YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (6)
Humor
“Sebagian orang sembuh dengan obat.
Sebagian lagi… sembuh dengan tertawa di atas hal yang seharusnya tidak
lucu.”
Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai tertawa pada
hal-hal yang “tidak pantas ditertawakan.”
Mungkin saat tulang pertama patah.
Atau saat yang kedua.
Atau mungkin setelah jumlahnya terlalu banyak… sampai otak berhenti
menganggapnya sebagai kejadian luar biasa.
Empat belas…
lalu enam belas.
Kalau ini koleksi, mungkin aku sudah layak buka museum
kecil.
Tiket masuk gratis,
bonus cerita “ini patah karena apa.”
Lucu, ya.
Orang lain mengoleksi pengalaman indah.
Aku mengoleksi cara tubuhku gagal bekerja sesuai rencana.
Dan anehnya…
aku baik-baik saja.
Atau setidaknya… aku terlihat baik-baik saja.
Karena di balik semua itu, ada satu hal yang selalu
menyelamatkanku:
humor.
Bukan humor yang ringan.
Bukan yang membuat semua orang nyaman.
Ini jenis humor yang kadang membuat orang lain terdiam…
lalu bertanya dalam hati:
“dia serius… atau ini cara dia bertahan?”
Jawabannya sederhana:
dua-duanya.
Aku pernah melihat orang hancur bukan karena luka fisik…
tapi karena tidak punya cara untuk “memproses” apa yang terjadi pada dirinya.
Rasa sakit itu seperti beban.
Kalau kamu bawa terus tanpa diolah, ia akan menumpuk.
Dan suatu saat…
kamu tidak lagi berjalan,
kamu hanya tertimbun.
Aku memilih cara yang berbeda.
Aku tertawa.
Bukan karena tidak sakit.
Tapi karena aku tidak mau memberi rasa sakit itu hak untuk mendominasi.
Saat aku berkata:
“ya… patah lagi”
itu bukan bentuk penyerahan.
Itu bentuk perlawanan yang halus.
Seolah aku berkata pada hidup:
“kalau ini yang kamu punya, aku masih bisa tertawa.”
Dan percaya atau tidak…
itu mengubah banyak hal.
Tawa membuat jarak.
Memberi ruang antara aku dan rasa sakit.
Bukan menghilangkannya,
tapi membuatnya lebih bisa ditanggung.
Namun, seperti semua hal lain…
humor juga punya batas.
Aku belajar itu pelan-pelan.
Tidak semua orang mengerti kenapa aku bisa bercanda tentang
hal seperti itu.
Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti meremehkan luka.
Atau bahkan… tidak menghargai penderitaan.
Dan aku mengerti itu.
Karena tidak semua orang pernah berada di titik di mana
satu-satunya cara untuk tetap waras… adalah tertawa.
Humor seperti ini bukan untuk semua orang.
Ia seperti bahasa rahasia.
Dipahami oleh mereka yang pernah berada di tepi…
dan berhasil kembali.
Di basecamp, candaan sering jadi cara kami bertahan.
Situasi serius dibungkus dengan kalimat ringan.
Bukan untuk menyepelekan,
tapi untuk menjaga agar kepala tetap dingin.
Karena saat panik mengambil alih,
keputusan menjadi buruk.
Dan di lapangan…
keputusan buruk bisa berarti akhir.
Jadi kami tertawa.
Di tengah risiko.
Di tengah ketidakpastian.
Di tengah kemungkinan terburuk.
Bukan karena kami tidak tahu bahaya.
Tapi karena kami terlalu tahu.
Dan di rumah sakit ini,
aku melakukan hal yang sama.
Infus di tangan.
Kaki belum bisa diajak kerja sama.
Atap masih bocor seperti punya masalah pribadi dengan hujan.
Aku melihat ke atas…
lalu tersenyum.
“Hebat,” pikirku.
“aku diperbaiki di tempat yang juga butuh diperbaiki.”
Ironi itu terlalu bagus untuk dilewatkan tanpa tawa.
Perawat mungkin melihatku aneh.
Pasien lain mungkin bertanya-tanya.
Tapi aku tidak peduli.
Karena aku tahu satu hal:
kalau aku berhenti tertawa…
mungkin aku akan mulai merasa terlalu banyak.
Dan saat itu terjadi,
beban akan kembali terasa penuh.
Jadi aku memilih tertawa.
Sekali lagi.
Bukan untuk menutupi luka.
Tapi untuk mengingatkan diri sendiri:
aku masih di sini.
Masih bisa merasakan.
Masih bisa bereaksi.
Masih bisa… hidup.
Dan mungkin itu inti dari semuanya.
Bukan tentang seberapa sering kita jatuh.
Bukan tentang seberapa parah kita terluka.
Tapi tentang apakah kita masih punya cara…
untuk tidak menyerah pada semuanya.
Dan kalau cara itu adalah tertawa di tengah luka?
Ya…
aku akan tertawa lebih keras.
Komentar
Posting Komentar