Postingan

Menampilkan postingan dengan label #narasi

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (1)

Rumah yang Ditahan “Tidak semua orang lari saat dunia runtuh. Sebagian memilih berdiri… meski tahu mereka bisa ikut hancur.” Pagi itu tidak punya firasat apa-apa. Tidak ada langit gelap. Tidak ada angin aneh. Dunia berjalan seperti biasa,tenang, wajar, bisa diprediksi. Lalu tanah bergerak. Bukan seperti getaran kecil yang bisa diabaikan. Ini berbeda. Ini seperti sesuatu di bawah sana yang selama ini diam, tiba-tiba memutuskan untuk berbicara dengan cara yang kasar. Mei 2006. Hari ketika banyak orang belajar bahwa rumah bukan selalu tempat paling aman. Di kota ini, di semua wilayah kota, pagi itu berubah menjadi suara runtuh, debu, dan teriakan yang tidak sempat diselesaikan. Aku tidak punya waktu untuk menganalisis. Tidak ada ruang untuk berpikir panjang. Yang ada hanya satu hal: istriku. Dan anakku… yang bahkan belum lahir. Kerangka rumah mulai kehilangan logikanya. Kayu dan genteng tidak lagi mengikuti hukum yang biasa. Segalanya bergerak tanpa izin. Di...

Guru dengan Wajah Menyebalkan

  “Kesuksesan sering menipu, tetapi kegagalan hampir selalu jujur. Ia datang tanpa topeng, tanpa basa-basi, membawa kenyataan sekeras batu yang dilemparkan ke wajah kita.” Pertemuan Pertama dengan Guru yang Kejam Kegagalan adalah guru pertama yang kita temui begitu berani mencoba. Ia tidak pernah mengundang kita duduk di bangku sekolah, tetapi tiba-tiba saja sudah berdiri di depan kelas, menatap tajam, seakan berkata, “Belajar dariku, atau hancur olehku.” Sayangnya, tidak ada yang suka belajar dari guru yang satu ini. Wajahnya kusut, suaranya keras, metodenya penuh luka. Jika keberhasilan datang dengan senyuman manis dan tepukan hangat di bahu, maka kegagalan datang dengan cambuk di tangan. Ironisnya, justru guru yang paling dibenci inilah yang paling jujur. Kita sering membayangkan hidup sebagai jalan lurus menuju cita-cita. Namun, kenyataannya penuh lubang, jalan buntu, dan jurang yang tiba-tiba menganga. Dan di setiap tersandung, kegagalan sudah menunggu di sana. Ia me...