Seribu Mill (Dunia yang Terlalu Teratur)
Di Pagi yang Lain.
Bagus mulai menyadari bahwa kejanggalan tidak hanya terjadi di dalam rumahnya, tetapi juga merembes ke luar,ke jalanan, ke pasar, ke setiap sudut yang ia kunjungi. Dunia di luar rumahnya bukanlah dunia yang ia kenal, melainkan replika yang terlalu sempurna, terlalu teratur, dan terlalu mati.
Hari kelima sejak ia menemukan buku catatan itu, Bagus memutuskan untuk berjalan lebih jauh dari biasanya. Ia ingin melihat apakah ada sesuatu yang berbeda di luar lingkungan tempat tinggalnya, sesuatu yang bisa mematahkan ilusi bahwa semuanya hanya berputar di sekitar rumahnya.
Ia melangkah melewati gerbang perumahan, melewati pos keamanan yang dijaga
oleh seorang satpam yang selalu tersenyum dengan gigi yang terlalu putih dan
seragam yang terlalu rapi.
"Selamat pagi, Pak Bagus," sapa satpam itu, dengan nada yang sama
persis setiap hari. "Cuaca cerah, ya? Hari yang baik untuk
berjalan-jalan."
Bagus mengangguk tanpa menjawab. Ia sudah bosan mendengar kalimat yang
sama.
Di luar perumahan, jalanan masih sepi. Beberapa mobil melintas, tetapi
semuanya berwarna hitam, putih, atau abu-abu, tidak ada warna cerah, tidak ada
variasi. Mereka melaju dengan kecepatan yang sama, menempuh jarak yang sama,
dan berhenti di lampu merah dengan durasi yang sama. Seperti mobil-mobil dalam
permainan simulasi yang tidak pernah selesai.
Bagus berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan. Ia duduk di kursi
plastik yang sudah usang, memesan segelas kopi hitam, dan memperhatikan
sekelilingnya.
Warung itu dikelola oleh seorang perempuan tua bernama Mak Yati. Ia
sudah berusia lanjut, tetapi matanya masih tajam, dan seringai di bibirnya
selalu penuh misteri. Bagus sering mampir ke sini dulu, sebelum semuanya terasa
aneh.
"Kopi hitam, ya, Mas?" tanya Mak Yati, meskipun ia sudah tahu
jawabannya.
"Ya, Mak. Terima kasih."
Mak Yati menuangkan kopi dari teko tua ke dalam gelas. Uapnya mengepul,
tetapi tidak meninggalkan bekas di udara. Aroma kopi tidak pernah menyengat, hanya
ada di sana, seperti kenangan yang sudah kehilangan baunya.
"Kau terlihat lelah, Mas," kata Mak Yati sambil duduk di
depannya. "Kurang tidur?"
Bagus mengangguk. "Aku tidak bisa tidur akhir-akhir ini. Banyak hal
yang mengganggu pikiranku."
"Seperti apa?" tanya Mak Yati, matanya menyipit.
Bagus terdiam sejenak. Ia ingin bercerita tentang bayangan yang bergerak
sendiri, tentang jam dinding yang berdetak mundur, tentang pintu di lorong yang
tidak bisa ia buka. Tetapi kata-kata itu terasa seperti menggila di mulutnya.
"Aku merasa... dunia ini tidak nyata," akhirnya ia berkata.
Mak Yati tertawa pelan. "Dunia ini memang tidak nyata, Mas. Yang nyata
hanyalah rasa sakit dan kebingungan kita. Sisanya hanya hiasan."
Bagus menatapnya dengan heran. "Apa maksudmu?"
Mak Yati menghela napas, lalu menunjuk ke arah seorang pria yang sedang
duduk di meja sebelah. Pria itu sudah berada di sana sejak Bagus tiba, tetapi
ia tidak pernah memesan apa pun. Ia hanya duduk, menatap kosong, dengan
secangkir air yang tidak pernah ia minum.
"Dia sudah duduk di sana setiap hari selama setahun," kata Mak
Yati. "Memesan segelas air, lalu tidak pernah meminumnya. Ia hanya
menunggu."
"Menunggu apa?" tanya Bagus.
"Menunggu dia sadar bahwa ia sudah mati."
Bagus merasakan bulu kuduknya merinding. "Mak, ini tidak lucu."
"Memang tidak lucu," jawab Mak Yati. "Tapi begitulah
kenyataannya. Beberapa orang tidak tahu bahwa mereka sudah mati. Mereka hanya
duduk di sini, menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang."
Bagus memandangi pria itu lagi. Sekarang ia melihat sesuatu yang aneh, pria
itu tidak memiliki bayangan. Di bawah sinar matahari yang terik, hanya kursinya
yang membentuk siluet gelap, tetapi tubuh pria itu tidak.
"Jangan terlalu memperhatikannya, Mas," kata Mak Yati sambil
bangkit. "Nanti kamu malah mulai melihat yang tidak seharusnya kau
lihat."
Bagus ingin bertanya lebih banyak, tetapi Mak Yati sudah pergi ke belakang
warung, meninggalkannya dengan kopi yang sudah dingin dan pertanyaan-pertanyaan
yang semakin menumpuk.
Dari warung, Bagus melanjutkan perjalanan ke pasar tradisional di ujung
jalan. Pasar itu biasanya ramai dengan pedagang dan pembeli, tetapi hari ini
terasa sepi,tidak ada teriakan, tidak ada tawar-menawar, hanya gerakan-gerakan
lambat yang seperti diulang dalam siklus yang sama.
Bagus berjalan melewati lapak-lapak sayur. Seorang pedagang menata bayam
dengan urutan yang sama, membalik daun yang sama, dan menyusun kembali dengan
gerakan yang persis sama. Seorang pembeli mengambil wortel, memegangnya
sejenak, lalu meletakkannya kembali tanpa membeli apapun.
"Maaf, Bu," sapa Bagus pada seorang pedagang daging yang tampak
sedang memotong daging dengan gerakan yang terlalu mekanis. "Hari ini sepi
sekali, ya?"
Pedagang itu menatapnya, lalu tersenyum. Senyum yang sama. Yang sama.
"Tidak, Mas. Hari ini sama seperti biasanya," jawabnya, tanpa
berhenti memotong daging yang tidak pernah habis.
Bagus melanjutkan berjalan. Di sudut pasar, ia melihat seorang anak kecil
duduk di lantai, menggambar dengan kapur di aspal. Gambar itu sama dengan
gambar Arda, sebuah rumah, pohon, matahari, dan figur bertopi di sampingnya.
Bagus mendekatinya. "Halo, Nak. Gambar itu bagus sekali."
Anak itu menatapnya, lalu berkata dengan suara yang terlalu dewasa untuk
seusianya. "Kau juga melihatnya, kan? Dia selalu ada."
"Melihat apa?"
"Pria bertopi. Dia yang menjaga pintu."
"Pintu apa?" tanya Bagus, dadanya berdebar lebih kencang.
Anak itu tersenyum, dan senyumnya sama dengan senyum Arda, sama dengan
semua orang yang ia temui hari ini. "Pintu yang hanya bisa dibuka oleh
yang siap mati."
Bagus mundur selangkah, dan anak itu kembali menggambar seperti tidak
terjadi apa-apa.
Bagus pulang dengan perasaan kacau. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada
dunianya, tetapi semakin hari ia semakin yakin bahwa segala sesuatunya tidak
nyata. Setiap orang yang ia temui, setiap kata yang ia dengar, semuanya seperti
bagian dari cerita yang sama, cerita yang ditulis untuk membuatnya tenang,
untuk mencegahnya bertanya lebih jauh.
Malam itu, ia duduk di ruang tamu, menatap layar televisi yang masih
menampilkan berita yang sama. Wanita pembawa acara itu tersenyum, bicara tanpa
suara, dan angka di sudut layar terus berdetak mundur: 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1...
Lalu angka itu kembali ke 7. Dan berputar lagi. Seperti siklus yang tidak
pernah berakhir.
Bagus mematikan televisi dan menatap cermin di atas perapian. Kali ini,
bayangannya tidak bergerak,tetapi matanya berbeda. Matanya yang di cermin
tampak menyala merah, seperti bola api kecil yang menyala dalam gelap.
"Kau kira dengan keluar rumah kau akan menemukan jawaban?" tanya
bayangan itu. Suaranya lebih jelas dari sebelumnya, lebih nyata, seperti suara
yang berasal dari suatu tempat yang sangat dekat.
"Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi," jawab Bagus, berusaha
tetap tenang.
"Yang terjadi adalah kau sudah lama mati, Bagus. Dan semua ini,"
bayangan itu menunjuk ke ruangan, ",adalah ruang tunggu. Tempatmu menunggu
untuk dilupakan, atau untuk ingat."
"Aku tidak bisa mati," bisik Bagus. "Aku merasa hidup. Aku
bisa merasakan dinginnya lantai, baunya kopi, suara Arda..."
"Kau merasakan apa yang kau inginkan untuk dirasakan. Dunia ini hanya
pantulan dari keinginanmu,rumah yang sempurna, keluarga yang bahagia, hari-hari
yang tenang. Tapi bahkan pantulan terbaik pun tidak akan pernah menjadi
nyata."
Bagus menutup matanya. Ia tidak mau mendengar lebih banyak. Tetapi bayangan
itu tidak berhenti.
"Mau tahu bagaimana caranya keluar? Bukalah pintu itu. Di lorong. Kau
tahu pintu yang mana."
"Pintu itu tidak ada," kata Bagus. "Aku sudah
menghancurkannya. Hanya ada dinding beton di baliknya."
"Kau menghancurkan pintu palsu. Pintu yang asli ada di dalam dirimu.
Dan kau harus siap kehilangan semuanya sebelum kau bisa membukanya."
Bagus tidak menjawab. Tangannya masih tergantung di udara, gemetar, tidak
berani maju dan tidak mampu mundur.
Di kejauhan, ia mendengar suara Arda tertawa. Suara Laras memanggilnya
untuk makan malam. Semua terasa hangat, normal, aman.
Tetapi dia tidak tau apa yang sedang menunggunya, dan Bagus tidak tahu apakah ia cukup kuat untuk melihatnya.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih