Seribu Mill (Dinding yang Menyusut)

 Tiga malam telah berlalu sejak Bagus berdiri di hadapan pintu kayu berukir itu, dan setiap malam ia kembali ke lorong yang sama, berdiri di depan pintu yang sama, dengan tangan yang tetap menggantung di udara,tidak berani membuka, tidak mampu berpaling. Pintu itu tidak pernah hilang, tidak pernah berubah. Ia hanya menunggu, seperti jurang yang sabar menanti jatuhnya seseorang.

Tapi malam ini, ada yang berbeda.

Bagus terbangun bukan karena bisikan, bukan karena mimpi buruk, tetapi karena ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sesak. Bukan sesak di dada, tetapi sesak di seluruh ruangan. Dinding-dinding kamarnya seakan merapat, mendekat perlahan, seperti paru-paru yang kehilangan udara. Ia duduk di tepi tempat tidur, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa langit-langit kamarnya lebih rendah dari yang ia ingat. Plafon putih yang dulu mulus kini terasa seperti menekan kepalanya dari atas, dan dinding-dinding di sekelilingnya tampak lebih dekat, lebih sempit, lebih mengurung.

Ia menoleh ke samping. Laras masih tidur,tetapi posisinya tidak lagi sempurna. Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seperti topeng yang dilepas di tengah malam. Rambutnya tidak lagi terurai indah; ia kusut, acak, seperti seseorang yang baru saja berjuang dalam tidurnya.

Bagus meraih bahunya. "Laras?"

Tidak ada jawaban.

Ia mengguncangnya pelan. "Laras! Bangun!"

Matanya terbuka,tetapi bukan seperti biasanya. Bukan dengan kewaspadaan mesin, tetapi dengan tatapan kosong yang menakutkan. Pupilnya melebar, tidak fokus, seperti ia sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh Bagus.

"Kau…" suara Laras serak, berbeda. Bukan suara lembut yang biasa ia dengar, tetapi suara yang penuh beban, seperti seseorang yang baru saja sadar dari mimpi panjang. "Kau masih di sini?"

"Tentu saja aku di sini," jawab Bagus, bingung. "Apa maksudmu?"

Laras tidak menjawab. Ia hanya menatap Bagus dengan mata yang penuh ketakutan,ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Lalu, perlahan, ia berkata:

"Aku sudah mati, Bagus. Aku mati bertahun-tahun lalu. Dan kau… kau yang membunuhku."

Bagus mundur. Darahnya terasa membeku. "Apa? Tidak! Aku tidak pernah,"

"Kau tidak ingat?" Laras tersenyum, tetapi senyum itu bukan senyum yang hangat. Itu adalah senyum yang pahit, senyum yang menyimpan luka. "Kau ingat kecelakaan itu? Di jalan tol? Arda ada di belakang. Aku yang menyetir. Dan kau… kau yang meminta kami pergi cepat. Kau yang mendesakku."

Bagus merasakan dadanya sesak. Kenangan-kenangan mulai berdesakan di kepalanya,potongan-potongan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Jalan tol. Hujan deras. Suara klakson. Dan teriakan.

"Tidak…" bisiknya. "Itu tidak terjadi. Itu hanya mimpi."

"Kau sudah lupa, karena kau tidak mau mengingat," kata Laras. Suaranya mulai menghilang, menjadi samar, seperti gema di ruang kosong. "Tapi kau harus ingat, Bagus. Karena pintu itu tidak akan terbuka jika kau terus berbohong pada dirimu sendiri."

Bagus mencoba meraihnya, tetapi tangannya menembus tubuh Laras seperti menembus kabut. Istrinya mulai memudar, perlahan, seperti tinta yang larut dalam air.

"Laras! Jangan pergi!"

"Buka pintunya, Bagus," bisiknya untuk terakhir kalinya. "Buka sebelum dinding-dinding ini benar-benar menelanmu."

Dan Laras menghilang.

Bagus duduk di tepi tempat tidur, sendiri, di kamar yang sekarang terasa lebih sempit dari sebelumnya. Dinding-dinding itu masih merapat, perlahan, seperti rahang raksasa yang sedang menutup.

Ia berlari ke lorong. Pintu kayu berukir itu masih ada, tetapi sekarang berbeda. Ukiran di atasnya tidak lagi bertuliskan "INGAT",sekarang tertulis "AKU" .

