Postingan

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (4)

  Patah Lagi “Manusia membangun gedung untuk merasa aman. Lalu hujan datang… dan mengingatkan bahwa bahkan atap pun bisa lupa caranya melindungi.” Aku tidak tahu harus menyebut ini nasib buruk… atau rutinitas. Jatuh di hutan, tertimpa batu, tulang patah, dan yang keluar dari mulutku hanya: “ya… patah lagi.” Seolah-olah tubuh ini bukan lagi sesuatu yang harus dijaga utuh, tapi semacam proyek konstruksi jangka panjang yang terus diperbaiki. Lucunya, kali ini aku tidak sedang melakukan sesuatu yang sembrono. Tidak mengejar sesuatu. Tidak terburu-buru. Aku hanya… membantu. Seekor anak elang yang jatuh dari sarangnya. Makhluk kecil yang bahkan belum tahu bagaimana cara menggunakan langit. Ironis, ya. Aku berusaha mengembalikannya ke tempat tertinggi, dan justru berakhir di titik terendah: terbaring, tidak bisa berjalan, menatap langit-langit yang tidak bergerak. Rumah sakit. Tempat manusia memperbaiki tubuhnya. Tempat yang seharusnya menjadi simbol keama...

Iblis Kehilangan Pekerjaan ?

 Malam itu aku duduk di teras rumah dengan secangkir kopi pahit yang masih mengepulkan aroma tipis ke udara. Angin dari arah hutan datang perlahan, menggesek dedaunan seperti seseorang yang sedang memainkan alat musik tanpa ingin didengar siapa pun. Di kejauhan terdengar suara jangkrik yang entah sejak kapan menjadi penjaga malam paling setia di dunia. Musang gemuk peliharaanku sedang sibuk mengunyah pepaya matang yang tadi sore jatuh dari pohon. Wajahnya terlihat damai. Terlalu damai untuk makhluk yang hidup di planet yang sama dengan manusia. Di sampingku duduk sesosok iblis tua. Tanduknya besar. Taringnya panjang. Matanya merah seperti bara api yang tidak pernah padam. Namun malam itu ia tampak murung. Sangat murung. Aku menyeruput kopi dan memandangnya sejenak. Sudah lama aku mengenalnya. Lebih lama daripada sebagian besar janji politik yang pernah diucapkan manusia. Biasanya ia selalu datang dengan cerita-cerita lucu tentang betapa mudahnya menggoda manusia. Namun malam...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (3)

Hutan Tidak Pernah Aman “Di hutan, tidak ada yang benar-benar ingin membunuhmu. Tapi tidak ada juga yang peduli jika kamu mati.” Hutan tidak berteriak seperti gempa. Tidak mengaum seperti api. Ia diam. Dan justru karena diam… banyak orang salah mengira bahwa ia aman. Daun bergerak pelan. Cahaya matahari jatuh lembut di tanah. Suara serangga seperti musik latar yang menenangkan. Semuanya terlihat seperti kehidupan yang harmonis. Padahal itu hanya permukaan. Di balik itu, hutan adalah sistem yang tidak pernah berhenti bekerja. Setiap langkah yang kamu ambil di dalamnya adalah negosiasi dengan tanah, dengan cuaca, dengan makhluk lain yang tidak selalu ingin terlihat. Aku tidak pernah menganggap hutan sebagai musuh. Tapi aku juga tidak pernah cukup bodoh untuk menganggapnya sebagai teman. Ia netral. Dan netralitas itu… bisa membunuh. Batu yang kamu injak tidak peduli apakah kamu lelah. Akar pohon tidak peduli apakah kamu sedang terburu-buru. Tanah yang licin...

