Seribu Mill (Emosi)
Setelah melewati kaca, Bagus tidak menemui masa lalunya, ia menemui ruang yang sama sekali berbeda. Ruang itu terasa seperti kekosongan yang berwujud, seperti sebuah ruangan yang tidak memiliki dinding, tetapi tetap terasa sempit. Udara di sekelilingnya dingin, lembap, dan seperti menekan dari segala arah. Tidak ada monitor, tidak ada suara, tidak ada Arda, tidak ada Laras. Hanya ia dan ruang kosong yang terus menyusut seperti dinding yang merapat. Ia berjalan beberapa langkah, tetapi tidak ada yang berubah, ia tetap berada di tengah ruang kosong, tidak bisa menentukan kapan tubuhnya berhenti. Kakinya menginjak sesuatu yang terasa seperti tanah, tetapi terlalu licin dan terlalu halus, seperti permukaan kaca yang tidak pernah tampak. "Aku di sini!" teriaknya. Suaranya tidak bergema, tidak juga teredam. Ia seperti terperangkap di dalam ruangan yang menelan semua suara tanpa peduli. "Aku sudah melewati tahap pertama! Aku sudah mengakui ilusi! Aku sudah melepaskan rumah,...