Seribu Mill (Bayangan yang Berbisik)

Malam setelah pertemuannya dengan dirinya sendiri, Bagus tidak bisa tidur, bukan karena ia tidak lelah, ia sangat lelah, lelah seperti seseorang yang telah membawa beban selama bertahun-tahun tanpa pernah beristirahat. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti berputar, seperti rekaman yang patah dan terus memutar bagian yang sama berulang kali.

"Arda masih hidup. Ia menunggumu."

Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, menembus dinding-dinding kesadaran yang selama ini ia bangun. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang sekarang terasa lebih tinggi dari sebelumnya, seolah-olah dinding-dinding itu tidak lagi menyusut, tetapi justru mulai menjauh, memberi ruang bagi sesuatu yang baru.

Di sebelahnya, tempat tidur Laras kosong.

Ia tidak tahu sejak kapan ia tidur sendirian. Mungkin sejak ia membuka pintu itu. Mungkin sejak Laras menghilang seperti kabut di pagi hari. Yang ia tahu, rumah itu kini terasa lebih sepi, lebih dingin, dan lebih sunyi.

Tapi kesunyian itu tidak benar-benar sunyi.

Saat tengah malam tiba, ketika bulan berada di titik tertingginya dan bayangan-bayangan memanjang seperti jari-jari yang merayap di lantai, Bagus mulai mendengar suara-suara halus, bukan dari luar jendela, bukan dari lorong, tetapi dari dalam kamar itu sendiri. Dari suatu tempat yang sangat dekat, seperti bisikan yang lahir di dalam kepalanya sendiri.

"Kau tidak nyata."

Bagus membeku. Suara itu pelan, nyaris tak terdengar, seperti desiran angin yang menyusup melalui celah-celah pintu, tetapi ia mendengarnya dengan jelas, terlalu jelas, seperti suara yang tidak berasal dari telinga tetapi langsung dari saraf-sarafnya.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kegelapan di sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan-bayangan yang bergerak perlahan mengikuti cahaya bulan yang masuk melalui jendela.

"Kau hanya mimpi yang lupa bahwa ia akan berakhir."

Suara itu datang lagi, kali ini lebih dekat. Seolah-olah berasal dari balik cermin di atas meja rias.

Bagus menatap cermin itu. Permukaannya gelap, memantulkan bayangan ruangan yang samar. Tetapi di dalam pantulan itu, ia melihat sesuatu yang aneh,sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Bayangannya sendiri, tetapi tidak bergerak seperti biasanya. Bayangan itu hanya berdiri, diam, menatapnya dengan mata yang tidak terlihat. Lalu, perlahan, bayangan itu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah cermin, seolah-olah memintanya untuk mendekat.

Bagus berdiri. Kakinya terasa berat, tetapi ia berjalan mendekati cermin itu, langkah demi langkah, seperti seseorang yang ditarik oleh benang tak terlihat. Ia berdiri di hadapan cermin, menatap pantulannya sendiri, wajahnya yang pucat, matanya yang lelah, dan di belakangnya, bayangan yang terus menunjuk ke arah yang sama.

"Pecahkan."

Suara itu bukan bisikan lagi, suara  nyaring, jelas, seperti perintah yang tidak bisa diabaikan.

Bagus mengangkat tangannya. Ia tidak ingat mengambil apa pun, tetapi di tangannya kini ada sebuah palu,palu yang sama yang ia gunakan untuk menghancurkan pintu palsu di lorong. Palu itu terasa berat, dingin, dan familiar, seperti selalu ada di tangannya.

"Pecahkan."

Ia mengayunkan palu itu ke cermin.

Kaca pecah dengan suara yang memekakkan telinga. Serpihan-serpihan berhamburan seperti air beku yang meledak, memantulkan cahaya lampu remang-remang dalam ribuan potongan kecil. Bagus berdiri di hadapan bingkai cermin yang kosong, napasnya terengah-engah, palu masih tergenggam di tangannya.

Dan di balik cermin yang pecah itu, ia melihat sebuah lorong.

Lorong itu gelap, sempit, dan membentang ke arah yang tidak bisa ia lihat ujungnya. Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata tua yang lembap, dan di sepanjang lorong, ada lilin-lilin kecil yang menyala dengan api yang pudar,api yang tidak berkedip, tidak bergoyang, seperti api dalam lukisan.

Bagus menatap lorong itu, dan di dalam dadanya, ia merasakan sesuatu yang aneh, bukan ketakutan, tetapi rasa penasaran yang mendalam, seolah-olah lorong itu telah menunggunya selama bertahun-tahun.

"Kau tahu jalan ini," bisik suara itu lagi. Kali ini, suara itu tidak berasal dari balik cermin, tetapi dari dalam lorong itu sendiri. "Kau yang membangunnya. Kau yang menguncinya. Dan kau yang harus membukanya."

Bagus melangkah masuk ke dalam lorong. Ia merasakan dingin yang merayap di kulitnya, dingin yang berbeda dari dinginnya rumah, dingin yang lebih tua, lebih dalam, seperti dinginnya ruang bawah tanah yang tidak pernah tersentuh matahari.

Langkah kakinya bergema di dinding-dinding batu, menciptakan irama yang teratur, seperti detak jantung yang melambat. Lilin-lilin menyala di kedua sisinya, menerangi jalan yang tampaknya tidak berujung.

Setelah berjalan beberapa menit,atau mungkin berjam-jam, Bagus tidak bisa lagi membedakan waktu, ia melihat sesuatu di ujung lorong. Sebuah pintu. Bukan pintu kayu berukir yang ia temui sebelumnya, tetapi pintu besi tua yang berkarat, dengan gagang berbentuk tengkorak yang sudah menghitam oleh waktu.

Di atas pintu itu, tertulis sebuah kata:

"KAU"

Bagus berhenti di hadapan pintu itu. Ia merasakan denyut nadinya di pelipis, merasakan dadanya yang sesak, tetapi ia tidak mundur.

"Kau pikir kau bisa menghindar selamanya?" tanya suara itu. Kali ini, ia mendengar suara itu dengan jelas,suara yang sama dengan suaranya sendiri, tetapi lebih tua, lebih lelah, lebih pahit.

"Tidak," jawab Bagus, suaranya bergetar tetapi mantap. "Aku sudah selesai menghindar."

Ia meraih gagang pintu itu. Logamnya dingin, menusuk telapak tangannya seperti es yang membeku. Ia memutar gagangnya perlahan, dan pintu itu terbuka dengan derit panjang yang bergema di sepanjang lorong.

Di balik pintu itu, ia tidak menemukan ruangan. Ia menemukan dirinya sendiri,masa lalunya yang selama ini ia kubur.

Dia melihat kecelakaan itu terjadi lagi. Mobilnya melaju di jalan tol yang basah, Laras di kursi kemudi, Arda di belakang. Hujan turun deras, dan Bagus mendesak Laras untuk memacu lebih cepat,mereka terlambat, harus segera tiba. Laras menolak, tetapi ia tetap memacu lebih kencang.

Lalu, lampu rem di depan. Laras berteriak. Mobil tergelincir. Dunia berputar.

Dan kemudian, keheningan.

Bagus melihat dirinya sendiri berlari keluar dari mobil yang ringsek, melihat Arda terbaring tak bergerak di kursi belakang, melihat Laras dengan mata yang sudah tidak berkedip. Ia menjerit, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Ia melihat dirinya sendiri jatuh berlutut di tengah hujan, mengguncang tubuh Laras yang sudah dingin, berteriak memanggil namanya, tetapi tidak ada yang datang.

Dan kemudian, ia melihat dirinya sendiri bangkit, berjalan menjauh dari kecelakaan itu, dan memutuskan untuk tidak pernah mengingatnya lagi.

Bagus menangis. Ia menangis di hadapan pintu itu, di hadapan masa lalunya yang selama ini ia hindari. Ia menangis untuk Laras, untuk Arda, untuk dirinya sendiri yang telah hidup dalam kebohongan selama bertahun-tahun.

"Sekarang kau tahu," kata suara itu. Suara itu kini lembut, tidak lagi menuduh. "Sekarang kau bisa memilih. Tetap di sini, dalam bayangan yang kau ciptakan. Atau bangun dan hidup."

Bagus mengusap air matanya. Ia menatap masa lalunya yang hancur, tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak lagi ingin lari.

"Aku ingin hidup," katanya. "Untuk Arda. Untuk diriku sendiri."

Pintu di hadapannya mulai memudar, seperti kabut yang ditiup angin. Lorong mulai menghilang, dan Bagus merasakan dirinya ditarik ke atas, seperti seseorang yang sedang bangun dari tidur panjang.

Dan di atas segalanya, ia mendengar suara kecil yang menunggunya di dunia nyata,

"Bapak, bapak, bangunlah, aku di sini."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan