Seribu Mill (Dunia nyata ?)
Bagus tidak ingat persis kapan lorong itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Satu saat ia masih berdiri di hadapan pintu besi tua dengan gagang berbentuk tengkorak, dan saat berikutnya ia berada di sebuah ruangan yang sama sekali berbeda, ruangan yang tidak mungkin ada di rumahnya, di lorongnya, atau bahkan di dalam bayang-bayang yang ia kunjungi sebelumnya.
Ruangan itu luas, gelap, dan dipenuhi dengan deretan monitor yang
berkedip-kedip dengan cahaya Arda pucat. Dinding-dindingnya tidak terbuat dari
batu bata atau kayu, melainkan dari panel-panel logam dingin yang terhubung
dengan kabel-kabel tebal yang menjalar di lantai seperti urat nadi raksasa.
Udara di sini terasa berbeda, lebih kering, lebih steril, seperti udara di ruang
operasi atau laboratorium yang tidak pernah dimasuki manusia biasa.
Bagus berdiri di tengah ruangan itu, memutar tubuhnya perlahan, mencoba
mencerna apa yang ia lihat. Setiap monitor menampilkan gambar yang berbeda,
dapur rumahnya, kamar tidurnya, ruang tamu, halaman belakang, bahkan kamar
mandi. Ia melihat dirinya sendiri duduk di meja makan, memakan telur yang
selalu sama. Ia melihat Arda menggambar di kamarnya, dengan konsentrasi yang
tidak wajar. Ia melihat Laras tersenyum di depan cermin, menata rambutnya
dengan gerakan yang sama setiap hari.
Semua yang ia alami selama ini, setiap momen, setiap percakapan, setiap
senyum yang ia lihat,direkam, dipantau, dan ditayangkan di layar-layar ini
seolah-olah ia adalah aktor dalam pertunjukan yang tidak pernah ia sadari.
"Selamat datang di ruang kontrol, Bagus."
Suara itu muncul dari pengeras suara yang tersembunyi di sudut ruangan. Bagus
menoleh, tetapi tidak melihat siapa pun.
"Siapa kau?" tanyanya, suaranya bergetar meskipun ia berusaha
tetap tenang.
"Aku bukan siapa-siapa," jawab suara itu. "Aku adalah suara
yang kau ciptakan untuk membantu dirimu sendiri. Seperti bayanganmu di cermin.
Seperti Bagus yang lain di balik pintu kayu. Aku adalah bagian dari dirimu yang
mencoba membangunkanmu."
Bagus mendekati salah satu monitor. Di layar itu, ia melihat dirinya
sendiri sedang menulis di buku catatan,buku catatan yang ia temukan di lemari
beberapa hari lalu. Ia melihat dirinya menulis: "Hari ke-473. Aku
masih di sini."
"Apa ini?" tanyanya, suaranya hampir tidak terdengar.
"Ini adalah rekaman dari semua yang kau alami selama di dalam
simulasi," jawab suara itu. "Setiap hari, setiap malam, setiap
pikiran yang kau tulis, semuanya tercatat di sini. Karena kau tidak pernah
benar-benar percaya bahwa dunia ini nyata. Sebagian dari dirimu selalu
mencurigai kebohongan ini."
Bagus berjalan dari satu monitor ke monitor lain. Ada layar yang
menampilkan dirinya sedang berbicara dengan Mak Yati di warung kopi, ada layar
yang menampilkan dirinya berjalan di pasar tradisional, dan ada layar yang
menampilkan dirinya berdiri di depan pintu kayu berukir, tangannya menggantung
di udara, ragu dan takut.
"Kenapa aku menciptakan semua ini?" tanyanya, lebih kepada
dirinya sendiri daripada kepada suara itu.
"Kau tahu jawabannya, "kata suara itu. "Kau tidak bisa
menerima kenyataan bahwa Laras dan Arda, tidak ada lagi. Kau pikir dengan
menciptakan dunia ini, kau bisa menyelamatkan mereka. Tapi yang kau selamatkan
hanyalah versi palsu dari mereka. Dan yang kau korbankan adalah dirimu
sendiri."
Bagus menutup matanya. Ia merasakan beban yang sama, beban yang telah ia
pikul selama bertahun-tahun, beban yang kini terasa lebih berat dari
sebelumnya.
"Tapi Arda... kau bilang Arda masih hidup."
"Arda memang masih hidup," jawab suara itu. "Di dunia nyata.
Bukan di sini. Arda yang kau lihat di monitor itu," suara itu menunjuk ke
layar yang menampilkan Arda sedang menggambar, ",hanyalah rekonstruksi
dari ingatanmu. Ia tidak nyata. Ia tidak pernah berbicara, tidak pernah
tertawa, tidak pernah menangis. Ia hanya bergerak sesuai program."
Bagus membuka matanya dan menatap layar yang menampilkan Arda. Anak itu
masih menggambar dengan konsentrasi yang sama, dengan ekspresi yang sama. Tidak
ada emosi di matanya. Tidak ada kehidupan di balik senyumnya.
"Aku sudah membunuhnya, bukan?" bisik Bagus. "Di dunia ini,
aku membunuhnya dengan menciptakan dia sebagai boneka."
"Kau tidak membunuhnya," kata suara itu. "Kau hanya tidak
bisa melepaskannya. Dan selama kau tidak bisa melepaskannya, kau tidak akan
pernah bisa menemukannya."
Bagus menatap monitor-monitor itu satu per satu, melihat semua jejak
kehidupan yang telah ia ciptakan. Ada ribuan rekaman, ribuan momen yang
sebenarnya tidak pernah terjadi. Ia menjalani hari yang sama berulang kali,
dengan orang yang sama, dengan kata-kata yang sama, hanya untuk menghindari
rasa sakit yang seharusnya ia rasakan bertahun-tahun lalu.
"Aku ingin keluar," katanya akhirnya. "Aku ingin benar-benar
keluar."
"Itu bukan keputusan yang mudah," kata suara itu. "Karena
jika kau keluar, semua ini akan hilang. Laras, Arda, rumah ini, semua yang kau
kenal, akan lenyap. Dan kau akan sendirian di dunia yang tidak lagi kau
kenali."
"Aku sudah sendirian selama ini," jawab Bagus. "Aku hanya
tidak menyadarinya."
Suara itu terdiam sejenak. Lalu, perlahan, salah satu monitor di depannya
berubah tampilan. Tidak lagi menampilkan rekaman kehidupan simulasi, tetapi
menampilkan sebuah ruangan lain, ruangan yang lebih kecil, lebih gelap, dan
lebih nyata.
Di ruangan itu, Bagus melihat tubuhnya sendiri terbaring di atas tempat
tidur rumah sakit. Ada selang-selang silikon yang terhubung ke tubuhnya, dan di
sampingnya, seorang anak laki-laki duduk di kursi kecil, memegang tangannya
dengan erat.
Itu Arda. Arda yang nyata.
Bagus merasakan air mata mengalir di pipinya. Ia menatap layar itu, menatap
anaknya yang telah menunggu selama bertahun-tahun, dan untuk pertama kalinya,
ia merasa yakin.
"Aku akan keluar," katanya. "Aku akan kembali padanya."
"Kalau begitu," kata suara itu, lembut namun tegas,
"pecahkan monitor ini. Pecahkan dinding-dinding yang kau bangun. Dan
bangunlah."
Bagus mengangkat palu yang masih ia genggam. Palu yang sama yang ia gunakan
untuk memecahkan cermin. Palu yang membawanya ke ruangan ini.
Ia mengayunkannya sekuat tenaga ke monitor yang menampilkan dirinya
terbaring di rumah sakit.
Kaca pecah. Percikan api menyambar. Dan di dalam gelap yang tiba-tiba
menyelimuti ruangan itu, Bagus merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan
selama bertahun-tahun.
Kebebasan.
Dan kejatuhan.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih