Seribu Mill (Rumah yang Terlalu Sempurna)
Bagus terbangun dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan mimpi buruk, bukan suara berisik, hanya sensasi samar seperti ada sesuatu yang salah di dalam sarang laba-laba realitasnya. Matanya membuka dengan perlahan, dan untuk sesaat, ia melihat langit-langit yang familiar namun terasa asing. Plafon putih mulus, tidak ada retakan, tidak ada noda, tidak ada jejak waktu yang merayap. Rumah itu baru, tetapi ia tidak ingat kapan membelinya, kapan memilih cat dinding berwarna krem lembut yang sekarang menyelimuti setiap sudut. Di sebelahnya, Laras masih tertidur dengan posisi sempurna, tangan di atas bantal, rambut hitam panjangnya terurai seperti air terjun yang membeku, dan bibirnya membentuk senyum samar yang tidak pernah berubah. Bagus menatapnya terlalu lama, berusaha mengingat kapan terakhir kali ia melihat istrinya mengerutkan dahi atau bergerak gelisah dalam tidur. Tidak ada. Laras selalu tidur seperti patung, cantik dan tak bergerak, seperti boneka porselen yang takut...