Iblis kecil di pinggir hutan

" Aku memilih menjadi iblis kecil di pinggir hutan."

Setidaknya api di tandukku masih cukup jujur untuk menyalakan rokok, bukan membakar hutan demi tepuk tangan manusia."

“Aku memilih menjadi iblis kecil di pinggir hutan."

Sebab malaikat terlalu sibuk menjaga sayapnya tetap putih,
sementara dunia diam-diam terbakar oleh sinarnya yang tampak suci.


Aku duduk di teras rumah sambil menyalakan rokok dengan api khayal di ujung tandukku sendiri. Pagi baru saja bangun. Burung-burung mulai ribut seperti pegawai kantor yang takut terlambat absen kehidupan. Kupu-kupu beterbangan tanpa tahu bahwa manusia sedang sibuk menggambar batas tanah, membuat sertifikat kepemilikan, lalu menyebut dirinya makhluk paling beradab di muka bumi.

Lucu memang.

Seekor kupu-kupu bisa hidup tanpa pernah merasa perlu menjadi gubernur bagi bunga.
Tetapi manusia selalu merasa perlu menjadi penguasa bagi segala sesuatu.

Musang gemukku berlari kecil di halaman, lalu memanjat pohon pepaya dengan semangat makhluk hidup yang belum mengenal pajak, rapat proyek, dan pidato pembangunan. Anjingku tidur malas di dekat pintu. Kucing cacat berkaki silikon itu bahkan tampak lebih damai dibanding sebagian besar manusia yang kutemui di kota.

Kadang aku berpikir:
mungkin yang paling “liar” di dunia ini bukan hutan.
Tetapi ambisi manusia.

Aku pernah melihat ular kobra yang lebih jujur daripada pejabat.
Setidaknya ular tidak tersenyum sebelum menggigit.

Di hutan aku belajar sesuatu yang sederhana:
tidak ada pohon yang tumbuh sambil berteriak bahwa dirinya paling hebat. Tidak ada musang yang membuat seminar tentang moralitas. Tidak ada kupu-kupu yang sibuk menciptakan kasta sosial berdasarkan warna sayap.

Hanya manusia yang gemar menciptakan tingkatan lalu mabuk hormat pada ciptaannya sendiri.

Mereka memakai jas rapi, berbicara tentang kemajuan, lalu mengirim ribuan alat berat untuk merobek tubuh bumi seperti algojo yang diberi penghargaan karena bekerja cepat.

Dan setelah hutan habis, mereka berdiri di podium sambil berkata:
“Ini demi masa depan.”

Kalimat yang sangat indah untuk menyamarkan keserakahan.

Aku tidak membenci pembangunan. Aku hanya heran mengapa hampir semua pembangunan dimulai dengan membunuh sesuatu yang hidup lebih dulu.

Hutan ditebang.
Sungai dilukai.
Satwa terusir.
Manusia adat dipindahkan.

Lalu brosur-brosur dicetak penuh warna:
“menuju kesejahteraan.”

Kadang bahasa memang lebih berbahaya daripada senjata.
Karena senjata membunuh tubuh.
Tetapi bahasa bisa membunuh nurani secara perlahan tanpa meninggalkan darah.

Mungkin itu sebabnya aku lebih nyaman menjadi “iblis kecil” di pinggir hutan.

Karena setidaknya aku sadar bahwa di dalam diriku ada api. Ada marah. Ada sisi gelap. Dan aku harus menjaganya agar tidak berubah menjadi rakus.

Sedangkan banyak manusia sibuk berpura-pura menjadi malaikat sambil diam-diam menjual dunia sedikit demi sedikit.

Aku tidak percaya pada kesucian yang terlalu bersih.
Sebab tanah saja perlu lumpur agar kehidupan tumbuh.

Dan anehnya, semakin lama aku hidup dekat dengan satwa, aku semakin sulit percaya pada manusia yang terlalu sopan.

Musang buta sebelah itu tidak pernah membohongiku.
Kucing cacat itu tidak pernah menusukku dari belakang.
Bahkan ular berbisa lebih jujur tentang niatnya dibanding sebagian manusia yang tersenyum sambil menghitung keuntungan dari penderitaan orang lain.

Maka biarlah aku tetap duduk di teras ini.

Dengan kopi pahit.
Dengan rokok yang menyala oleh api khayal di tandukku sendiri.
Dengan suara burung pagi dan kupu-kupu yang masih sudi hinggap di tanganku.

Sebab mungkin, di dunia yang semakin pandai berpura-pura suci, sedikit kejujuran dari seekor “iblis kecil” justru terasa lebih menenangkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan