?...apa yang kau ingin kan…menjadi malaikat..yang tidak punya dosa bahkan tanpa nafsu dan ambisi?

“hal buruk…hal buruk bagaimana ?

“kau ini manusia, masih bisa berbuat yang berguna bagi sesama mu..mengapa kau hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun yang dapat membantu sesama mu? Masih banyak kaum mu yang butuh bantuan mu…masih banyak kaum mu yang kesulitan…yang menderita..disaat dunia ini kacau balau..kau hanya berdiam disini tanpa melakukan apapun….

Orang itu diam…merenung…dan diam

“aku..aku sudah tak bisa melakukan apapun, andai aku malaikat..” diam kata katanya tersekat..

“kau…kau ingin menjadi malaikat ?...

Pertapa itu menghela nafas

“lalu apa yang akan kau lalukan bila menjadi malaikat”

“aku hanya akan melihat apa yang sedang dilakukan manusia tanpa berbuat apapun

“hmmm… menarik dan jika kau hanya menjadi pengamat, pasti ada sesuatu yang mendalam lalu apakah hanya akan berdiam ..?

“tidak juga…aku akan menyelami kompleksitas emosi, pikiran, dan tindakan manusia—mengungkap keindahan sekaligus kontradiksi dalam diri mereka.

“menarik..”

aku akan melihat bagaimana manusia, dengan kehendak bebasnya, membuat keputusan yang menciptakan kebaikan, atau kadang, membawa kehancuran. Ini akan memberi wawasan tentang kekuatan besar yang mereka miliki”

“tapi bukankah dengan kekuatan malaikat mu lebih baik kau membuat semuanya menjadi indah”

aku mungkin menemukan keindahan dalam hal-hal kecil yang sering diabaikan oleh manusia sendiri—senyuman, kerja keras, atau bahkan perjuangan mereka dalam mengatasi kesulitan”

“tapi kau hanya melihat tanpa berbuat apapun mana mungkin..?”

“Terkadang, hanya dengan melihat tanpa campur tangan, aku dapat menjadi seperti cermin tak kasat mata yang memantulkan kembali perbuatan manusia, membuat mereka sadar akan tindakan mereka sendiri”

“mengapa tidak kau buat saja mereka menjadi sempurna tanpa cela”

dengan hanya melihat  mungkin menemukan bahwa manusia, meskipun tidak sempurna, memiliki kemampuan luar biasa untuk mencintai, berkorban, dan bertahan. Hal ini akan memberikan wawasan yang unik tentang kehidupan.

“ada makna mendalam dalam hanya menyaksikan tanpa berbuat apa-apa. dalam keheningan itu, aku akan menjadi saksi abadi, yang mungkin lebih memahami manusia daripada mereka memahami diri mereka sendiri, saat perilaku manusia menjadi tidak teratur yang cenderung egois dan destruktif”

“bukan kah mereka itu egois”

“banyak tindakan egois berasal dari rasa takut—takut kehilangan, takut gagal, atau takut tidak diakui. Misalnya, seseorang mengambil lebih dari yang dibutuhkan karena merasa dunia ini penuh kekurangan, dalam ketakutan itu, mereka lupa bahwa berbagi dapat membawa kelimpahan”

“kau lupa manusia pasti akan menghancurkan dunia…?”

“Manusia sering kali berbuat tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Pembunuhan, polusi, perusakan alam dan itu  menunjukkan bagaimana keinginan sesaat dapat mengorbankan keseimbangan yang rapuh. dan sering kali ini dilakukan dengan dalih "kemajuan," menciptakan paradoks antara pembangunan dan kehancuran”

“hahaha…kau paham rupanya…maka manusia akan kehilangan keteraturan..bukankah begitu?”

“Ya…banyak manusia menjalani hidup tanpa arah, hanya mengejar kenyamanan atau kesenangan sesaat tanpa memikirkan nilai yang lebih besar. Ketidakteraturan ini menciptakan kekacauan dalam hubungan mereka dengan diri sendiri, orang lain, dan sekitarnya”

“seakan akan kau adalah pencipta yang tau semua ciptaanmu, saat semua berbeda akan menimbulkan konflik dan kekerasan”

“memang benar perbedaan pandangan sering kali menjadi alasan untuk konflik. Manusia cenderung mempertahankan pandangan mereka dengan cara destruktif, baik dalam skala kecil seperti pertengkaran pribadi, hingga besar seperti perang. Ironisnya, konflik sering berakar pada keinginan untuk "kedamaian" menurut definisi masing-masing”

“bagaimana dengan egoisme dan empati yang hilang dalam diri manusia?”

“kesibukan dengan diri sendiri sering membuat manusia lupa akan kebutuhan orang lain. Mereka melupakan empati, terutama kepada mereka yang membutuhkan, seperti kaum miskin, lemah, atau terpinggirkan. Egoisme ini menciptakan jurang antara yang kuat dan lemah, kaya dan miskin”

“kau paham kan bahwa manusia selalu ingin memuaskan diri sendiri?”

“ya..dalam banyak hal, manusia lebih memilih memuaskan ego mereka daripada mempertahankan hubungan. Perselingkuhan, manipulasi, atau pengkhianatan sering terjadi karena ketidak mampuan menahan dorongan sesaat. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru sering kali menjadi medan pertempuran.”

“Alih-alih bekerja selaras dengan alam atau dengan sesama, manusia cenderung mencoba menguasai dan memanipulasi. Ambisi besar mereka sering kali tidak diimbangi dengan kebijaksanaan”

“tapi….bisa jadi dari kekacauan ini akan lahir sesuatu, Dari egoisme muncul pelajaran tentang pentingnya berbagi. Dari kehancuran lahir kesadaran untuk memulai kembali. Dari ketidakteraturan sering muncul kreativitas, upaya mencari harmoni baru”

“lalu apa  harapan mu ditengah kekacauan ini?

“Kekacauan sering kali menjadi pemicu perubahan. Ketika cara lama sudah terlalu rusak, pembaruan sering kali hanya mungkin dilakukan dengan menghancurkannya. Contoh nyata terlihat dalam kejatuhan kerajaan-kerajaan besar atau rezim yang tirani, untuk membuka jalan bagi bentuk kehidupan baru yang lebih adil dan teratur”

“bukan kah itu paradoks kehancuran untuk keseimbangan”

“dalam filosofi alam kehancuran adalah proses alami menuju keseimbangan baru. Kehidupan lama yang tak lagi berfungsi harus digantikan oleh sesuatu yang lebih selaras. Gunung berapi yang meletus, menghancurkan kehidupan sekitarnya tetapi juga menyuburkan tanah untuk generasi berikutnya”

“Terkadang, manusia terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak lagi relevan. hukum ini menciptakan ketidakteraturan, ketidakadilan, dan keadaan tidak bergerak, tidak maju, atau tidak berkembang.  Menghancurkannya menjadi kebutuhan untuk membuka jalan bagi kehidupan baru. Namun, proses ini tidak pernah mudah dan sering kali disertai rasa sakit—baik secara fisik maupun emosional”

“tapi hal itu akan menjadi tak terkendali”

“ya kau benar memang akan seperti itu meskipun penghancuran adalah alat yang ampuh untuk perubahan, tanpa arah dan kebijaksanaan, ia bisa menjadi destruktif tanpa hasil. Contohnya adalah perang atau revolusi yang meninggalkan kehancuran tetapi gagal membangun sistem baru yang lebih baik. Oleh karena itu, cara pandang dan kepemimpinan adalah hal yang sangat penting.

“dan…manusia tidak belajar dari kesalahan yang lalu..?..bagaimana dunia hancur bisa menjadi cermin bagi manusia?”

“Kehidupan sebelumnya, meskipun tidak teratur, mengandung pelajaran berharga. Menghancurkannya tidak berarti melupakan, melainkan belajar darinya untuk menghindari kesalahan yang sama dalam membangun kehidupan baru”

“kau lucu…tak ada harapan bagi manusia dengan seluruh ke egoisan dan keras kepala”

“Dalam penghancuran yang disengaja dan penuh kesadaran, ada potensi besar untuk menciptakan sesuatu yang lebih harmonis dan berkelanjutan”

“Apakah manusia mampu menghancurkan tanpa kehilangan arah? Bagaimana memastikan bahwa kehidupan baru yang diciptakan benar-benar lebih baik, bukan hanya pengulangan pola lama dalam bentuk baru? Kau ini manusia…hanya manusia…. manusiaaaaa….”

Dia menjauh…dengna sinar yang menyilaukan…menjauh dan menghilang….

“aku…aku…aku berbicara dengan siapa….hai kau…kau Dimana….?

bingung….terpaku…diam…