Bagus menatapnya, dadanya berdebar kencang. Tangannya meraih gagang pintu, dan kali ini ia tidak ragu lagi. Ia memutarnya.

Pintu terbuka.

Di baliknya, bukan ruangan, bukan koridor,tetapi sebuah ruang kosong yang luas, seperti gudang besar yang tidak berujung. Di tengah ruangan, ada sebuah kursi. Dan di kursi itu, duduk seorang pria yang sangat familiar.

Dirinya sendiri.

Bagus yang lain menatapnya dengan mata yang tenang, dingin, dan tanpa emosi.

"Akhirnya," kata Bagus yang lain. "Aku sudah menunggumu."

"Apa ini?" tanya Bagus, suaranya bergetar.

"Ini adalah dirimu yang sebenarnya," jawab Bagus yang lain. "Yang kau lihat selama ini hanyalah bayangan,bayangan yang kau ciptakan untuk melindungi dirimu dari rasa sakit."

Bagus mencoba mendekat, tetapi kakinya terasa berat, seperti berjalan di dalam lumpur.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya.

"Kau mengalami kecelakaan," kata Bagus yang lain. "Kau kehilangan Laras dan Arda dalam kecelakaan itu. Dan kau tidak bisa menerimanya. Jadi kau menciptakan dunia ini,dunia di mana mereka masih hidup, di mana kau masih bahagia."

Bagus jatuh berlutut. Air mata mengalir di pipinya. "Tapi mereka… mereka nyata. Aku bisa merasakan mereka."

"Mereka nyata di dalam kepalamu," kata Bagus yang lain. "Tapi di dunia nyata, mereka sudah tiada. Dan kau harus menerimanya jika kau ingin keluar dari sini."

Bagus menangis tersedu-sedu. Ia tidak mau menerima kenyataan itu. Ia lebih memilih tinggal di dunia palsu yang hangat, di mana Laras dan Arda masih ada, meskipun mereka hanya ilusi.

"Tapi Laras tadi… dia bilang aku yang membunuhnya."

Bagus yang lain menghela napas. "Laras mati karena kau memintanya memacu mobil lebih cepat. Kau tidak bermaksud membunuhnya, tetapi kau menanggung rasa bersalah itu setiap hari. Itu sebabnya kau menciptakan dunia ini,untuk menghukum dirimu sendiri."

Bagus terdiam. Semua potongan mulai menyatu. Rasa bersalah. Kehilangan. Dan dinding-dinding yang menyusut.

"Apa yang harus kulakukan?" bisiknya.

"Kau harus memilih," kata Bagus yang lain. "Tetap di sini, dalam kebahagiaan palsu yang perlahan akan menghancurkanmu. Atau keluar, menghadapi kenyataan yang hancur, dan mulai hidup lagi."

Bagus memandangi ruang kosong di sekelilingnya. Ia bisa merasakan dinding-dinding itu semakin dekat, semakin sempit, semakin menyesakkan.

"Apa yang terjadi jika aku tetap di sini?"

"Kau akan hilang," kata Bagus yang lain. "Dunia ini akan terus menyusut sampai tidak ada lagi ruang untukmu. Dan kau akan lenyap seperti Laras dan Arda,menjadi kenangan yang bahkan kau sendiri tidak ingat."

Bagus menutup matanya. Ia merasakan beban yang begitu berat di pundaknya, beban yang telah ia pikul bertahun-tahun tanpa ia sadari.

"Ingin aku katakan sesuatu yang mungkin bisa menolongmu?" tanya Bagus yang lain.

"Apa?"

"Arda tidak mati dalam kecelakaan itu. Ia selamat. Ia menunggumu di dunia nyata."

Bagus membuka mata dengan kaget. "Apa?"

"Kau tidak pernah mencarinya," kata Bagus yang lain. "Kau terlalu sibuk membangun dunia ini untuk melindungi dirimu. Tapi Arda masih hidup. Dan ia menunggumu."

Bagus merasakan sesuatu yang baru dalam dadanya,bukan rasa sakit, bukan rasa bersalah, tetapi harapan. Harapan yang selama ini ia kubur.

"Bagaimana aku bisa keluar?"

"Aku akan menunjukkan padamu," kata Bagus yang lain, sambil berdiri dari kursinya. "Tapi kau harus percaya bahwa dunia nyata layak untuk dihadapi."

Bagus mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa siap.

"Tunjukkan jalannya," katanya.

Dan dinding-dinding di sekelilingnya mulai retak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan