Iblis Kehilangan Pekerjaan ?
Malam itu aku duduk di teras rumah dengan secangkir kopi pahit yang masih mengepulkan aroma tipis ke udara. Angin dari arah hutan datang perlahan, menggesek dedaunan seperti seseorang yang sedang memainkan alat musik tanpa ingin didengar siapa pun. Di kejauhan terdengar suara jangkrik yang entah sejak kapan menjadi penjaga malam paling setia di dunia. Musang gemuk peliharaanku sedang sibuk mengunyah pepaya matang yang tadi sore jatuh dari pohon. Wajahnya terlihat damai. Terlalu damai untuk makhluk yang hidup di planet yang sama dengan manusia.
Di sampingku duduk sesosok iblis tua.
Tanduknya besar.
Taringnya panjang.
Matanya merah seperti bara api yang tidak pernah padam.
Namun malam itu ia tampak murung.
Sangat murung.
Aku menyeruput kopi dan memandangnya sejenak. Sudah lama aku mengenalnya. Lebih lama daripada sebagian besar janji politik yang pernah diucapkan manusia. Biasanya ia selalu datang dengan cerita-cerita lucu tentang betapa mudahnya menggoda manusia. Namun malam itu ekspresinya berbeda. Ia terlihat seperti pegawai yang baru saja menerima surat pemutusan hubungan kerja.
"Ada apa?" tanyaku.
Ia menghela napas panjang.
"Aku kehilangan pekerjaan."
Aku hampir tersedak kopi.
Kalimat itu terdengar sangat aneh keluar dari mulut seekor iblis.
Bagaimana mungkin iblis kehilangan pekerjaan?
Bukankah sepanjang sejarah manusia selalu membutuhkan iblis untuk disalahkan?
Bukankah setiap kesalahan manusia selalu lebih mudah dijelaskan dengan mengatakan bahwa ada setan yang membisikkan sesuatu ke telinganya?
Aku tertawa kecil.
Namun iblis itu tidak ikut tertawa.
Wajahnya tetap muram.
Barulah aku sadar bahwa ia tidak sedang bercanda.
"Kami kalah bersaing," katanya pelan.
"Kalah dari siapa?"
Ia menatapku.
Lalu menjawab dengan suara yang hampir terdengar putus asa.
"Manusia."
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat seekor iblis mengeluh karena manusia terlalu efektif menjalankan pekerjaannya.
Menurutnya, dahulu menjadi iblis adalah profesi yang membutuhkan keterampilan tinggi. Mereka harus membisikkan keserakahan sedikit demi sedikit. Mereka harus merawat kesombongan dengan hati-hati seperti petani merawat tanaman. Mereka harus memancing kebencian secara perlahan agar tidak ketahuan. Semua membutuhkan usaha.
Sekarang?
Tidak lagi.
Manusia melakukannya sendiri.
Tanpa bantuan.
Tanpa arahan.
Tanpa supervisi.
Bahkan dengan tingkat efisiensi yang membuat para iblis kehilangan daya saing.
"Dulu kami harus bekerja keras agar manusia rakus," katanya sambil menyeruput kopi. "Sekarang mereka mampu merusak hutan, sungai, laut, dan gunung atas inisiatif sendiri."
Aku mengangguk.
Sulit membantah.
"Dulu kami harus membisikkan kesombongan."
"Lalu?"
"Sekarang manusia bisa merasa lebih penting daripada alam yang melahirkannya."
Aku kembali mengangguk.
Masih sulit membantah.
"Dulu kami harus menanam kebencian."
"Lalu?"
"Sekarang manusia saling membenci hanya karena berbeda keyakinan, berbeda warna bendera, berbeda pilihan politik, bahkan berbeda cara menyeduh kopi."
Aku tertawa.
Tetapi semakin lama tawa itu terasa pahit.
Karena memang ada benarnya.
Manusia adalah makhluk yang luar biasa aneh.
Ia rapuh tetapi ingin terlihat kuat.
Ia fana tetapi ingin terasa abadi.
Ia takut tetapi ingin tampak berani.
Dan demi menutupi semua kerapuhan itu, manusia menciptakan sesuatu yang sangat berat untuk dipikul: jubah besi.
Jubah kekuasaan.
Jubah status sosial.
Jubah kekayaan.
Jubah ideologi.
Jubah agama.
Jubah identitas.
Jubah-jubah itu mahal.
Harus dipoles setiap hari agar tetap mengkilap.
Harus dipertahankan dengan segala cara.
Dan semakin berat jubah itu, semakin sulit manusia bergerak dengan bebas.
Ironisnya, banyak manusia mengira jubah itu adalah dirinya.
Mereka lupa bahwa di balik seluruh lapisan logam tersebut tetap ada makhluk biologis yang sama rapuhnya dengan bayi yang baru lahir.
Mereka tetap takut.
Tetap cemas.
Tetap kesepian.
Tetap bisa hancur.
Tetapi mereka terus menggosok jubahnya sampai mengkilap karena takut dunia melihat keretakan yang sebenarnya.
Iblis tua itu kembali menatap langit.
"Aku selalu heran pada manusia."
"Apa yang membuatmu heran?"
"Mereka menyebut dirinya makhluk berakal."
Aku tersenyum.
Karena aku tahu kalimat berikutnya pasti menarik.
