YANG TERTINGGAL DI JALAN ITU BUKAN TAS ITU (10)
Sesuatu yang Lebih Gelap
Aku pikir aku sudah cukup jujur.
Tentang rasa butuh.
Tentang ego yang tersembunyi.
Tentang kemungkinan bahwa aku tidak sepenuhnya “murni.”
Ternyata belum.
Masih ada satu lapisan lagi,
yang tidak hanya tidak nyaman.
tapi juga sedikit memalukan untuk diakui.
“Tidak semua kebaikan lahir dari cahaya.
Sebagian, tumbuh dari bayangan yang tidak pernah kita akui.”
Bagaimana kalau,
aku tidak hanya butuh merasa dibutuhkan?
Bagaimana kalau aku juga, menikmati kekacauan itu?
Aku diam cukup lama saat pikiran itu muncul.
Karena ini bukan lagi soal niat baik yang bercampur ego.
Ini sesuatu yang lebih dalam, dan lebih gelap.
Ada momen-momen tertentu,
saat situasi menjadi genting,
saat orang lain panik,
saat semuanya di ambang kacau,
dan justru di sanalah aku merasa paling tenang.
Paling fokus.
Paling “hidup.”
Itu bukan kebetulan.
Dan kalau aku jujur,
itu bukan sekadar kemampuan.
Itu sesuatu yang aku nikmati.
Di tengah api, aku tidak gemetar.
Di tengah runtuhan, aku tidak ragu.
Di tengah risiko, pikiranku justru menjadi lebih jernih.
Seolah-olah kekacauan itu,
adalah tempat yang paling cocok untukku.
Dan di situlah pertanyaan yang lebih tajam muncul:
kalau aku merasa paling hidup saat keadaan buruk
terjadi, apa artinya itu?
Apakah aku benar-benar hanya “menolong”?
Atau aku tanpa sadar, mencari situasi itu?
Bukan menciptakan,
aku tidak sekejam itu.
Tapi, tidak juga menghindari.
Aku mulai melihat pola yang tidak ingin aku lihat
sebelumnya.
Bahwa setiap kali ada pilihan antara aman dan berisiko,
aku sering tahu mana yang akan aku ambil.
Dan aku selalu punya alasan yang terdengar masuk akal.
“Ini penting.”
“Ini perlu.”
“Kalau bukan aku, siapa lagi?”
Kalimat-kalimat itu, benar.
Tapi mungkin, tidak lengkap.
Karena ada bagian lain yang tidak pernah aku ucapkan,
“di situlah aku merasa menjadi diriku.”
Dan itu berbahaya.
Bukan karena aku akan menyakiti orang lain.
Tapi karena aku bisa mulai menyamakan “kekacauan” dengan “makna.”
Dan kalau itu terjadi, aku akan terus mencari situasi yang membuatku merasa seperti itu.
Bukan karena dunia membutuhkannya,
tapi karena aku membutuhkannya.
Aku tertawa pelan.
Ironi yang cukup kejam.
Seseorang yang terlihat menyelamatkan orang lain, mungkin juga sedang mengejar sesuatu yang sangat pribadi.
Sesuatu yang tidak bisa dia temukan dalam keadaan normal.
Di ruangan ini, tanpa suara panik, tanpa situasi darurat,
tanpa siapa pun yang perlu diselamatkan,
aku harus menghadapi satu kenyataan yang jauh lebih sulit:
aku tidak merasa “sehidup” itu.
Dan itu, mengganggu.
Karena artinya, selama ini aku mungkin tidak hanya membantu
dunia…
aku juga bergantung padanya untuk merasa utuh.
Dan ketergantungan,dalam bentuk apa pun,
selalu punya harga.
Aku mulai mengerti kenapa beberapa orang tidak bisa
berhenti dari sesuatu yang berbahaya.
Bukan karena mereka tidak tahu risikonya.
Tapi karena mereka sudah menemukan sesuatu di sana.
yang tidak bisa mereka temukan di tempat lain.
Dan sekarang aku harus jujur pada diriku sendiri:
apakah aku juga seperti itu?
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab cepat.
Karena ini bukan soal benar atau salah.
Ini soal kesadaran.
Bahwa di dalam diriku, ada dua hal yang berjalan bersamaan:
keinginan untuk membantu, dan ketertarikan pada intensitas yang datang bersamanya.
Cahaya, dan bayangan.
Dan mungkin, menjadi manusia bukan tentang memilih salah
satu.
Tapi tentang tahu bahwa keduanya ada,
dan tidak membiarkan salah satunya mengambil alih tanpa disadari.
Aku menatap ke depan.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada aksi heroik.
Hanya aku, dan versi diriku yang sedikit lebih jujur dari sebelumnya.
Dan anehnya, itu terasa lebih berat daripada mengangkat
batu.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih