YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (2)
Kamar dan putus asa
Aku menemukannya.
Kecil.
Terjebak di sudut ruang yang mulai dipenuhi asap.
Dan di situlah aku melihat sesuatu yang lebih menakutkan
dari api itu sendiri.
Ketakutan yang membekukan.
Dia tidak berlari.
Tidak mencari jalan keluar.
Tubuhnya diam… tapi suaranya pecah.
Teriakan histeris.
Bukan sekadar takut, itu suara putus asa yang sudah sampai di ujungnya.
Matanya tidak fokus.
Seperti tidak lagi melihat jalan keluar hanya melihat akhir.
Manusia sering berpikir bahaya itu datang dari luar, api,
runtuhan, atau ketinggian.
Padahal sering kali, bahaya terbesar adalah saat pikiran berhenti bekerja.
Saat harapan padam lebih dulu daripada keadaan.
Aku berdiri di depannya.
Tidak ada waktu untuk kata-kata panjang.
Tidak ada ruang untuk menenangkan dengan cara yang lembut.
Karena aku tahu….
kalau aku salah satu detik saja,
api tidak akan memberi kesempatan kedua.
Aku tidak mencoba “menenangkan” dia.
Aku mengambil keputusan.
Langsung.
Aku mendekat, meraih tubuhnya yang gemetar, dan memaksanya
keluar dari kebekuan itu.
“Pegang aku.”
Hanya itu.
Tidak lebih.
Karena dalam kondisi seperti itu,
manusia tidak butuh kalimat indah, mereka
butuh arah.
Dan entah bagaimana…
di tengah histeria dan ketakutan yang hampir menghancurkannya,
dia memilih percaya.
Tangannya mencengkeram.
Kuat.
Seperti itu satu-satunya hal yang tersisa di dunia.
Dan mungkin memang benar.
Perjalanan turun bukan lagi tentang menghindari api.
Tapi tentang melawan dua hal sekaligus:
Api…
dan ketakutan yang mencoba melumpuhkan.
Setiap langkah terasa seperti menarik seseorang keluar dari
jurang yang tidak terlihat.
Dan di setiap detik itu, aku sadar satu hal:
Menyelamatkan seseorang bukan hanya soal membawa tubuhnya
keluar…
tapi juga menarik pikirannya kembali dari titik di mana ia sudah menyerah.
Komentar
Posting Komentar