Seribu Mill (Dejavu)
Bagus terbangun di ruangan yang sama, tetapi semuanya telah berubah. Monitor-monitor yang pecah kini bergantian dengan layar-layar hitam yang tidak lagi memancarkan cahaya. Kabel-kabel yang terputus menjalar di lantai seperti ular yang mati. Dan di tengah ruangan yang sunyi itu, Laras berdiri. Tapi bukan Laras yang ia kenal. Wajahnya masih sama, rambutnya masih sama, bahkan senyumnya masih tersungging tipis di bibir. Namun, matanya berbeda. Tidak ada kehangatan di sana, tidak ada cinta, tidak ada kepedulian. Matanya kosong, seperti mata boneka yang terlalu lama dipajang di etalase toko, menunggu seseorang membelinya tetapi tidak pernah dihargai. "Kau berhasil sampai ke sini," kata Laras. Suaranya datar, tanpa getaran emosi, seperti rekaman yang diputar dengan kecepatan stabil. "Aku tidak menyangka kau akan sejauh ini." Bagus berdiri perlahan, tubuhnya terasa lelah dan berat. "Laras... apa yang terjadi padamu?" Laras di hadapan Bagus itu hanya d...