Sebuah taman ( Cukup Buka Pintu)
Rumah singgah itu tidak dilahirkan oleh rencana yang terstruktur rapi, melainkan oleh sebuah kesadaran yang tumbuh perlahan dan pada akhirnya tidak bisa lagi diabaikan kesadaran bahwa taman yang selama ini menjadi ruang pertemuan dan perbincangan, tempat di mana kata-kata dipertukarkan dan pemahaman dibangun, ternyata tidak cukup untuk menampung segala hal yang harus ditampung, karena ada luka-luka yang terlalu berat untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing, ada anak-anak yang tidak sekadar membutuhkan telinga yang mendengar, tetapi juga tempat di mana mereka bisa membisu tanpa rasa takut, tanpa perlu menjelaskan, tanpa perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dan dari situlah gagasan itu mulai merambat, sebuah tempat yang bukan sekadar ruang diskusi atau pertemuan biasa, tetapi lebih dari itu, ruang tinggal yang sungguh-sungguh bukan panti yang dipenuhi aturan dan prosedur, bukan institusi dengan formulir dan administrasi, tetapi rumah dengan segala ketidaksempurnaannya y...