Postingan

Seribu Mill (Emosi)

Setelah melewati kaca, Bagus tidak menemui masa lalunya, ia menemui ruang yang sama sekali berbeda. Ruang itu terasa seperti kekosongan yang berwujud, seperti sebuah ruangan yang tidak memiliki dinding, tetapi tetap terasa sempit. Udara di sekelilingnya dingin, lembap, dan seperti menekan dari segala arah. Tidak ada monitor, tidak ada suara, tidak ada Arda, tidak ada Laras. Hanya ia dan ruang kosong yang terus menyusut seperti dinding yang merapat. Ia berjalan beberapa langkah, tetapi tidak ada yang berubah, ia tetap berada di tengah ruang kosong, tidak bisa menentukan kapan tubuhnya berhenti. Kakinya menginjak sesuatu yang terasa seperti tanah, tetapi terlalu licin dan terlalu halus, seperti permukaan kaca yang tidak pernah tampak. "Aku di sini!" teriaknya. Suaranya tidak bergema, tidak juga teredam. Ia seperti terperangkap di dalam ruangan yang menelan semua suara tanpa peduli. "Aku sudah melewati tahap pertama! Aku sudah mengakui ilusi! Aku sudah melepaskan rumah,...

Seribu Mill (Delusi)

Bagus beriri, diam. Napasnya masih tersengal, tubuhnya masih bergetar oleh keputusan yang telah ia ambil,   melepaskan ilusi rumah, melepaskan Laras, melepaskan kehidupan palsu yang selama ini ia bangun. Ia berdiri di ruang transisi, menatap layar yang menampilkan kata-kata berat tentang tahap kedua,tahap yang akan memaksanya menghadapi rasa bersalah yang selama ini ia kubur. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, layar di depannya tiba-tiba berubah. Tidak lagi menampilkan instruksi untuk tahap kedua. Yang muncul adalah gambar ruang kosong, ruang yang sangat ia kenal. Kamar Arda. Tetapi kamar itu kosong. Tidak ada krayon berserakan di lantai. Tidak ada gambar figur bertopi yang menempel di dinding. Tidak ada suara tawa kecil yang biasanya mengisi ruangan itu. Hanya tempat tidur yang rapih, lemari yang tertutup, dan jendela yang memperlihatkan langit abu-abu yang tidak pernah berubah. Bagus merasakan dadanya sesak. "Tidak... ini salah. Ini bukan kamarnya." Tap...

Seribu Mill (Semu)

  Pintu itu membawanya bukan ke dunia nyata, tetapi ke sebuah ruangan transisi. Dingin. Sunyi. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca buram yang memantulkan bayangannya sendiri dalam lipatan tak berujung, seperti galeri cermin yang dirancang untuk membuat siapa pun kehilangan orientasi. Di tengah ruangan, sebuah layar mengambang menampilkan deretan angka, TAHAP 1, ILUSI " Lepaskan." Bagus berdiri di hadapan layar itu, tubuhnya masih gemetar oleh pertemuannya dengan Laras. Ia telah menangis, ia telah berteriak, ia telah memecahkan cermin dan monitor. Tapi sekarang, ia dihadapkan pada sesuatu yang lebih sulit dari sekadar menghancurkan benda-benda: ia harus menghancurkan keyakinannya sendiri. Dari balik kaca buram, suara-suara mulai muncul. Suara-suara yang familiar. Suara Laras memanggil namanya dengan lembut. Suara Arda tertawa di kejauhan. Suara ibunya yang sudah lama meninggal,   memintanya pulang untuk makan malam. Semua suara itu lembut, hangat, menggoda, seperti ta...

Seribu Mill (Dejavu)

  Bagus terbangun di ruangan yang sama, tetapi semuanya telah berubah. Monitor-monitor yang pecah kini bergantian dengan layar-layar hitam yang tidak lagi memancarkan cahaya. Kabel-kabel yang terputus menjalar di lantai seperti ular yang mati. Dan di tengah ruangan yang sunyi itu, Laras berdiri. Tapi bukan Laras yang ia kenal. Wajahnya masih sama, rambutnya masih sama, bahkan senyumnya masih tersungging tipis di bibir. Namun, matanya berbeda. Tidak ada kehangatan di sana, tidak ada cinta, tidak ada kepedulian. Matanya kosong, seperti mata boneka yang terlalu lama dipajang di etalase toko, menunggu seseorang membelinya tetapi tidak pernah dihargai. "Kau berhasil sampai ke sini," kata Laras. Suaranya datar, tanpa getaran emosi, seperti rekaman yang diputar dengan kecepatan stabil. "Aku tidak menyangka kau akan sejauh ini." Bagus berdiri perlahan, tubuhnya terasa lelah dan berat. "Laras... apa yang terjadi padamu?" Laras di hadapan Bagus itu hanya d...

Seribu Mill (Dunia nyata ?)

Bagus tidak ingat persis kapan lorong itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Satu saat ia masih berdiri di hadapan pintu besi tua dengan gagang berbentuk tengkorak, dan saat berikutnya ia berada di sebuah ruangan yang sama sekali berbeda, ruangan yang tidak mungkin ada di rumahnya, di lorongnya, atau bahkan di dalam bayang-bayang yang ia kunjungi sebelumnya. Ruangan itu luas, gelap, dan dipenuhi dengan deretan monitor yang berkedip-kedip dengan cahaya Arda pucat. Dinding-dindingnya tidak terbuat dari batu bata atau kayu, melainkan dari panel-panel logam dingin yang terhubung dengan kabel-kabel tebal yang menjalar di lantai seperti urat nadi raksasa. Udara di sini terasa berbeda, lebih kering, lebih steril, seperti udara di ruang operasi atau laboratorium yang tidak pernah dimasuki manusia biasa. Bagus berdiri di tengah ruangan itu, memutar tubuhnya perlahan, mencoba mencerna apa yang ia lihat. Setiap monitor menampilkan gambar yang berbeda, dapur rumahnya, kamar tidurnya, ruang tam...

Seribu Mill (Bayangan yang Berbisik)

Malam setelah pertemuannya dengan dirinya sendiri, Bagus tidak bisa tidur, bukan karena ia tidak lelah, ia sangat lelah, lelah seperti seseorang yang telah membawa beban selama bertahun-tahun tanpa pernah beristirahat. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti berputar, seperti rekaman yang patah dan terus memutar bagian yang sama berulang kali. "Arda masih hidup. Ia menunggumu." Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, menembus dinding-dinding kesadaran yang selama ini ia bangun. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang sekarang terasa lebih tinggi dari sebelumnya, seolah-olah dinding-dinding itu tidak lagi menyusut, tetapi justru mulai menjauh, memberi ruang bagi sesuatu yang baru. Di sebelahnya, tempat tidur Laras kosong. Ia tidak tahu sejak kapan ia tidur sendirian. Mungkin sejak ia membuka pintu itu. Mungkin sejak Laras menghilang seperti kabut di pagi hari. Yang ia tahu, rumah itu kini terasa lebih sepi, lebih dingin, dan lebih sunyi. Tapi kesunyian...

Seribu Mill (Dinding yang Menyusut)

  Tiga malam telah berlalu sejak Bagus berdiri di hadapan pintu kayu berukir itu, dan setiap malam ia kembali ke lorong yang sama, berdiri di depan pintu yang sama, dengan tangan yang tetap menggantung di udara,tidak berani membuka, tidak mampu berpaling. Pintu itu tidak pernah hilang, tidak pernah berubah. Ia hanya menunggu, seperti jurang yang sabar menanti jatuhnya seseorang. Tapi malam ini, ada yang berbeda. Bagus terbangun bukan karena bisikan, bukan karena mimpi buruk, tetapi karena ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sesak. Bukan sesak di dada, tetapi sesak di seluruh ruangan. Dinding-dinding kamarnya seakan merapat, mendekat perlahan, seperti paru-paru yang kehilangan udara. Ia duduk di tepi tempat tidur, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa langit-langit kamarnya lebih rendah dari yang ia ingat. Plafon putih yang dulu mulus kini terasa seperti menekan kepalanya dari atas, dan dinding-dinding di sekelilingnya tampak lebih dekat, lebih se...

Seribu Mill (Dunia yang Terlalu Teratur)

Di Pagi yang Lain. Bagus mulai menyadari bahwa kejanggalan tidak hanya terjadi di dalam rumahnya, tetapi juga merembes ke luar,ke jalanan, ke pasar, ke setiap sudut yang ia kunjungi. Dunia di luar rumahnya bukanlah dunia yang ia kenal, melainkan replika yang terlalu sempurna, terlalu teratur, dan terlalu mati. Hari kelima sejak ia menemukan buku catatan itu, Bagus memutuskan untuk berjalan lebih jauh dari biasanya. Ia ingin melihat apakah ada sesuatu yang berbeda di luar lingkungan tempat tinggalnya, sesuatu yang bisa mematahkan ilusi bahwa semuanya hanya berputar di sekitar rumahnya. Ia melangkah melewati gerbang perumahan, melewati pos keamanan yang dijaga oleh seorang satpam yang selalu tersenyum dengan gigi yang terlalu putih dan seragam yang terlalu rapi. "Selamat pagi, Pak Bagus," sapa satpam itu, dengan nada yang sama persis setiap hari. "Cuaca cerah, ya? Hari yang baik untuk berjalan-jalan." Bagus mengangguk tanpa menjawab. Ia sudah bosan mendengar k...