Postingan

Menampilkan postingan dengan label psikologi

Sebuah taman ( Tak Butuh Izinmu )

 Pada awalnya, semua terasa ringan. Tidak ada tekanan. Tidak ada ekspektasi besar. Hanya pertemuan-pertemuan kecil yang tumbuh dengan sendirinya. Anak-anak datang. Duduk. Bertanya. Kadang berdebat dengan cara yang belum rapi, tapi jujur. Dan aku hanya ada di sana. Menemani. Tapi seperti semua hal yang mulai tumbuh, ruang itu perlahan mulai terlihat oleh orang lain. Dan ketika sesuatu mulai terlihat, dunia mulai memberi tanggapan. Tidak semua tanggapan itu hangat. Tidak semua orang melihatnya dengan cara yang sama. Ada yang bertanya dengan nada heran: “Ini sebenarnya tempat apa?” Ada yang mulai memberi saran, tanpa benar-benar memahami: “Harusnya dibuat lebih teratur.” “Anak-anak harus diarahkan.” “Jangan terlalu bebas, nanti tidak terkontrol.” Dan yang paling halus, tapi paling terasa: keraguan. Keraguan itu tidak selalu diucapkan. Kadang hanya terlihat dari cara orang memandang. Dari cara mereka bertanya. Dari jeda kecil sebelum mereka merespon. Seolah-olah mereka sedang mencoba m...

YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (7)

  Bercanda dengan Takdir “Ada orang yang melawan takdir. Ada yang menerima. Dan ada yang… menggodanya sambil tertawa kecil.” Aku mulai curiga. Bukan pada hidup. Bukan pada hutan. Tapi pada sesuatu yang lebih abstrak, sesuatu yang orang suka sebut dengan nada serius: takdir. Karena jujur saja… hubungan kami ini mulai terasa seperti hubungan lama yang aneh. Ia menjatuhkanku. Aku bangkit. Ia melempar batu. Aku bilang, “kurang besar.” Ia mematahkan tulang. Aku menghitungnya… seperti koleksi. Enam belas. Kalau ini permainan, aku tidak tahu siapa yang sedang menang. Tapi satu hal pasti, kami berdua sama-sama tidak bosan. Aku membayangkan takdir itu duduk di suatu tempat, melihat ke arahku sambil berpikir: “yang ini… kenapa tidak kapok-kapok?” Dan jujur, aku juga punya pertanyaan yang sama. Kenapa aku tidak berhenti? Kenapa aku tetap masuk hutan, tetap mengambil risiko, tetap melakukan hal-hal yang secara logika… bisa dihindari? Jawabannya t...

Taxon Manusia, Tapi Spesiesnya EGO

 Ada satu hal yang selalu terasa menggelitik ketika kita berbicara tentang manusia, sesuatu yang sederhana tapi diam-diam mengandung keganjilan yang sulit dijelaskan, karena sejak kecil kita diajarkan bahwa kita semua adalah manusia, masuk dalam satu takson yang sama, satu kelompok besar bernama Homo sapiens, makhluk yang konon memiliki akal, memiliki kesadaran, memiliki kemampuan untuk berpikir dan membedakan benar dan salah, bahkan sering kali dianggap sebagai makhluk paling “tinggi” dibandingkan yang lain, tetapi entah kenapa semakin lama seseorang hidup dan semakin banyak ia melihat dunia, semakin muncul rasa ragu yang pelan-pelan tumbuh seperti bisikan kecil di dalam kepala, bahwa mungkin yang kita sebut manusia itu tidak sepenuhnya sama seperti yang kita bayangkan, karena jika benar kita semua adalah makhluk yang berpikir, mengapa begitu banyak keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, jika benar kita makhluk yang beradab, mengapa begitu mudah kita menyakiti satu sama lain, ...