YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (4)
Patah Lagi “Manusia membangun gedung untuk merasa aman. Lalu hujan datang… dan mengingatkan bahwa bahkan atap pun bisa lupa caranya melindungi.” Aku tidak tahu harus menyebut ini nasib buruk… atau rutinitas. Jatuh di hutan, tertimpa batu, tulang patah, dan yang keluar dari mulutku hanya: “ya… patah lagi.” Seolah-olah tubuh ini bukan lagi sesuatu yang harus dijaga utuh, tapi semacam proyek konstruksi jangka panjang yang terus diperbaiki. Lucunya, kali ini aku tidak sedang melakukan sesuatu yang sembrono. Tidak mengejar sesuatu. Tidak terburu-buru. Aku hanya… membantu. Seekor anak elang yang jatuh dari sarangnya. Makhluk kecil yang bahkan belum tahu bagaimana cara menggunakan langit. Ironis, ya. Aku berusaha mengembalikannya ke tempat tertinggi, dan justru berakhir di titik terendah: terbaring, tidak bisa berjalan, menatap langit-langit yang tidak bergerak. Rumah sakit. Tempat manusia memperbaiki tubuhnya. Tempat yang seharusnya menjadi simbol keama...