Welas Asih adalah Pambrontakan
Tan hana dharma mangrwa. Tidak ada kebenaran yang bercabang dua yang bercabang hanyalah kepentingan manusia. Pada masa ketika kakuwasan dipercaya lahir dari pedang dan korban, lahirlah seorang pangeran. Ia putra raja, darahnya darah istana, nanging manah‑nya ora nate mapan ing singgasana. Sejak muda ia telah mendengar puja-puji tentang kuasa, kemenangan, dan kejayaan, tetapi di balik semua itu ia mendengar suara lainlirih, namun mengganggu: kenapa manusia harus melukai untuk diakui ada? Istana mengajarinya tata , upacara , dan legitimasi . Namun justru di sela-sela sunyi, Sang Pangeran menyadari satu hal: kekuasaan sering kali hanyalah ketakutan yang diberi nama luhur. Maka pada suatu malam, tanpa genta dan tanpa restu, ia meninggalkan istana. Mratapa ing wana , masuk ke hutan, tempat dunia tidak mengenal gelar. Di hutan, Sang Pangeran bertemu apa yang ditakuti manusia: singa lapar, gajah ngamuk, raksasa pemakan daging. Tetapi ia tidak membawa senjata. Ia hanya m...