Seribu Mill (Dunia nyata ?)
Bagus tidak ingat persis kapan lorong itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Satu saat ia masih berdiri di hadapan pintu besi tua dengan gagang berbentuk tengkorak, dan saat berikutnya ia berada di sebuah ruangan yang sama sekali berbeda, ruangan yang tidak mungkin ada di rumahnya, di lorongnya, atau bahkan di dalam bayang-bayang yang ia kunjungi sebelumnya. Ruangan itu luas, gelap, dan dipenuhi dengan deretan monitor yang berkedip-kedip dengan cahaya Arda pucat. Dinding-dindingnya tidak terbuat dari batu bata atau kayu, melainkan dari panel-panel logam dingin yang terhubung dengan kabel-kabel tebal yang menjalar di lantai seperti urat nadi raksasa. Udara di sini terasa berbeda, lebih kering, lebih steril, seperti udara di ruang operasi atau laboratorium yang tidak pernah dimasuki manusia biasa. Bagus berdiri di tengah ruangan itu, memutar tubuhnya perlahan, mencoba mencerna apa yang ia lihat. Setiap monitor menampilkan gambar yang berbeda, dapur rumahnya, kamar tidurnya, ruang tam...