YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (7)

 

Bercanda dengan Takdir

“Ada orang yang melawan takdir.
Ada yang menerima.
Dan ada yang… menggodanya sambil tertawa kecil.”

Aku mulai curiga.

Bukan pada hidup.
Bukan pada hutan.
Tapi pada sesuatu yang lebih abstrak,
sesuatu yang orang suka sebut dengan nada serius:

takdir.

Karena jujur saja…
hubungan kami ini mulai terasa seperti hubungan lama yang aneh.

Ia menjatuhkanku.
Aku bangkit.

Ia melempar batu.
Aku bilang, “kurang besar.”

Ia mematahkan tulang.
Aku menghitungnya… seperti koleksi.

Enam belas.

Kalau ini permainan,
aku tidak tahu siapa yang sedang menang.

Tapi satu hal pasti,
kami berdua sama-sama tidak bosan.

Aku membayangkan takdir itu duduk di suatu tempat,
melihat ke arahku sambil berpikir:

“yang ini… kenapa tidak kapok-kapok?”

Dan jujur, aku juga punya pertanyaan yang sama.

Kenapa aku tidak berhenti?

Kenapa aku tetap masuk hutan,
tetap mengambil risiko,
tetap melakukan hal-hal yang secara logika… bisa dihindari?

Jawabannya tidak heroik.

Tidak ada kalimat indah seperti di buku motivasi.

Jawabannya sederhana… dan mungkin sedikit nakal:

karena aku ingin.

Sesederhana itu.

Bukan karena aku tidak tahu bahaya.
Bukan karena aku merasa kebal.

Tapi karena ada sesuatu dalam diriku yang lebih takut pada satu hal:

hidup tanpa makna.

Dan dibandingkan itu…
tulang patah terasa seperti gangguan teknis kecil.

Lucu, ya.

Orang menghindari risiko untuk tetap utuh.
Aku menerima risiko… untuk tetap hidup.

Dan di tengah semua itu, aku mulai mengembangkan kebiasaan baru:

bercanda dengan takdir.

Saat aku jatuh, aku tidak marah.
Aku tidak mengeluh.

Aku hanya berpikir:

“oh… kita main lagi?”

Ini bukan keberanian.
Ini juga bukan kebodohan murni.

Ini semacam… hubungan yang sudah terlalu lama berjalan,
sampai aku tahu pola permainannya.

Takdir tidak selalu datang dengan bencana besar.
Kadang ia datang pelan,
seperti langkah yang salah,
batu yang tidak terlihat,
atau keputusan kecil yang berujung panjang.

Dan aku tahu itu.

Aku sadar sepenuhnya.

Makanya, saat aku tetap melangkah,
itu bukan karena aku ceroboh.

Itu karena aku memilih.

Dan di situlah letak “kenakalan”-nya.

Karena aku tahu ada batas…
tapi aku juga tahu aku akan mendekatinya.

Bukan untuk melanggar.
Tapi untuk melihat… seberapa jauh aku bisa berdiri di sana.

Seperti berdiri di tepi jurang,
bukan untuk jatuh,
tapi untuk merasakan angin yang tidak bisa dirasakan di tempat aman.

Apakah itu berbahaya?

Tentu.

Apakah itu perlu?

Tidak selalu.

Apakah aku akan berhenti?

…kita lihat nanti.

Di ranjang rumah sakit ini, dengan kaki yang sedang diperbaiki,
aku tersenyum memikirkan satu hal:

kalau takdir memang punya rencana untukku,
sepertinya ia juga harus sedikit bersabar.

Karena aku bukan tipe yang langsung mengikuti alur.

Aku akan bertanya.
Aku akan mencoba melenceng sedikit.
Aku akan melihat apakah ada jalan lain.

Dan kalau ternyata aku jatuh lagi?

Ya…
paling tidak aku punya cerita baru.

Dan mungkin… satu angka tambahan dalam koleksi.

Aku tertawa pelan.

Bukan karena aku meremehkan semuanya.
Tapi karena aku mulai memahami sesuatu yang cukup mengganggu:

hidup ini tidak selalu harus dimenangkan.

Kadang cukup… dimainkan dengan gaya sendiri.

Dan kalau gayaku adalah sedikit keras kepala,
sedikit nekat,
dan sedikit… nakal terhadap takdir?

Ya sudah.

Aku akan jalani itu.

Dengan satu catatan kecil:

aku tahu di mana batasku.

Dan untuk saat ini…
aku masih memilih untuk berjalan ke arahnya.

Pelan.
Sadar.
Sambil tersenyum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan