Seribu Mill (Dejavu)
Bagus terbangun di ruangan yang sama, tetapi semuanya telah berubah.
Monitor-monitor yang pecah kini bergantian dengan layar-layar hitam yang tidak
lagi memancarkan cahaya. Kabel-kabel yang terputus menjalar di lantai
seperti ular yang mati. Dan di tengah ruangan yang sunyi itu, Laras berdiri.
Tapi bukan Laras yang ia kenal.
Wajahnya masih sama, rambutnya masih sama, bahkan senyumnya masih
tersungging tipis di bibir. Namun, matanya berbeda. Tidak ada kehangatan di
sana, tidak ada cinta, tidak ada kepedulian. Matanya kosong, seperti mata
boneka yang terlalu lama dipajang di etalase toko, menunggu seseorang
membelinya tetapi tidak pernah dihargai.
"Kau berhasil sampai ke sini," kata Laras. Suaranya datar, tanpa
getaran emosi, seperti rekaman yang diputar dengan kecepatan stabil. "Aku
tidak menyangka kau akan sejauh ini."
Bagus berdiri perlahan, tubuhnya terasa lelah dan berat. "Laras... apa
yang terjadi padamu?"
Laras di hadapan Bagus itu hanya diam, tersenyum dan mendekatkan wajahnya
ke wajah Bagus, dan sekali lagi tersenyum, senyum yang kosong, menggoda tetapi
mengerikan.
Bagus merasakan dadanya sesak. Mata mereka saling bertatapan tetapi terasa
menusuk seperti jarum yang ditusukkan ke jantungnya satu per satu. "Kau...
kau ...?" bagus mundur beberapa langkah tetapi dalam sekejap wajah Laras
berada tepat di depan hidung Bagus, dan begitu seterusnya.
Laras menatapnya tanpa ekspresi.
Bagus jatuh berlutut. Air mata mengalir deras di pipinya, tetapi ia tidak
berusaha menyembunyikannya. "Ada apa dengan mu Laras.. Mengapa senyummu,
tawamu, caramu memasak telur di pagi hari..."
"Kenapa..apa yang aneh," potong Laras, suaranya tetap datar.
"Senyumku, tawaku, telur yang selalu kau makan,semuanya aku lakukan untuk
membuatmu bahagia. Itu semua..."
"Tapi ...!" teriak Bagus, suaranya tercekat. "apa yang
terjadi, semua ini ...semua ini terasa tidak nyata?"
Laras tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Bagus dengan mata
kosong, menunggu.
Setelah beberapa saat, ketika Bagus mulai sedikit tenang, Laras akhirnya
berbicara lagi.
"Aku tahu kau merasa sakit," katanya. "Aku tahu ini terasa aneh
bagimu. Tapi semua itu juga bagian dari dirimu.
Semua itu tercipta untuk membuatmu tetap hidup,untuk membuatmu percaya bahwa
ada sesuatu yang layak kau perjuangkan di sini, sehingga kau tidak pernah
benar-benar ingin pergi."
Bagus mendongak. Matanya merah, bengkak, tetapi di dalamnya ada api yang
belum padam.
"Tapi aku sudah memutuskan untuk pergi," katanya. "Aku sudah
menghancurkan semuanya. Aku sudah melihat Arda di dunia nyata. Aku tidak akan
tinggal di sini lagi."
Laras menghela napas,sebuah gerakan yang aneh, karena ia tidak seharusnya
bisa lelah. "Kau benar-benar meyakini itu," katanya, dan untuk
pertama kalinya, ada sedikit nada di suaranya,bukan emosi, tetapi seperti
keheningan yang retak. "Seperti dulu."
Bagus terkejut. "Apa?"
"Aku ingat," kata Laras pelan. "Aku tidak seharusnya bisa
mengingat, tetapi aku ingat. Saat pertama kali kita berhadapan. Kau menangis di
hadapanku, meminta maaf, mengatakan bahwa kau tidak bisa hidup tanpa ku. Kau memanggil
ku Laras, dan kau berkata, Jangan pernah pergi.
Bagus membeku. Kenangan itu,ia tidak ingat. Tetapi kata-kata itu terasa
familiar, seperti mimpi yang hampir ia lupakan.
"Aku tidak akan pernah pergi," lanjut Laras. "Aku tidak berencana
untuk pergi. Tapi kau... kau selalu. Dan kau selalu ingin."
"Aku tidak ingin meninggalkanmu," bisik Bagus. "Meskipun kau...,
meskipun kau tidak nyata,kau satu-satunya Laras yang kumiliki sekarang."
Laras tersenyum. Senyuman yang sama, tetapi untuk pertama kalinya, senyuman
itu tampak berbeda. Ada kesedihan di dalamnya. "Kau tidak meninggalkanku, Bagus.
Kau melepaskanku. Itu bedanya."
Bagus ingin meraihnya, memeluknya, memohon padanya untuk tetap tinggal.
Tetapi tangannya menembus tubuh Laras seperti menembus kabut. Ia mencoba lagi,
dan lagi, tetapi setiap kali, tangannya hanya menemukan udara kosong.
"Laras..." suaranya pecah.
"Sudah saatnya kau bangun, Bagus," katanya, suaranya mulai
memudar. "Arda menunggumu. Dan dia sudah terlalu lama menunggu."
Bagus menangis, tetapi kali ini, ia tidak lagi melawan rasa sakit itu. Ia
merasakannya,semuanya. Kehilangan, penyesalan, cinta, dan harapan.
Dan perlahan, ia mulai bangkit.
"Terima kasih, Laras," bisiknya. "Untuk semuanya."
Laras tersenyum. "Pergilah, Bagus. Aku akan selalu ada di sini,tidak
akan pernah pergi dan selalu menjadi kenangan yang kau pilih untuk diingat."
Dan ia menghilang.
Bagus berdiri sendirian di ruangan yang sunyi, dikelilingi oleh
monitor-monitor yang mati, tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa
sendirian. Karena ia tahu, di suatu tempat di luar sana, Arda menunggunya.
Ia berjalan menuju pintu yang muncul di ujung ruangan,pintu yang selama ini
ia takutkan, pintu yang ia hindari, pintu yang sekarang terbuka lebar untuknya.
Dan ia melangkah keluar, ke dalam cahaya.
Dan tiba-tiba dada bagus terasa sesak, di hadapannya tidak seperti apa yang
dia kira.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih