Sebuah taman (Apa yang sebenarnya rusak dari cara kita menjadi manusia?)

Ada begitu banyak orang di luar sana yang bermimpi untuk mengubah dunia, yang berbicara dengan penuh semangat tentang sistem yang harus dibongkar dan dibangun ulang, tentang kekuasaan yang harus direbut dan didistribusikan kembali, tentang teknologi yang akan menyelamatkan umat manusia dari segala problemanya, dan tentang masa depan yang lebih canggih yang konon akan membuat hidup menjadi lebih mudah dan lebih berarti bagi semua orang. Mereka menyusun manifesto, mereka menulis buku, mereka memberi ceramah di atas panggung-panggung megah dengan mikrofon yang menggemakan suara mereka ke ribuan pendengar, dan mereka percaya dengan segenap hati bahwa perubahan besar harus dimulai dari gagasan-gagasan besar yang mampu mengguncang fondasi peradaban. Namun di tengah hiruk-pikuk ambisi yang begitu menggelegar itu, sangat sedikit yang benar-benar bersedia untuk duduk diam, untuk menekan volume dunia sejenak, untuk memandang satu manusia lain dengan mata yang tidak tergesa-gesa, dan bertanya dengan jujur, dengan keterbukaan yang tidak dilindungi oleh teori atau ideologi: apa yang sebenarnya rusak dari cara kita menjadi manusia, apa yang salah dengan cara kita saling memperlakukan, apa yang hilang dari relasi-relasi kita yang semakin sibuk dan dangkal itu? Pertanyaan itu jarang sekali diajukan, karena ia terlalu sederhana, terlalu dekat, terlalu tidak nyaman untuk dihadapi tanpa pelarian ke dalam konsep-konsep abstrak yang aman.

Aku sendiri tidak pernah berniat membangun apa pun, tidak ada ambisi besar yang bersemayam di dadaku, tidak ada rencana yang disusun rapi sejak awal dengan diagram dan jadwal yang terperinci, semuanya bermula dari hal yang sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk dianggap penting oleh siapa pun yang terbiasa dengan ukuran-ukuran keberhasilan yang gemerlap dan spektakuler. Yang ada hanyalah sekelompok anak, tawa mereka yang berantakan dan tidak teratur tetapi begitu hidup, pertanyaan-pertanyaan mereka yang tidak pernah benar-benar selesai karena selalu melahirkan pertanyaan baru, dan sore-sore yang tidak pernah benar-benar punya tujuan selain dijalani begitu saja tanpa perlu diburu oleh tenggat waktu atau target yang harus dicapai. Mereka datang tanpa undangan, tanpa surat panggilan resmi, tanpa formulir pendaftaran yang harus diisi, tanpa biaya administrasi yang harus dibayar; mereka duduk begitu saja di tempat itu tanpa aturan yang mengikat, tanpa tata tertib yang harus ditandatangani, tanpa seragam yang harus dikenakan, mereka bertanya tanpa takut salah, tanpa rasa malu yang diajarkan oleh sekolah-sekolah yang menghukum kesalahan, tanpa kekhawatiran bahwa pertanyaan mereka akan dianggap bodoh atau tidak penting. Dan entah bagaimana, dengan segala kesederhanaan yang hampir membuatku terkejut, aku bertahan di sana, tidak pergi meskipun tidak ada yang mengikatku, tidak mencari alasan untuk meninggalkan tempat itu meskipun tidak ada keuntungan yang aku peroleh. Awalnya hanya menemani, hanya duduk di samping mereka tanpa banyak bicara, tanpa niat untuk mengajar atau membimbing lalu perlahan aku mulai mendengar, benar-benar mendengar, tidak sekadar mendengar suara tetapi mendengar isi, mendengar kegelisahan, mendengar keraguan, mendengar mimpi-mimpi kecil mereka yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Kemudian, tanpa aku sadari, aku mulai berpikir, mulai merenungkan apa yang mereka katakan, mulai menghubungkan satu percakapan dengan percakapan lain, mulai melihat pola-pola yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh mataku yang buta.

Ternyata, anak-anak tidak pernah benar-benar membutuhkan seseorang yang selalu benar, yang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan, yang tidak pernah ragu atau bimbang; mereka hanya membutuhkan seseorang yang tidak buru-buru menghakimi, yang tidak terburu-buru memberi label pada perilaku mereka, yang tidak terburu-buru memotong pembicaraan mereka dengan kebenaran-kebenaran yang sudah jadi. Di situlah semuanya berubah, di titik di mana aku menyadari bahwa hubungan yang paling mendalam tidak dibangun di atas kebenaran yang sempurna tetapi di atas kesediaan untuk berada dalam ketidakpastian bersama, untuk tidak berpura-pura tahu segalanya, untuk tidak mengambil posisi superior yang membuat orang lain merasa kecil dan bodoh. Dunia ini terlalu cepat dalam memberi jawaban, terlalu cepat dalam menutup pertanyaan sebelum ia sempat berkembang menjadi pemikiran yang matang; masyarakat kita terlalu terbiasa membungkam suara-suara yang tidak sejalan dengan arus utama, terlalu terlatih untuk menyudutkan keraguan dan menggantinya dengan kepastian-kepastian instan yang sebenarnya tidak pernah cukup kuat untuk menahan goncangan; dan kita semua terlalu bangga dengan kepastian yang sebenarnya rapuh, terlalu percaya diri dengan keyakinan-keyakinan yang tidak pernah benar-benar kita uji dalam api pengalaman. Orang dewasa menyebut proses yang mereka lakukan sebagai "mendidik", mereka membungkusnya dengan kata-kata mulia tentang pembentukan karakter dan transfer pengetahuan, tetapi sering kali apa yang mereka lakukan hanyalah bentuk lain dari ketakutan-ketakutan jika tidak bisa mengendalikan, ketakutan jika hal-hal tidak berjalan sesuai rencana, ketakutan jika anak-anak tumbuh menjadi manusia yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa diatur.

Aku mulai melihat sesuatu yang aneh, sebuah paradoks yang tidak pernah aku perhatikan sebelumnya: semakin banyak aturan dibuat, semakin banyak batasan yang dipasang, semakin banyak prosedur yang harus diikuti, semakin sedikit manusia yang benar-benar memahami dirinya sendiri, karena mereka terlalu sibuk memahami aturan dan menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain. Semakin keras suara yang mengajar dari atas podium, semakin tinggi nada yang digunakan untuk memerintah dan mengarahkan, semakin pelan keberanian untuk berpikir tumbuh di dalam diri anak-anak, karena mereka diajarkan bahwa pemikiran mereka tidak sepenting pemikiran guru, bahwa pendapat mereka tidak sevalid pendapat orang dewasa, bahwa rasa ingin tahu mereka adalah gangguan yang harus diredam demi disiplin dan keteraturan. Dan di tengah semua itu, di antara debu-debu teori pendidikan yang berterbangan dan perdebatan tentang metode yang paling efektif, anak-anak masih datang setiap sore ke tempat yang sunyi itu, mereka masih setia hadir tanpa perlu dijanjikan apa pun selain kehadiran yang tulus. Mereka tidak peduli tentang konsep-konsep besar yang menghiasi buku-buku teks, mereka tidak peduli tentang teori pendidikan yang dipertentangkan di ruang-ruang seminar, mereka tidak peduli tentang jargon-jargon psikologi perkembangan yang rumit, mereka hanya ingin didengar, ingin diterima apa adanya, dan diberi ruang untuk menjadi diri mereka sendiri tanpa harus terus-menerus mengukur diri dengan standar orang lain.

Aku tidak mengajari mereka banyak hal, setidaknya tidak dalam arti konvensional di mana seorang guru mentransfer ilmu kepada murid, justru mereka yang perlahan-lahan mengajariku sesuatu yang selama ini luput dari perhatianku, sesuatu yang mungkin telah lama hilang dari sistem pendidikan yang kaku, bahwa manusia tidak rusak karena kurang ilmu, tidak karena kurangnya informasi atau kurangnya keterampilan teknis, manusia rusak karena tidak pernah diajarkan untuk memahami batas dirinya sendiri, karena tidak pernah diberikan kesempatan untuk merasakan batas-batas itu secara langsung, karena selalu dijauhkan dari pengalaman gagal, dari pengalaman salah, dari pengalaman tidak tahu. Dan batas itu, pemahaman tentang di mana kita berakhir dan orang lain dimulai, tentang apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa kita paksakan, tentang berapa banyak yang bisa kita berikan tanpa kehilangan diri sendiri,batas itu tidak bisa diajarkan dengan paksaan, tidak bisa ditanamkan melalui hukuman atau ancaman, tidak bisa diinternalisasi melalui ceramah yang panjang dan menggurui. Ia hanya bisa tumbuh di tempat yang tidak menghakimi, di tempat di mana orang merasa cukup aman untuk mencoba dan gagal, di tempat di mana kelemahan tidak dijadikan bahan ejekan tetapi justru bagian dari pembelajaran bersama.