Ia meletakkan cangkir kopinya dan berkata perlahan.
"Manusia menyebut dirinya makhluk berakal. Lalu memakai akalnya untuk menciptakan cara paling efisien menghancurkan tempat tinggalnya sendiri."
Aku tidak menjawab.
Karena kalimat itu terasa terlalu benar.
Manusia memang cerdas.
Sangat cerdas.
Mereka mampu membelah atom.
Mengirim wahana ke luar angkasa.
Menciptakan kecerdasan buatan.
Menghubungkan miliaran manusia dalam satu jaringan komunikasi global.
Namun pada saat yang sama, mereka juga mampu mengubah sungai menjadi saluran limbah, mengubah hutan menjadi angka dalam laporan investasi, dan mengubah makhluk hidup lain menjadi sekadar hambatan pembangunan.
Kadang aku berpikir bahwa kecerdasan manusia berkembang jauh lebih cepat daripada kesadarannya.
Mungkin itulah masalah utamanya.
Teknologi melaju seperti naga yang kehilangan rem.
Kesadaran berjalan seperti kura-kura tua yang sedang menikmati sore.
Akibatnya jarak di antara keduanya semakin lebar.
Semakin hari semakin lebar.
Dan manusia menyebutnya kemajuan.
Padahal belum tentu.
Malam semakin larut.
Musang di depan rumah sudah selesai makan dan mulai terlihat mengantuk.
Ia merebahkan tubuhnya di bawah pohon pepaya tanpa sedikit pun memikirkan inflasi, geopolitik, pertumbuhan ekonomi, ataupun konflik identitas.
Terkadang aku curiga bahwa musang jauh lebih dekat dengan keseimbangan alam dibanding manusia.
Ia tidak membutuhkan filsafat.
Tidak membutuhkan manifesto.
Tidak membutuhkan seminar motivasi.
Ia hanya hidup.
Dan entah mengapa itu terlihat sangat masuk akal.
Sementara manusia justru menghabiskan ribuan tahun mendiskusikan cara hidup yang benar sambil terus menemukan cara-cara baru untuk membuat hidup semakin rumit.
Iblis tua itu tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lelah.
"Aku akhirnya mengerti sesuatu."
"Apa?"
"Masalah terbesar manusia bukan kurangnya akal."
"Lalu?"
"Kurangnya kesadaran bahwa mereka bisa salah."
Aku kembali diam.
Karena kalimat itu juga terasa terlalu benar.
Manusia sering menganggap dirinya pusat alam semesta.
Mereka lupa bahwa bumi tidak membutuhkan manusia untuk tetap berputar.
Tetapi manusia membutuhkan bumi untuk tetap hidup.
Mereka lupa bahwa alam bukan sekadar sumber daya.
Alam adalah sistem yang membuat keberadaan manusia sendiri menjadi mungkin.
Mereka lupa bahwa kehidupan bukan hanya tentang bertahan hidup.
Tetapi juga tentang menjaga keseimbangan.
Dan menjaga keseimbangan jauh lebih sulit daripada menghancurkannya.
Aku menghabiskan sisa kopi di cangkir.
Angin malam semakin dingin.
Iblis tua itu berdiri.
"Aku harus pergi."
"Mau ke mana?"
Ia tersenyum.
Senyum pertama yang kulihat malam itu.
"Aku sedang mencari pekerjaan baru."
"Apa?"
Ia memandang ke arah hutan yang gelap.
Lalu menjawab dengan tenang.
"Mungkin aku akan menjadi penjaga kupu-kupu."
Aku tertawa keras.
Seekor iblis penjaga kupu-kupu terdengar seperti lelucon yang gagal.
Namun ia tidak tertawa.
Ia tetap memandang hutan.
Tetap tenang.
Tetap serius.
Lalu berkata pelan,
"Karena dunia tidak kekurangan penghancur. Dunia kekurangan penjaga."
Setelah itu ia pergi.
Menghilang di antara bayangan pohon.
Meninggalkan secangkir kopi kosong, seekor musang yang tertidur pulas, dan satu pikiran yang terus berputar di kepalaku hingga larut malam.
Mungkin benar.
Mungkin dunia memang tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan yang ingin menyelamatkan segalanya.
Mungkin dunia hanya membutuhkan lebih banyak penjaga.
Penjaga hutan.
Penjaga sungai.
Penjaga satwa.
Penjaga kejujuran.
Penjaga keseimbangan.
Penjaga hati mereka sendiri.
Karena pada akhirnya, menjaga satu titik kecil agar tetap hidup saja sudah sangat sulit.
Dan mungkin itulah alasan mengapa seekor iblis tua akhirnya memilih menjadi penjaga kupu-kupu.
Bukan karena ia menjadi baik.
Tetapi karena ia akhirnya sadar bahwa kehancuran selalu memiliki banyak sukarelawan, sementara penjaga hampir selalu kekurangan teman.
"Masalah terbesar iblis bukan lagi manusia yang saleh. Masalah terbesar iblis adalah manusia yang sudah mampu melakukan pekerjaannya sendiri."
Dan di dunia yang semakin absurd ini, mungkin keputusan paling masuk akal memang duduk di teras rumah, minum kopi pahit, mendengarkan suara angin, lalu menjaga apa yang masih bisa dijaga sebelum semuanya terlambat.
Komentar
Posting Komentar