YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (2)
Kamar dan putus asa Aku menemukannya. Kecil. Terjebak di sudut ruang yang mulai dipenuhi asap. Dan di situlah aku melihat sesuatu yang lebih menakutkan dari api itu sendiri. Ketakutan yang membekukan. Dia tidak berlari. Tidak mencari jalan keluar. Tubuhnya diam… tapi suaranya pecah. Teriakan histeris. Bukan sekadar takut, itu suara putus asa yang sudah sampai di ujungnya. Matanya tidak fokus. Seperti tidak lagi melihat jalan keluar hanya melihat akhir. Manusia sering berpikir bahaya itu datang dari luar, api, runtuhan, atau ketinggian. Padahal sering kali, bahaya terbesar adalah saat pikiran berhenti bekerja. Saat harapan padam lebih dulu daripada keadaan. Aku berdiri di depannya. Tidak ada waktu untuk kata-kata panjang. Tidak ada ruang untuk menenangkan dengan cara yang lembut. Karena aku tahu…. kalau aku salah satu detik saja, api tidak akan memberi kesempatan kedua. Aku tidak mencoba “menenangkan” dia. Aku mengambil keputusan. Langsung. ...