YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (8)
Batas yang Tidak
Terlihat
“Manusia tidak hancur saat melewati batas.
Mereka hancur… saat tidak tahu bahwa batas itu ada.”
Aku pernah percaya bahwa batas itu jelas.
Bahwa ada garis tegas antara, berani dan ceroboh,kuat dan nekat,hidup dan… terlalu dekat dengan kehilangan.
Tapi setelah semua yang terjadi,tulang yang patah,api yang pernah menyentuh kulit,
gedung yang hampir runtuh di atas kepala, aku mulai curiga.
Jangan-jangan… batas itu tidak pernah benar-benar ada.
Atau lebih buruk:
batas itu ada,tapi tidak pernah terlihat sampai kita sudah melewatinya.
Lucu, ya.
Manusia diajarkan untuk “tahu batas.”
Seolah-olah itu sesuatu yang bisa dipelajari seperti membaca peta.
Padahal kenyataannya? Tidak ada peta.
Yang ada hanya pengalaman…dan kadang, pengalaman itu datang dalam bentuk yang cukup mahal.
Seperti tulang yang patah.
Aku mencoba mengingat, di mana tepatnya aku melewati batas saat kejadian itu?
Saat aku melihat anak elang jatuh? Saat aku memutuskan untuk naik? Saat aku melangkah di batu itu?
Atau…
jauh sebelum itu, saat aku memutuskan bahwa “menolong” selalu lebih penting daripada “aman”?
Tidak ada jawaban yang benar-benar pasti.
Dan itu yang mengganggu.
Karena kalau batas itu tidak jelas, maka semua yang kita lakukan… selalu berada di wilayah abu-abu.
Dan di wilayah itu, kita bisa menjadi dua hal sekaligus, pahlawan…dan orang bodoh.
Bedanya? Sering kali hanya hasil akhir.
Kalau berhasil, kita disebut berani. Kalau gagal, kita disebut ceroboh. Padahal prosesnya… sama.
Aku tertawa kecil saat menyadari itu. Jadi selama ini, manusia tidak benar-benar menilai tindakan, mereka menilai hasil.
Ironis.
Kita memuja keberanian, tapi diam-diam hanya menghormati yang selamat.
Yang jatuh? disebut pelajaran.
Yang berhasil? disebut inspirasi.
Dan aku? mungkin berada di tengah-tengah.
Tidak cukup utuh untuk disebut aman. Tidak cukup hancur untuk disebut gagal.
Aku hanya… masih berjalan.
Dengan satu kesadaran yang mulai terasa tidak nyaman, bahwa mungkin aku tidak pernah benar-benar “tahu batas.”
Aku hanya…beruntung belum sepenuhnya melanggarnya.
Ini bagian yang jarang dibicarakan. Bahwa banyak dari kita hidup bukan karena kita bijak,
tapi karena kita belum cukup diuji.
Dan saat ujian itu datang, semua konsep tentang “batas” tiba-tiba terasa rapuh.
Di ranjang ini, dengan kaki yang sedang disambung kembali, aku tidak merasa seperti korban.
Tapi juga tidak sepenuhnya merasa benar. Aku berada di titik yang aneh,
di mana aku harus jujur pada diri sendiri, apakah aku benar-benar berani…atau hanya terbiasa mengambil risiko sampai terasa normal?
Dan kalau itu benar…apa bedanya dengan kecanduan?
Pertanyaan itu tidak nyaman.
Makanya aku menyukainya.
Karena di situlah sesuatu mulai terbuka.
Bahwa mungkin, selama ini aku tidak hanya menyelamatkan
orang lain…
tapi juga sedang “mengejar” sesuatu.
Sesuatu yang tidak punya nama jelas.
Mungkin rasa hidup. Mungkin makna. Mungkin… pembuktian bahwa aku masih mampu.
Dan di titik itu, batas mulai menjadi semakin kabur.
Karena kalau motivasimu tidak sepenuhnya murni, maka setiap langkah yang kamu ambil… selalu punya bayangan.
Bukan bayangan yang gelap. Tapi cukup untuk membuatmu ragu.
Aku menatap ke atas.
Langit-langit yang sama.
Retakan kecil.
Bekas air dari kebocoran yang belum sepenuhnya diperbaiki.
Dan aku tersenyum.
Gedung itu tidak runtuh.Aku juga tidak.
Tapi bukan berarti kami baik-baik saja. Kami hanya… belum selesai diuji.
Dan mungkin itu inti dari semua ini, batas bukan sesuatu yang kita temukan. Ia sesuatu yang… perlahan mengungkapkan dirinya.
Sedikit demi sedikit. Lewat rasa sakit. Lewat kesalahan. Lewat keberanian yang kadang terlalu dekat dengan kebodohan.
Dan tugas kita bukan untuk menghindarinya sepenuhnya, karena itu mustahil.
Tapi untuk tetap sadar…saat kita mendekatinya.
Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukan jatuh.
Tapi merasa bahwa kita tidak akan pernah jatuh.
Aku menarik napas pelan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak hanya merasa kuat.
Komentar
Posting Komentar