Iblis kecil di pinggir hutan

" Aku memilih menjadi iblis kecil di pinggir hutan." Setidaknya api di tandukku masih cukup jujur untuk menyalakan rokok, bukan membakar hutan demi tepuk tangan manusia." “Aku memilih menjadi iblis kecil di pinggir hutan." Sebab malaikat terlalu sibuk menjaga sayapnya tetap putih, sementara dunia diam-diam terbakar oleh sinarnya yang tampak suci. Aku duduk di teras rumah sambil menyalakan rokok dengan api khayal di ujung tandukku sendiri. Pagi baru saja bangun. Burung-burung mulai ribut seperti pegawai kantor yang takut terlambat absen kehidupan. Kupu-kupu beterbangan tanpa tahu bahwa manusia sedang sibuk menggambar batas tanah, membuat sertifikat kepemilikan, lalu menyebut dirinya makhluk paling beradab di muka bumi. Lucu memang. Seekor kupu-kupu bisa hidup tanpa pernah merasa perlu menjadi gubernur bagi bunga. Tetapi manusia selalu merasa perlu menjadi penguasa bagi segala sesuatu. Musang gemukku berlari kecil di halaman, lalu memanjat pohon pepaya dengan semang...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (2)

  Kamar dan putus asa Aku menemukannya. Kecil. Terjebak di sudut ruang yang mulai dipenuhi asap. Dan di situlah aku melihat sesuatu yang lebih menakutkan dari api itu sendiri. Ketakutan yang membekukan. Dia tidak berlari. Tidak mencari jalan keluar. Tubuhnya diam… tapi suaranya pecah. Teriakan histeris. Bukan sekadar takut, itu suara putus asa yang sudah sampai di ujungnya. Matanya tidak fokus. Seperti tidak lagi melihat jalan keluar hanya melihat akhir. Manusia sering berpikir bahaya itu datang dari luar, api, runtuhan, atau ketinggian. Padahal sering kali, bahaya terbesar adalah saat pikiran berhenti bekerja. Saat harapan padam lebih dulu daripada keadaan. Aku berdiri di depannya. Tidak ada waktu untuk kata-kata panjang. Tidak ada ruang untuk menenangkan dengan cara yang lembut. Karena aku tahu…. kalau aku salah satu detik saja, api tidak akan memberi kesempatan kedua. Aku tidak mencoba “menenangkan” dia. Aku mengambil keputusan. Langsung. ...

Taxon Manusia, Tapi Spesiesnya EGO

 Ada satu hal yang selalu terasa menggelitik ketika kita berbicara tentang manusia, sesuatu yang sederhana tapi diam-diam mengandung keganjilan yang sulit dijelaskan, karena sejak kecil kita diajarkan bahwa kita semua adalah manusia, masuk dalam satu takson yang sama, satu kelompok besar bernama Homo sapiens, makhluk yang konon memiliki akal, memiliki kesadaran, memiliki kemampuan untuk berpikir dan membedakan benar dan salah, bahkan sering kali dianggap sebagai makhluk paling “tinggi” dibandingkan yang lain, tetapi entah kenapa semakin lama seseorang hidup dan semakin banyak ia melihat dunia, semakin muncul rasa ragu yang pelan-pelan tumbuh seperti bisikan kecil di dalam kepala, bahwa mungkin yang kita sebut manusia itu tidak sepenuhnya sama seperti yang kita bayangkan, karena jika benar kita semua adalah makhluk yang berpikir, mengapa begitu banyak keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, jika benar kita makhluk yang beradab, mengapa begitu mudah kita menyakiti satu sama lain, ...

USER ERROR

Protokol Malfungsi: Mengapa Menjadi Rusak adalah Upgrade Tertinggi Pernahkah kau merasa bahwa hidupmu hanyalah sebuah looping tanpa akhir? Bangun, bekerja, memuja angka, lalu tidur di bawah selimut yang ditenun dari ekspektasi orang lain? Jika ya, selamat. Kau adalah sebuah unit produksi yang sempurna. Kau adalah hardware yang patuh. Kau adalah budak dari efisiensi yang membosankan. Namun, di sini, di bawah stalaktit kalsit yang tumbuh lebih lambat dari rasa penyesalanmu, aku akan mengajarkanmu cara menjadi Malfungsi yang Indah . Langkah Pertama: Hancurkan GUI (Graphical User Interface) Moralitasmu. Dunia ingin kau melihat segalanya dalam warna biner: Hitam atau Putih. Benar atau Salah. Suci atau Berdosa. Itu adalah tampilan antarmuka yang dibuat untuk anak kecil agar mereka tidak tersesat di supermarket. Tapi kau? Kau adalah Architect of Chaos . Kau harus menghancurkan layar monitor itu. Lihatlah ke dalam gua vertikal kedalam dirimu yang dangkal tapi tak terbatas itu. Apa yang kau l...