Seribu Mill (Dinding yang Menyusut)
Tiga malam telah berlalu sejak Bagus berdiri di hadapan pintu kayu berukir itu, dan setiap malam ia kembali ke lorong yang sama, berdiri di depan pintu yang sama, dengan tangan yang tetap menggantung di udara,tidak berani membuka, tidak mampu berpaling. Pintu itu tidak pernah hilang, tidak pernah berubah. Ia hanya menunggu, seperti jurang yang sabar menanti jatuhnya seseorang. Tapi malam ini, ada yang berbeda. Bagus terbangun bukan karena bisikan, bukan karena mimpi buruk, tetapi karena ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sesak. Bukan sesak di dada, tetapi sesak di seluruh ruangan. Dinding-dinding kamarnya seakan merapat, mendekat perlahan, seperti paru-paru yang kehilangan udara. Ia duduk di tepi tempat tidur, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa langit-langit kamarnya lebih rendah dari yang ia ingat. Plafon putih yang dulu mulus kini terasa seperti menekan kepalanya dari atas, dan dinding-dinding di sekelilingnya tampak lebih dekat, lebih se...