Welas Asih adalah Pambrontakan
Tan hana dharma mangrwa.
Tidak ada kebenaran yang bercabang dua yang bercabang hanyalah kepentingan
manusia.
Pada masa ketika kakuwasan dipercaya lahir dari pedang
dan korban, lahirlah seorang pangeran. Ia putra raja, darahnya darah istana,
nanging manah‑nya ora nate mapan ing singgasana. Sejak muda ia telah mendengar
puja-puji tentang kuasa, kemenangan, dan kejayaan, tetapi di balik semua itu ia
mendengar suara lainlirih, namun mengganggu: kenapa manusia harus melukai
untuk diakui ada?
Istana mengajarinya tata, upacara, dan legitimasi.
Namun justru di sela-sela sunyi, Sang Pangeran menyadari satu hal: kekuasaan
sering kali hanyalah ketakutan yang diberi nama luhur. Maka pada suatu malam,
tanpa genta dan tanpa restu, ia meninggalkan istana. Mratapa ing wana,
masuk ke hutan, tempat dunia tidak mengenal gelar.
Di hutan, Sang Pangeran bertemu apa
yang ditakuti manusia: singa lapar, gajah ngamuk, raksasa pemakan daging.
Tetapi ia tidak membawa senjata. Ia hanya membawa welas asih sesuatu yang dianggap lemah oleh dunia, tetapi justru
paling menggetarkan. Binatang buas itu tidak ditaklukkannya; ia ngadhep pada mereka sebagai sesama
makhluk yang sama-sama terikat oleh rasa lapar, takut, dan hidup.
Sementara itu, di dunia manusia, Raja menegakkan kekuasaannya
dengan sumpah berdarah. Demi kosmos, katanya. Demi dewa, katanya. Seratus raja
harus dikorbankan agar jagat tetap seimbang. Agama dadi alesan, kosmos dadi
tameng. Kekerasan diberi wajah suci.
Ketika nama Sang Pangeran sampai ke
telinga Purusada, ia melihat kesempatan. Seorang pertapa keturunan raja korban
terakhir yang sempurna. Sang Pangeran pun datang tanpa perlawanan. Ia
menyerahkan tubuhnya, bukan sebagai kalah, tetapi sebagai cermin.
Terikat di hadapan Purusada, Sang
Pangeran tidak memaki. Ia tidak memohon. Ia hanya berkata pelan:
Pedang terangkat. Nanging tangan
Purusada gemetar. Untuk pertama kalinya, kekuasaan merasa telanjang. Di
hadapannya berdiri seorang yang tidak takut mati, tidak ingin menang, dan tidak
ingin membalas. Di saat itu, Purusada sadar: yang ia sembah selama ini bukan
dewa, melainkan kekuasaan itu sendiri.
Kisah lama mengatakan Purusada
bertobat. Tetapi sesungguhnya yang terjadi lebih sunyi dan lebih kejam, kekerasan kehilangan pembenaran moralnya. Ia tidak dikalahkan oleh
senjata, tetapi oleh pertanyaan.
Sang Pangeran tidak naik tahta
dengan darah. Ia menjadi raja justru karena menolak menjadi penguasa seperti
yang diharapkan dunia. Dalam dirinya, kuasa berubah menjadi tanggung jawab, dan agama kembali
menjadi jalan pembebasan, bukan alat legitimasi.
Dari kisah inilah lahir kalimat yang
sering dihafal tetapi jarang ditanggung bebannya:
Bhinneka Tunggal Ika, tan hana
dharma mangrwa.
Ini bukan sekadar toleransi. Ini
adalah tuduhan halus: bahwa kebenaran tidak pernah membutuhkan kekerasan untuk
membuktikan dirinya.
Sang Pangeran mengajarkan bahwa
welas asih bukan jalan aman. Ia jalan sepi. Jalan yang membuatmu tampak lemah
di mata dunia, tetapi justru di situlah keberanian diuji. Menang ora tansah ateges
bener; lan bener asring ndadekake piyambak.
Di zaman apa pun ketika agama
kembali dijadikan pisau, ketika kuasa mencari legitimasi kosmisSang Pangeran
selalu hadir bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai gangguan. Gangguan bagi dunia yang percaya bahwa ketertiban hanya
lahir dari rasa takut.
Dan mungkin, itulah warisan
terberatnya, bahwa menjadi manusia yang tidak kejam, di dunia yang memuja
kekerasan, adalah bentuk pambrontakan paling luhur.
Komentar
Posting Komentar