YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (1)
Rumah yang Ditahan “Tidak semua orang lari saat dunia runtuh. Sebagian memilih berdiri… meski tahu mereka bisa ikut hancur.” Pagi itu tidak punya firasat apa-apa. Tidak ada langit gelap. Tidak ada angin aneh. Dunia berjalan seperti biasa,tenang, wajar, bisa diprediksi. Lalu tanah bergerak. Bukan seperti getaran kecil yang bisa diabaikan. Ini berbeda. Ini seperti sesuatu di bawah sana yang selama ini diam, tiba-tiba memutuskan untuk berbicara dengan cara yang kasar. Mei 2006. Hari ketika banyak orang belajar bahwa rumah bukan selalu tempat paling aman. Di kota ini, di semua wilayah kota, pagi itu berubah menjadi suara runtuh, debu, dan teriakan yang tidak sempat diselesaikan. Aku tidak punya waktu untuk menganalisis. Tidak ada ruang untuk berpikir panjang. Yang ada hanya satu hal: istriku. Dan anakku… yang bahkan belum lahir. Kerangka rumah mulai kehilangan logikanya. Kayu dan genteng tidak lagi mengikuti hukum yang biasa. Segalanya bergerak tanpa izin. Di...