Seribu mill (Prolog)
Prolog Di ruang yang dingin dan berbau formalin, ada kantung mayat bernomor 7. Di dalamnya, Dia terbaring dengan mata yang tidak bisa ia tutup rapat-rapat. Tubuhnya kaku, tetapi pikirannya bergerak cepat, melompat-lompat antara kenangan yang tampak asing dan mimpi yang terasa nyata. Ia tidak ingat kapan ia mati. Ia tidak ingat bagaimana ia sampai di sini. Yang ia ingat hanyalah bisikan, bisikan yang terus berulang, seperti mantra yang dipaksakan masuk ke dalam kepalanya. "Kau bukan siapa-siapa," suara itu berbisik. "Kau hanya sketsa yang lupa bahwa ia tidak pernah diwarnai." Dia mencoba menggerakkan jarinya. Tidak ada respons. Tubuhnya seakan-akan bukan miliknya lagi, seperti baju yang terlalu longgar dan tidak pernah pas. Di luar kantung, ada suara orang berbicara dengan nada pelan, profesional, dan tanpa emosi. Suara dokter, mungkin, atau perawat. Mereka tidak tahu bahwa ada tubuh yang masih mendengar. Mereka tidak tahu bahwa di balik kantung plastik itu,...