Maka tempat itu lahir, bukan dari rencana yang matang, bukan dari ambisi yang besar, bukan dari dana yang melimpah atau izin resmi yang tertulis di atas kertas; ia lahir dari kebutuhan yang tidak pernah diucapkan oleh siapa pun, kebutuhan yang hanya terasa tetapi tidak pernah dirumuskan dalam kata-kata, yaitu kebutuhan untuk memiliki ruang di mana seseorang boleh salah tanpa takut dihakimi, boleh bertanya tanpa ditertawakan, boleh berbeda tanpa harus disingkirkan dan dijauhi. Aku tidak memberi nama besar pada tempat itu, tidak memajang spanduk di pintu masuknya, tidak mendaftarkannya dalam katalog lembaga pendidikan mana pun, karena aku tidak ingin ia menjadi panggung tempat seseorang bisa menunjukkan kebesarannya, tidak ingin ia menjadi ajang pengakuan atau ketenaran. Aku ingin ia menjadi sesuatu yang lebih sunyi, lebih tenang, lebih rendah hati, sesuatu yang tidak membutuhkan sorotan untuk tetap hidup, aku ingin ia menjadi sesuatu yang lebih jujur, lebih polos, lebih setia pada tujuannya yang sederhana; dan mungkin dengan kesunyian dan kejujuran itu, ia akan lebih bertahan lama daripada bangunan-bangunan megah yang didirikan di atas tanah yang tidak stabil. Di tempat itu, tidak ada yang benar-benar mengajar dalam arti tradisional, tidak ada guru yang berdiri di depan kelas dengan kapur di tangan dan wewenang di mata, yang ada hanyalah manusia-manusia kecil dan besar yang saling mengingatkan, saling merefleksikan, saling menjadi cermin bagi satu sama lain, bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi lebih, tentang mencapai lebih tinggi, tentang mengumpulkan lebih banyak, tetapi tentang memahami kapan harus cukup, kapan harus berhenti mengejar dan mulai merasakan.

Kami tertawa bersama, tertawa yang keluar dari perut dan mengguncang bahu, tertawa yang tidak ditahan-tahan karena tidak ada yang mengajari kami bahwa tertawa itu tidak sopan atau tidak pantas, kami berdebat, kadang dengan suara yang keras dan kata-kata yang tajam, kadang dengan argumen yang absurd dan tidak masuk akal yang membuat kami sendiri bingung bagaimana sampai ke sana, tetapi tidak pernah ada yang pulang membawa luka, tidak ada dendam yang mengendap, tidak ada perasaan direndahkan atau diabaikan, karena sejak awal kami telah sepakat, tanpa harus menandatangani perjanjian apa pun, bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjatuhkan, bahwa ketidaksepakatan bukanlah perang yang harus dimenangkan. Lalu suatu hari, di sela-sela keheningan setelah percakapan yang panjang, aku menyadari sesuatu yang sederhana tetapi terasa berat di dadaku, sebuah kebenaran yang tidak bisa aku hindari, tempat ini tidak akan selamanya seperti sekarang, tidak akan selalu ada dengan bentuk dan suasana yang sama; waktu akan terus berjalan dengan kejamnya, tubuhku akan melemah, tenagaku akan berkurang, dan suatu saat mungkin aku tidak lagi duduk di sana, tidak lagi berada di tengah-tengah mereka yang datang setiap sore dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah selesai.

Tetapi jika nilai-nilai ini berhasil berpindah, jika cara berpikir ini hidup di dalam diri orang lain, jika mereka yang pernah duduk di sana membawa semangat yang sama ke tempat-tempat lain, ke ruang-ruang lain, ke pertemuan-pertemuan lain, maka tempat ini tidak akan pernah benar-benar hilang, ia akan terus ada dalam bentuk yang berbeda, dalam suara yang berbeda, dalam bahasa yang berbeda, tetapi dengan roh yang sama. Aku tidak ingin dikenal karena tempat ini, tidak ingin namaku diukir di atas batu atau dicetak dalam buku sejarah, aku tidak ingin diingat sebagai seseorang yang "membangun" sesuatu yang besar, karena kebesaran bukanlah ukuran yang aku cari, aku hanya ingin, suatu hari nanti, di tempat yang jauh dari sini, dengan cara yang berbeda dari caraku, ada seseorang yang menciptakan ruang yang sama tanpa pernah tahu dari mana semuanya bermula, tanpa pernah menyebut namaku atau menceritakan kisahku. Dan jika itu terjadi, jika ada ruang baru yang lahir dengan semangat yang sama, jika ada anak-anak lain yang tertawa dan bertanya dan berdebat tanpa luka, jika ada kesunyian yang diisi dengan kejujuran di tempat yang tidak pernah aku kunjungi; maka aku tahu satu hal dengan kepastian yang tidak membutuhkan bukti, apa yang kami lakukan di sini, semua pertemuan sore yang tidak direncanakan ini, semua tawa yang berantakan ini, semua pertanyaan yang tidak selesai ini, tidak sia-sia, ia telah menjadi sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri, dan ia akan terus hidup bahkan setelah aku tidak lagi berada di tempat yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan