Postingan

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (8)

  Batas yang Tidak Terlihat “Manusia tidak hancur saat melewati batas. Mereka hancur… saat tidak tahu bahwa batas itu ada.” Aku pernah percaya bahwa batas itu jelas. Bahwa ada garis tegas antara, berani dan ceroboh,kuat dan nekat,hidup dan… terlalu dekat dengan kehilangan. Tapi setelah semua yang terjadi,tulang yang patah,api yang pernah menyentuh kulit, gedung yang hampir runtuh di atas kepala,  aku mulai curiga. Jangan-jangan… batas itu tidak pernah benar-benar ada. Atau lebih buruk: batas itu ada,tapi tidak pernah terlihat sampai kita sudah melewatinya. Lucu, ya. Manusia diajarkan untuk “tahu batas.” Seolah-olah itu sesuatu yang bisa dipelajari seperti membaca peta. Padahal kenyataannya? Tidak ada peta. Yang ada hanya pengalaman…dan kadang, pengalaman itu datang dalam bentuk yang cukup mahal. Seperti tulang yang patah. Aku mencoba mengingat, di mana tepatnya aku melewati batas saat kejadian itu? Saat aku melihat anak elang jatuh? Saat aku...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (7)

  Bercanda dengan Takdir “Ada orang yang melawan takdir. Ada yang menerima. Dan ada yang… menggodanya sambil tertawa kecil.” Aku mulai curiga. Bukan pada hidup. Bukan pada hutan. Tapi pada sesuatu yang lebih abstrak, sesuatu yang orang suka sebut dengan nada serius: takdir. Karena jujur saja… hubungan kami ini mulai terasa seperti hubungan lama yang aneh. Ia menjatuhkanku. Aku bangkit. Ia melempar batu. Aku bilang, “kurang besar.” Ia mematahkan tulang. Aku menghitungnya… seperti koleksi. Enam belas. Kalau ini permainan, aku tidak tahu siapa yang sedang menang. Tapi satu hal pasti, kami berdua sama-sama tidak bosan. Aku membayangkan takdir itu duduk di suatu tempat, melihat ke arahku sambil berpikir: “yang ini… kenapa tidak kapok-kapok?” Dan jujur, aku juga punya pertanyaan yang sama. Kenapa aku tidak berhenti? Kenapa aku tetap masuk hutan, tetap mengambil risiko, tetap melakukan hal-hal yang secara logika… bisa dihindari? Jawabannya t...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (6)

  Humor “Sebagian orang sembuh dengan obat. Sebagian lagi… sembuh dengan tertawa di atas hal yang seharusnya tidak lucu.” Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai tertawa pada hal-hal yang “tidak pantas ditertawakan.” Mungkin saat tulang pertama patah. Atau saat yang kedua. Atau mungkin setelah jumlahnya terlalu banyak… sampai otak berhenti menganggapnya sebagai kejadian luar biasa. Empat belas… lalu enam belas. Kalau ini koleksi, mungkin aku sudah layak buka museum kecil. Tiket masuk gratis, bonus cerita “ini patah karena apa.” Lucu, ya. Orang lain mengoleksi pengalaman indah. Aku mengoleksi cara tubuhku gagal bekerja sesuai rencana. Dan anehnya… aku baik-baik saja. Atau setidaknya… aku terlihat baik-baik saja. Karena di balik semua itu, ada satu hal yang selalu menyelamatkanku: humor. Bukan humor yang ringan. Bukan yang membuat semua orang nyaman. Ini jenis humor yang kadang membuat orang lain terdiam… lalu bertanya dalam hati: “dia serius… at...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (5)

  “Tidak semua pertempuran butuh musuh. Sebagian hanya butuh waktu… dan tempat yang terlalu sepi untuk bersembunyi.” Rumah sakit itu aneh. Ia penuh manusia… tapi terasa sepi. Ada suara langkah kaki. Ada percakapan pelan. Ada alat yang berbunyi seolah ingin mengingatkan bahwa hidup masih berjalan. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih dominan: diam. Bukan diam yang menenangkan seperti di hutan. Bukan diam yang penuh kehidupan seperti saat kamu berhenti sejenak dan mendengar angin menyusup di antara daun. Ini diam yang berbeda. Diam yang memaksa kamu bertemu dengan dirimu sendiri… tanpa distraksi. Di hutan, aku tidak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada sesuatu yang bergerak. Selalu ada sesuatu yang bisa diamati. Di sini? Langit-langit putih. Infus di tangan. Waktu yang berjalan lambat seperti sengaja ingin menguji kesabaran. Dan yang paling mengganggu bukan rasa sakit. Tapi… kebosanan. Lucu, ya. Manusia bisa bertahan dari gempa. B...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (4)

  Patah Lagi “Manusia membangun gedung untuk merasa aman. Lalu hujan datang… dan mengingatkan bahwa bahkan atap pun bisa lupa caranya melindungi.” Aku tidak tahu harus menyebut ini nasib buruk… atau rutinitas. Jatuh di hutan, tertimpa batu, tulang patah, dan yang keluar dari mulutku hanya: “ya… patah lagi.” Seolah-olah tubuh ini bukan lagi sesuatu yang harus dijaga utuh, tapi semacam proyek konstruksi jangka panjang yang terus diperbaiki. Lucunya, kali ini aku tidak sedang melakukan sesuatu yang sembrono. Tidak mengejar sesuatu. Tidak terburu-buru. Aku hanya… membantu. Seekor anak elang yang jatuh dari sarangnya. Makhluk kecil yang bahkan belum tahu bagaimana cara menggunakan langit. Ironis, ya. Aku berusaha mengembalikannya ke tempat tertinggi, dan justru berakhir di titik terendah: terbaring, tidak bisa berjalan, menatap langit-langit yang tidak bergerak. Rumah sakit. Tempat manusia memperbaiki tubuhnya. Tempat yang seharusnya menjadi simbol keama...

Iblis Kehilangan Pekerjaan ?

 Malam itu aku duduk di teras rumah dengan secangkir kopi pahit yang masih mengepulkan aroma tipis ke udara. Angin dari arah hutan datang perlahan, menggesek dedaunan seperti seseorang yang sedang memainkan alat musik tanpa ingin didengar siapa pun. Di kejauhan terdengar suara jangkrik yang entah sejak kapan menjadi penjaga malam paling setia di dunia. Musang gemuk peliharaanku sedang sibuk mengunyah pepaya matang yang tadi sore jatuh dari pohon. Wajahnya terlihat damai. Terlalu damai untuk makhluk yang hidup di planet yang sama dengan manusia. Di sampingku duduk sesosok iblis tua. Tanduknya besar. Taringnya panjang. Matanya merah seperti bara api yang tidak pernah padam. Namun malam itu ia tampak murung. Sangat murung. Aku menyeruput kopi dan memandangnya sejenak. Sudah lama aku mengenalnya. Lebih lama daripada sebagian besar janji politik yang pernah diucapkan manusia. Biasanya ia selalu datang dengan cerita-cerita lucu tentang betapa mudahnya menggoda manusia. Namun malam...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (3)

Hutan Tidak Pernah Aman “Di hutan, tidak ada yang benar-benar ingin membunuhmu. Tapi tidak ada juga yang peduli jika kamu mati.” Hutan tidak berteriak seperti gempa. Tidak mengaum seperti api. Ia diam. Dan justru karena diam… banyak orang salah mengira bahwa ia aman. Daun bergerak pelan. Cahaya matahari jatuh lembut di tanah. Suara serangga seperti musik latar yang menenangkan. Semuanya terlihat seperti kehidupan yang harmonis. Padahal itu hanya permukaan. Di balik itu, hutan adalah sistem yang tidak pernah berhenti bekerja. Setiap langkah yang kamu ambil di dalamnya adalah negosiasi dengan tanah, dengan cuaca, dengan makhluk lain yang tidak selalu ingin terlihat. Aku tidak pernah menganggap hutan sebagai musuh. Tapi aku juga tidak pernah cukup bodoh untuk menganggapnya sebagai teman. Ia netral. Dan netralitas itu… bisa membunuh. Batu yang kamu injak tidak peduli apakah kamu lelah. Akar pohon tidak peduli apakah kamu sedang terburu-buru. Tanah yang licin...