Yang tertinggal di jalan itu bukan tas itu (prolog)

 

“Manusia diajarkan untuk menghindari jatuh.
Aku justru belajar bagaimana cara jatuh… berkali-kali, tanpa benar-benar hancur.”

Aku tidak ingat kapan pertama kali aku takut pada rasa sakit.
Mungkin karena hidup tidak pernah benar-benar memberiku waktu untuk belajar takut.

Sebagian orang membangun hidup mereka dengan rencana.
Aku membangunnya dengan kejadian.

Gempa, api, hutan, dan tulang yang patah
itu bukan daftar musibah.
Itu kurikulum.

Aku pernah menahan kerangka rumah yang runtuh saat gempa dengan satu pikiran sederhana:
“mereka harus selamat.”

Aku pernah berdiri di lantai tujuh gedung yang terbakar,
bukan untuk menyelamatkan diri…
tapi untuk membawa seseorang keluar dari api.

Dan sekarang, aku duduk di ranjang rumah sakit,
kaki terikat, tulang disatukan kembali oleh tangan manusia lain,
sambil tertawa kecil dan berkata
“ya… patah lagi.”

Lucu, ya?

Banyak orang berpikir keberanian adalah tentang tidak takut.
Padahal keberanian sering kali hanya tentang tidak punya pilihan lain.

Aku tidak lebih kuat dari orang lain.
Aku hanya lebih sering berada di situasi di mana mundur bukan pilihan.

Dan mungkin…
itu sebabnya aku tidak pernah benar-benar berhenti melangkah,
meskipun tubuhku sudah berkali-kali mengingatkanku untuk berhenti.

Ini bukan tentang menjadi kuat.
Ini tentang memahami batas dan tetap melangkah tepat sebelum batas itu benar-benar mematahkanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan