Taxon Manusia, Tapi Spesiesnya EGO

 Ada satu hal yang selalu terasa menggelitik ketika kita berbicara tentang manusia, sesuatu yang sederhana tapi diam-diam mengandung keganjilan yang sulit dijelaskan, karena sejak kecil kita diajarkan bahwa kita semua adalah manusia, masuk dalam satu takson yang sama, satu kelompok besar bernama Homo sapiens, makhluk yang konon memiliki akal, memiliki kesadaran, memiliki kemampuan untuk berpikir dan membedakan benar dan salah, bahkan sering kali dianggap sebagai makhluk paling “tinggi” dibandingkan yang lain, tetapi entah kenapa semakin lama seseorang hidup dan semakin banyak ia melihat dunia, semakin muncul rasa ragu yang pelan-pelan tumbuh seperti bisikan kecil di dalam kepala, bahwa mungkin yang kita sebut manusia itu tidak sepenuhnya sama seperti yang kita bayangkan, karena jika benar kita semua adalah makhluk yang berpikir, mengapa begitu banyak keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, jika benar kita makhluk yang beradab, mengapa begitu mudah kita menyakiti satu sama lain, dan jika benar kita makhluk yang paling sadar, mengapa justru kita yang paling sering tersesat dalam pikiran kita sendiri, dan di titik itulah muncul satu kemungkinan yang terdengar sedikit jahil namun terasa masuk akal, bahwa mungkin secara biologis kita memang berada dalam satu takson yang sama, tetapi secara “isi”, secara cara berpikir, secara cara merasakan, sebenarnya ada perbedaan yang jauh lebih dalam dari sekadar bentuk tubuh, seolah-olah di dalam satu wadah bernama manusia, ada spesies lain yang tumbuh diam-diam tanpa pernah benar-benar diakui, spesies yang tidak terlihat tetapi sangat nyata dalam setiap interaksi, spesies yang tidak memiliki bentuk fisik tetapi mampu mengendalikan cara seseorang memandang dunia, dan spesies itu, jika harus diberi nama, mungkin pantas disebut sebagai EGO.

Spesies ini tidak datang dengan tanda khusus, tidak ada ciri fisik yang membedakannya, tidak ada warna kulit yang berubah, tidak ada struktur tubuh yang berbeda, semuanya terlihat sama di permukaan, berbicara dengan bahasa yang sama, tertawa dengan cara yang sama, bahkan bisa terlihat sangat ramah dan menyenangkan, tetapi ketika diamati lebih lama, ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang tidak kasat mata tetapi bisa dirasakan, karena cara mereka mendengar tidak benar-benar untuk memahami, melainkan untuk menunggu giliran berbicara, cara mereka berbicara tidak benar-benar untuk berbagi, melainkan untuk menunjukkan, dan cara mereka berinteraksi bukan untuk membangun hubungan, melainkan untuk memastikan bahwa mereka tetap berada di posisi yang lebih tinggi, dan anehnya, mereka tidak pernah menyadari hal itu, karena bagi mereka semua yang mereka lakukan terasa wajar, terasa benar, bahkan terasa perlu, seolah-olah ada suara di dalam diri mereka yang terus berbisik bahwa mereka harus menang, harus diakui, harus dianggap, dan suara itu begitu halus, begitu konstan, hingga akhirnya tidak lagi terdengar sebagai suara asing, melainkan dianggap sebagai bagian dari diri mereka sendiri.

Ego dalam bentuk seperti ini bukan sesuatu yang kasar atau mencolok, justru sering kali ia tampil dalam bentuk yang sangat rapi dan sopan, ia bisa berbicara tentang moral, bisa mengajarkan kebaikan, bisa berdiri di depan banyak orang dan menyampaikan hal-hal yang terdengar bijak, tetapi di balik semua itu ada satu dorongan yang tidak pernah benar-benar hilang, yaitu kebutuhan untuk menjadi pusat, untuk diakui sebagai yang paling memahami, yang paling benar, yang paling layak didengar, dan di titik ini, ego tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang buruk, karena ia sudah belajar memakai topeng, topeng yang bahkan terkadang lebih meyakinkan daripada kejujuran itu sendiri, dan di sinilah letak ironi yang paling halus, karena semakin seseorang merasa dirinya berada di jalur yang benar, semakin sulit ia menyadari bahwa mungkin ia sedang digerakkan oleh sesuatu yang tidak ia sadari, sesuatu yang tidak ia pilih secara sadar, tetapi telah menjadi kebiasaan yang begitu dalam hingga terasa seperti identitas.

Yang membuat semuanya semakin rumit adalah fakta bahwa ego sebenarnya tidak sepenuhnya salah, ia bukan musuh yang harus dihancurkan, karena tanpa ego manusia tidak akan memiliki batas, tidak akan memiliki dorongan untuk bertahan, tidak akan memiliki identitas yang membedakan satu dengan yang lain, ego dalam kadar tertentu justru diperlukan agar seseorang bisa berdiri, bisa berkata “ini aku”, bisa menjaga dirinya dari dunia yang tidak selalu ramah, tetapi seperti banyak hal lain dalam kehidupan, masalahnya bukan pada keberadaannya, melainkan pada ketidakseimbangan, karena ketika ego tumbuh tanpa kesadaran, ketika ia tidak pernah dipertanyakan, tidak pernah dilihat dari luar, maka ia perlahan mengambil alih, mengubah cara seseorang berpikir tanpa disadari, membuat setiap percakapan menjadi ajang pembuktian, membuat setiap perbedaan terasa seperti ancaman, membuat setiap kritik terasa seperti serangan pribadi, dan pada akhirnya mengubah hubungan antar manusia menjadi sesuatu yang kaku dan penuh jarak.

Di dunia yang dipenuhi oleh spesies ego seperti ini, banyak hal yang perlahan berubah tanpa disadari, diskusi yang seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami berubah menjadi arena untuk saling mengalahkan, perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan berubah menjadi sumber konflik, dan kebenaran yang seharusnya dicari bersama berubah menjadi sesuatu yang diperebutkan, dan yang paling menarik sekaligus menyedihkan adalah bahwa semua ini sering terjadi tanpa niat jahat, tanpa rencana untuk merusak, karena setiap orang merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar, bahwa mereka sedang membela sesuatu yang penting, bahwa mereka sedang menjaga sesuatu yang layak dipertahankan, dan di situlah ego menunjukkan kekuatannya yang paling halus, karena ia tidak pernah datang sebagai musuh, ia selalu datang sebagai pembenaran.

Namun di tengah semua itu, masih ada ruang-ruang kecil yang terasa berbeda, ruang yang mungkin tidak besar, tidak terkenal, tidak dipenuhi oleh aturan yang rumit, tetapi memiliki satu kualitas yang jarang ditemukan di tempat lain, yaitu kejujuran yang sederhana, di mana orang bisa berbicara tanpa harus terlihat pintar, bisa berbeda tanpa harus bertengkar, bisa diam tanpa merasa kalah, dan di ruang seperti itu, sesuatu yang hampir terlupakan perlahan muncul kembali, yaitu rasa menjadi manusia, rasa yang tidak perlu dibuktikan, tidak perlu dipertahankan dengan keras, cukup dirasakan dan dijalani, dan di tempat seperti itu ego tidak benar-benar hilang, ia masih ada, tetapi tidak lagi menjadi pusat, tidak lagi mengendalikan, ia hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan, bukan penguasa.

Mungkin dunia tidak akan berubah secara drastis, mungkin konflik akan tetap ada, mungkin perbedaan akan selalu muncul, tetapi jika semakin banyak ruang seperti itu muncul, ruang di mana manusia bisa kembali menjadi manusia tanpa harus menjadi sesuatu yang lain, maka perlahan sesuatu akan bergeser, bukan karena ada revolusi besar, bukan karena ada kekuasaan yang memaksa, tetapi karena ada kesadaran yang tumbuh, kesadaran bahwa tidak semua hal harus dimenangkan, tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan konflik, dan tidak semua kebenaran harus dipaksakan, dan dari kesadaran itu muncul sesuatu yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih kuat, yaitu kemampuan untuk melihat orang lain bukan sebagai lawan, bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai sesama manusia yang sama-sama tidak sempurna.

Dan mungkin pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah kita semua manusia, karena secara taksonomi jawabannya sudah jelas, tetapi apakah kita benar-benar hidup sebagai manusia, atau hanya sekadar memiliki bentuknya saja, karena menjadi manusia ternyata bukan sesuatu yang otomatis, bukan sesuatu yang selesai begitu saja sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus terus disadari, terus dijaga, dan terus dipilih setiap hari, dan di dunia yang penuh dengan suara ego yang tidak pernah benar-benar diam, memilih untuk tetap menjadi manusia mungkin adalah salah satu pilihan paling sederhana sekaligus paling sulit, karena itu berarti bersedia untuk tidak selalu benar, bersedia untuk tidak selalu menang, dan bersedia untuk melihat diri sendiri dengan jujur, tanpa topeng, tanpa pembenaran, dan mungkin di situlah letak perbedaan yang sebenarnya, bukan pada bentuk, bukan pada label, tetapi pada kesadaran, apakah seseorang masih mampu mendengar, masih mampu memahami, dan masih mampu menerima, karena selama itu masih ada, selama itu masih hidup, maka di balik semua kompleksitas dunia ini, masih ada harapan bahwa manusia… tetap manusia, bukan sekadar taxon yang sama, tetapi juga spesies yang utuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan