Etika Tanpa Penonton
"Yang paling berbahaya bukanlah kehilangan iman, melainkan kehilangan
keberanian untuk mencipta makna setelah iman itu runtuh."
Kita tumbuh dalam dunia yang mengajarkan kepatuhan jauh sebelum mengajarkan
keberanian. Bukan kepatuhan yang kasar, melainkan yang lembutdibalut etika,
dibungkus kebajikan, dan diberi nama kedewasaan. Kita diajar untuk menyesuaikan
diri, untuk tidak terlalu keras pada dunia, danyang paling pentinguntuk tidak
terlalu keras pada struktur yang menopang dunia itu sendiri. Sejak dini, hidup
dipresentasikan sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan ditafsirkan. Makna
telah disediakan, tujuan telah dirumuskan, dan peran telah dibagikan. Tugas
kita sederhana: menjalani dengan tertib. Pertanyaan-pertanyaan yang terlalu
dalam dianggap berbahaya, karena ia berpotensi merusak ketenangan kolektif.
Maka manusia yang baik adalah manusia yang tahu kapan harus berhenti berpikir.
Dalam lanskap seperti ini, kedewasaan tidak pernah benar-benar berarti
otonomi. Ia lebih menyerupai kemampuan untuk menginternalisasi aturan tanpa
perlu diawasi. Kita menjadi pengawas bagi diri sendiri, menghukum pikiran yang
menyimpang, dan merapikan kegelisahan agar tidak tampak sebagai ancaman.
Kebebasan, jika pun disebut, hadir sebagai konsep abstrakbukan sebagai
pengalaman yang sungguh-sungguh ditanggung.
Nietzsche pernah menyinggung bahwa manusia modern bukanlah makhluk yang
bebas, melainkan makhluk yang jinak. Kita tidak lagi diikat oleh rantai besi,
melainkan oleh nilai-nilai yang kita telan tanpa mengunyah. Nilai-nilai itu
terasa mulia karena diwariskan, terasa benar karena diterima bersama-sama.
Padahal, justru di sanalah bahayanya: nilai yang tidak pernah diuji akan
menuntut ketaatan tanpa tanggung jawab.Kritik terhadap nilai lama sering
disalahpahami sebagai kehendak untuk menghancurkan. Padahal, yang lebih tepat
adalah kehendak untuk menimbang ulang. Dunia berubah, tetapi peta makna sering
tertinggal. Kita masih menggunakan kompas lama untuk menavigasi realitas yang
telah bergeser. Ketika kompas itu gagal, kita tidak menyalahkannyakita justru
menyalahkan diri sendiri karena merasa tersesat.
Di sinilah pengalaman eksistensial mulai terasa pedih. Kesadaran bahwa tidak
ada jaminan makna di luar diri kita sendiri bukanlah kabar gembira. Ia datang
sebagai beban. Jika tidak ada pusat nilai yang mutlak, maka manusialah yang
harus mencipta dan menanggung nilai itu. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi
di balik sistem, tradisi, atau otoritas simbolik. Pilihan menjadi telanjang. Namun,
justru pada ketelanjangan itulah martabat manusia diuji. Bukan pada seberapa
patuh ia menjalani hidup, tetapi pada seberapa jujur ia mengakui kebingungan,
kecemasan, dan kehampaanlalu tetap memilih bertindak. Eksistensialisme tidak
menawarkan penghiburan; ia hanya menawarkan kejujuran radikal: bahwa hidup
tidak memiliki makna bawaan, dan justru karena itu ia menuntut penciptaan makna
yang sadar. Banyak orang lebih memilih kelelahan yang teratur daripada
kebebasan yang tak pasti. Lebih aman menjalani hidup sebagai pelaksana nilai
ketimbang sebagai pencipta nilai. Dalam kondisi ini, moralitas sering kali
berfungsi sebagai mekanisme stabilisasi, bukan sebagai hasil refleksi. Ia
menjaga keteraturan, tetapi kerap mengorbankan vitalitas. Kehidupan menjadi
benar, tetapi tidak lagi hidup.
Nietzsche menyebut kondisi ini sebagai nihilisme pasif: keadaan di mana
manusia tetap hidup, namun kehilangan daya untuk mengafirmasi kehidupan. Ia
patuh, ia sopan, ia bermoraltetapi tanpa gairah untuk mencipta. Nilai dijalani
sebagai kewajiban, bukan sebagai ekspresi kehendak. Dunia terasa hampa, tetapi
kehampaan itu ditutup rapi agar tidak perlu dihadapi. Eksistensialisme
menawarkan risiko yang berbeda: menghadapi kehampaan tanpa penutup. Tidak untuk
merayakannya, melainkan untuk melampauinya. Makna tidak ditemukan, tetapi
dibangun. Etika tidak diwariskan, tetapi dirumuskan ulang melalui kesadaran
akan konsekuensi. Tindakan menjadi berat, karena tidak ada alasan metafisik
yang bisa dijadikan kambing hitam.
Dalam kerangka ini, menjadi manusia dewasa berarti berani berkata: “Ini
pilihanku.” Bahkan ketika pilihan itu salah, bahkan ketika ia melukai. Tanggung
jawab tidak lagi bisa dialihkan ke sistem nilai yang abstrak. Manusia berdiri
sebagai subjek, bukan sekadar fungsi sosial. Dan itu menakutkan, karena
kesalahan tidak lagi bisa disucikan. Yang kelam bukanlah absennya makna
absolut, melainkan kenyataan bahwa sebagian besar dari kita enggan mencipta
makna sendiri. Kita lebih suka hidup dalam nilai yang sudah usang daripada
menanggung risiko kesepian intelektual. Kita menyebutnya stabilitas, padahal
sering kali itu hanyalah ketakutan yang terorganisasi.
Namun, sejarah bergerak justru oleh mereka yang berani merusak ketenangan
semu ini. Bukan karena mereka ingin menghancurkan, tetapi karena mereka tidak
tahan hidup dalam kebohongan yang rapi. Mereka menolak menjadi anak-anak yang
terus meminta petunjuk. Mereka menerima bahwa tidak ada peta finalhanya proses
menafsir yang terus berubah. Maka, kedewasaan sejati bukanlah kepatuhan yang
matang, melainkan keberanian eksistensial: berani hidup tanpa jaminan, berani
bertindak tanpa restu metafisik, dan berani mencipta nilai di tengah dunia yang
tidak menjanjikan apa-apa. Di titik ini, manusia tidak menjadi suciia menjadi
bertanggung jawab.
Dan mungkin, di sanalah kehidupan akhirnya layak dijalani. Bukan sebagai
penantian yang tertib, melainkan sebagai pergulatan yang jujur. Bukan sebagai
anak-anak yang menunggu makna diberikan, melainkan sebagai manusia yang, meski
rapuh dan ragu, tetap memilih untuk mencipta.
Komentar
Posting Komentar