YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (1)

Rumah yang Ditahan



“Tidak semua orang lari saat dunia runtuh.
Sebagian memilih berdiri… meski tahu mereka bisa ikut hancur.”

Pagi itu tidak punya firasat apa-apa.
Tidak ada langit gelap. Tidak ada angin aneh.
Dunia berjalan seperti biasa,tenang, wajar, bisa diprediksi.

Lalu tanah bergerak.

Bukan seperti getaran kecil yang bisa diabaikan.
Ini berbeda.
Ini seperti sesuatu di bawah sana yang selama ini diam, tiba-tiba memutuskan untuk berbicara dengan cara yang kasar.

Mei 2006.
Hari ketika banyak orang belajar bahwa rumah bukan selalu tempat paling aman.

Di kota ini, di semua wilayah kota, pagi itu berubah menjadi suara runtuh, debu, dan teriakan yang tidak sempat diselesaikan.

Aku tidak punya waktu untuk menganalisis.
Tidak ada ruang untuk berpikir panjang.

Yang ada hanya satu hal:
istriku.
Dan anakku… yang bahkan belum lahir.

Kerangka rumah mulai kehilangan logikanya.
Kayu dan genteng tidak lagi mengikuti hukum yang biasa.
Segalanya bergerak tanpa izin.

Di momen seperti itu, manusia biasanya memilih satu dari dua hal
lari… atau membeku.

Aku memilih yang ketiga.

Berdiri.
Menahan.

Aku tidak ingat detailnya secara utuh.
Tubuh sering bekerja lebih cepat dari pikiran dalam kondisi seperti itu.

Yang aku ingat hanya tekanan.
Berat.
Dan suara retakan yang bukan hanya dari kayu,tapi dari dalam tubuhku sendiri.

Tulang belikat.
Tulang rusuk.

Patah.

Aneh, ya.
Tubuh bisa rusak, tapi pikiran tetap sederhana.

“Mereka harus selamat.”

Tidak ada kalimat lain.
Tidak ada drama.
Tidak ada kepahlawanan yang terasa megah.

Hanya keputusan yang tidak sempat diperdebatkan.

Waktu terasa tidak jelas.
Detik bisa terasa panjang.
Atau mungkin semuanya memang terjadi terlalu cepat.

Lalu… diam.

Bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi karena yang terburuk sudah lewat.

Aku masih berdiri.
Istriku selamat.
Dan kehidupan kecil yang belum melihat dunia itu… tetap punya kesempatan untuk lahir.

Sakit?
Tentu.

Tapi anehnya… itu bukan hal pertama yang aku rasakan.

Yang datang lebih dulu adalah rasa lega.
Dan sesuatu yang sulit dijelaskan, campuran antara syukur dan keheningan setelah kekacauan.

Hari itu, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun.

Bahwa tubuh manusia punya batas. Tapi keputusan manusia… sering kali melampaui batas itu.

Dan sejak hari itu, aku tahu…hidupku tidak akan pernah berjalan dalam jalur yang sepenuhnya aman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan