Seribu Mill (Gangguan-Gangguan Kecil)
Tiga hari telah berlalu sejak Bagus menemukan buku catatan itu. Tiga hari sejak ia menyadari bahwa bayangannya tidak pernah bergerak bersamanya. Tiga hari sejak ia mulai mencatat setiap kejanggalan di sekitarnya, dan setiap catatan hanya semakin mengonfirmasi ketakutannya. Hari pertama, ia menulis, tetangga menyapaku dengan kalimat yang persis sama setiap pagi, selamat pagi, Bagus. Cuaca cerah, ya? Bahkan ketika hujan turun, mereka tetap berkata, cuaca cerah. Aku tidak tahu apakah mereka buta atau aku yang gila. Hari kedua, Laras memasak telur ceplok setiap sarapan. Bentuknya bulat sempurna, rasanya sama persis. Tidak pernah asin, tidak pernah hambar, selalu berada di titik tengah yang membosankan. Aku bertanya apakah dia bisa memasak telur dadar, dia tersenyum dan berkata, "Besok, sayang." Tapi besok tidak pernah datang. Hari ketiga, Arda terus menggambar figur bertopi. Aku bertanya siapa itu, dan dia menjawab, "Dia yang menjaga pintu." Aku bertanya pintu ...