Seribu Mill (Delusi)
Bagus beriri, diam. Napasnya masih tersengal, tubuhnya masih bergetar oleh keputusan yang telah ia ambil, melepaskan ilusi rumah, melepaskan Laras, melepaskan kehidupan palsu yang selama ini ia bangun. Ia berdiri di ruang transisi, menatap layar yang menampilkan kata-kata berat tentang tahap kedua,tahap yang akan memaksanya menghadapi rasa bersalah yang selama ini ia kubur. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, layar di depannya tiba-tiba berubah. Tidak lagi menampilkan instruksi untuk tahap kedua. Yang muncul adalah gambar ruang kosong, ruang yang sangat ia kenal. Kamar Arda. Tetapi kamar itu kosong. Tidak ada krayon berserakan di lantai. Tidak ada gambar figur bertopi yang menempel di dinding. Tidak ada suara tawa kecil yang biasanya mengisi ruangan itu. Hanya tempat tidur yang rapih, lemari yang tertutup, dan jendela yang memperlihatkan langit abu-abu yang tidak pernah berubah. Bagus merasakan dadanya sesak. "Tidak... ini salah. Ini bukan kamarnya." T...