YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (4)
Patah Lagi
“Manusia membangun gedung untuk merasa aman.
Lalu hujan datang… dan mengingatkan bahwa bahkan atap pun bisa lupa caranya
melindungi.”
Aku tidak tahu harus menyebut ini nasib buruk… atau
rutinitas.
Jatuh di hutan, tertimpa batu, tulang patah,
dan yang keluar dari mulutku hanya:
“ya… patah lagi.”
Seolah-olah tubuh ini bukan lagi sesuatu yang harus dijaga
utuh,
tapi semacam proyek konstruksi jangka panjang yang terus diperbaiki.
Lucunya, kali ini aku tidak sedang melakukan sesuatu yang
sembrono.
Tidak mengejar sesuatu.
Tidak terburu-buru.
Aku hanya… membantu.
Seekor anak elang yang jatuh dari sarangnya.
Makhluk kecil yang bahkan belum tahu bagaimana cara menggunakan langit.
Ironis, ya.
Aku berusaha mengembalikannya ke tempat tertinggi,
dan justru berakhir di titik terendah:
terbaring, tidak bisa berjalan, menatap langit-langit yang tidak bergerak.
Rumah sakit.
Tempat manusia memperbaiki tubuhnya.
Tempat yang seharusnya menjadi simbol keamanan terakhir.
Dan di sanalah aku menemukan sesuatu yang… menarik.
Atapnya bocor.
Hujan turun pelan di luar,
dan di dalam, air menetes dari langit-langit,
jatuh ke lantai, satu tetes… dua tetes… seperti ritme yang tidak diundang.
Gedung ini baru lima tahun.
Lima tahun.
Usia yang bahkan belum cukup untuk menyebut sesuatu sebagai
“tua.”
Tapi ia sudah gagal melakukan satu tugas sederhana:
melindungi dari hujan.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena itu lucu…
tapi karena itu terlalu jujur.
Manusia membangun sesuatu dengan keyakinan bahwa itu kuat.
Bahwa itu akan bertahan.
Bahwa itu bisa diandalkan.
Lalu waktu datang,
atau hujan,
dan memperlihatkan retakan yang tidak ingin kita akui.
Seperti tubuhku.
Dari luar, aku mungkin terlihat baik-baik saja.
Masih bisa berjalan.
Masih bisa bekerja.
Masih bisa masuk hutan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi di dalam?
Empat belas tulang sudah pernah patah.
Sekarang… enam belas.
Dan seperti gedung itu,
aku juga punya “kebocoran” yang tidak selalu terlihat.
Bedanya, aku tidak mencoba menyembunyikannya.
Aku tertawa.
Karena kalau tidak, mungkin aku akan mulai bertanya hal-hal
yang tidak perlu:
Kenapa harus aku?
Kenapa lagi?
Sampai kapan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar
membantu.
Yang membantu adalah menerima satu hal sederhana:
bahwa hidup tidak pernah menjanjikan keutuhan.
Ia hanya memberi kesempatan…
untuk terus menyambung kembali apa yang patah.
Di ranjang ini, dengan kaki yang belum bisa diajak
kompromi,
aku belajar hal yang sama seperti di hutan,
tapi dengan cara yang lebih sunyi.
Fokus… bukan pada langkah,
tapi pada kesabaran.
Dan kesabaran, ternyata, jauh lebih sulit.
Di hutan, aku bisa bergerak.
Bisa mengambil keputusan cepat.
Bisa bertindak.
Di sini?
Aku harus diam.
Menunggu.
Dan mempercayai bahwa tubuhku tahu apa yang harus ia lakukan.
Sementara di atas kepalaku,
air masih menetes dari langit-langit yang bocor.
Aku menatapnya.
Dan untuk sesaat, aku merasa…
kami tidak jauh berbeda.
Sama-sama sedang “diperbaiki.”
Sama-sama punya bagian yang tidak lagi sempurna.
Sama-sama mencoba tetap berfungsi, meskipun ada yang retak.
Bedanya, aku punya satu hal yang tidak dimiliki gedung itu:
kesadaran.
Aku tahu batasku.
Aku tahu kapan harus berhenti.
Aku tahu bahwa kali ini… aku tidak bisa memaksa.
Dan mungkin itu inti dari semua ini:
bukan tentang berapa kali aku patah…
tapi tentang apakah aku belajar sesuatu setiap kali itu terjadi.
Hujan di luar masih turun.
Air di dalam masih menetes.
Dan aku, di tengah semua itu, hanya tersenyum dan berkata
pelan:
“tidak apa-apa… ini juga akan selesai.”
Komentar
Posting Komentar