Seribu Mill (Bayangan yang Berbisik)
Malam setelah pertemuannya dengan dirinya sendiri, Bagus tidak bisa tidur, bukan karena ia tidak lelah, ia sangat lelah, lelah seperti seseorang yang telah membawa beban selama bertahun-tahun tanpa pernah beristirahat. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti berputar, seperti rekaman yang patah dan terus memutar bagian yang sama berulang kali. "Arda masih hidup. Ia menunggumu." Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, menembus dinding-dinding kesadaran yang selama ini ia bangun. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang sekarang terasa lebih tinggi dari sebelumnya, seolah-olah dinding-dinding itu tidak lagi menyusut, tetapi justru mulai menjauh, memberi ruang bagi sesuatu yang baru. Di sebelahnya, tempat tidur Laras kosong. Ia tidak tahu sejak kapan ia tidur sendirian. Mungkin sejak ia membuka pintu itu. Mungkin sejak Laras menghilang seperti kabut di pagi hari. Yang ia tahu, rumah itu kini terasa lebih sepi, lebih dingin, dan lebih sunyi. Tapi kesunyian...