YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (9)
Ilusi yang Kita
Pelihara
“Manusia tidak hanya hidup dari kebenaran.
Mereka hidup dari kebohongan… yang terasa cukup nyaman untuk
dipertahankan.”
Aku mulai menyadari sesuatu yang lebih mengganggu daripada
rasa sakit,
lebih tajam daripada tulang yang patah,
dan jauh lebih sulit disembuhkan:
aku mungkin tidak sejujur yang aku kira.
Bukan pada orang lain.
Tapi pada diriku sendiri.
Selama ini, aku punya cerita yang terdengar cukup mulia. Menolong sesama, menyelamatkan yang lemah, hadir saat dibutuhkan.
Cerita yang bagus.
Bahkan terlalu bagus untuk dipertanyakan.
Dan itu masalahnya.
Karena semakin indah sebuah narasi, semakin kecil kemungkinan kita mau membongkarnya.
Aku pernah percaya bahwa semua yang aku lakukan… murni.
Tanpa pamrih.
Tanpa motif tersembunyi.
Tapi di ruangan sunyi ini, dengan waktu yang berjalan lambat dan tidak bisa diajak kompromi,
aku mulai melihat retakan kecil pada keyakinan itu.
Pertanyaan sederhana muncul, dan seperti biasa, ia tidak datang dengan keras:
“Benarkah?”
Aku diam.
Karena untuk pertama kalinya, aku tidak punya jawaban
cepat.
Bagaimana kalau…
di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih egois?
Bukan egois yang kasar.
Bukan yang merugikan orang lain.
Tapi egois yang halus, yang menyamar sebagai kebaikan.
Bagaimana kalau aku menolong…
bukan hanya karena mereka butuh, tapi karena aku butuh merasa dibutuhkan?
Bagaimana kalau aku masuk ke situasi berbahaya…
bukan hanya karena itu perlu, tapi karena di sanalah aku merasa “hidup”?
Dan kalau itu benar…
apa bedanya dengan kecanduan?
Aku tertawa kecil.
Bukan karena itu lucu.
Tapi karena itu terlalu jujur untuk diabaikan.
Selama ini, aku mungkin tidak hanya menyelamatkan orang
lain.
Aku juga sedang menyelamatkan diriku sendiri, dari sesuatu yang tidak pernah aku sebutkan.
Dari rasa kosong.
Dari kemungkinan bahwa tanpa semua itu…
aku hanyalah manusia biasa.
Dan jujur saja,
itu terdengar lebih menakutkan daripada patah tulang.
Ironis.
Kita sering berpikir bahwa luka fisik adalah yang paling
berat.
Padahal luka pada identitas… jauh lebih dalam.
Karena ia menyentuh satu pertanyaan yang tidak nyaman:
“Siapa aku… kalau semua ini diambil?”
Kalau tidak ada yang diselamatkan.
Kalau tidak ada risiko.
Kalau tidak ada cerita heroik.
Apakah aku masih merasa cukup?
Atau aku akan mulai mencari “batu berikutnya”…
hanya untuk memastikan aku tetap punya alasan untuk bergerak?
Di titik ini, aku mulai mengerti sesuatu yang cukup gelap:
tidak semua keberanian lahir dari kekuatan.
Sebagian lahir dari ketakutan… yang tidak diakui.
Takut menjadi biasa.
Takut tidak berarti.
Takut… tidak dibutuhkan.
Dan untuk melawan itu,
kita menciptakan versi diri yang terlihat kuat, berguna, dan penting.
Versi yang bahkan kita sendiri percaya.
Sampai suatu hari…
retakan itu muncul.
Seperti atap bocor itu.
Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.
Fungsi masih berjalan.
Struktur masih berdiri.
Tapi ada sesuatu yang perlahan menetes…
mengungkap bahwa ada bagian yang tidak sekuat yang kita kira.
Dan saat itu terjadi, kita punya dua pilihan:
menambalnya…
atau membongkarnya.
Aku memilih yang kedua.
Bukan karena aku suka rasa sakit.
Tapi karena aku ingin tahu… seberapa jujur aku bisa berdiri di depan diriku
sendiri.
Dan jawabannya?
Belum sempurna.
Masih ada bagian yang ingin terlihat kuat.
Masih ada bagian yang menikmati pujian diam-diam.
Masih ada bagian yang… tidak ingin kehilangan identitas itu.
Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak mencoba menolak itu.
Aku menerimanya.
Bukan sebagai kelemahan,
tapi sebagai kenyataan.
Bahwa aku bukan hanya seseorang yang menolong.
Aku juga seseorang yang… butuh sesuatu dari semua itu.
Dan mungkin, justru di situlah kejujurannya.
Bukan pada tindakan.
Tapi pada kesadaran di balik tindakan itu.
Aku menarik napas pelan.
Tidak ada dramatis.
Tidak ada kesimpulan besar.
Hanya satu hal yang terasa jelas:
aku tidak sesederhana cerita yang aku bangun tentang diriku
sendiri.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena mungkin, menjadi manusia bukan tentang menjadi
“murni.”
Tapi tentang berani melihat campuran yang ada di dalamnya,
tanpa lari.
Di luar, hujan sudah berhenti.
Di dalam, tetesan terakhir jatuh… lalu diam.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak hanya merasa kuat atau waspada.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih