Seribu Mill (Emosi)

Setelah melewati kaca, Bagus tidak menemui masa lalunya, ia menemui ruang yang sama sekali berbeda. Ruang itu terasa seperti kekosongan yang berwujud, seperti sebuah ruangan yang tidak memiliki dinding, tetapi tetap terasa sempit. Udara di sekelilingnya dingin, lembap, dan seperti menekan dari segala arah. Tidak ada monitor, tidak ada suara, tidak ada Arda, tidak ada Laras. Hanya ia dan ruang kosong yang terus menyusut seperti dinding yang merapat.

Ia berjalan beberapa langkah, tetapi tidak ada yang berubah, ia tetap berada di tengah ruang kosong, tidak bisa menentukan kapan tubuhnya berhenti. Kakinya menginjak sesuatu yang terasa seperti tanah, tetapi terlalu licin dan terlalu halus, seperti permukaan kaca yang tidak pernah tampak.

"Aku di sini!" teriaknya. Suaranya tidak bergema, tidak juga teredam. Ia seperti terperangkap di dalam ruangan yang menelan semua suara tanpa peduli. "Aku sudah melewati tahap pertama! Aku sudah mengakui ilusi! Aku sudah melepaskan rumah, Laras, bahkan Arda! Aku sudah melewati ujian!"

Tidak ada yang menjawab.

"Arsitek!" teriaknya lagi, kali ini lebih keras, lebih marah. "Kau yang merancang semua ini! Aku tahu kau mendengarku! Keluarlah dan tunjukkan dirimu! Hentikan permainan ini!"

Tetap diam.

"Kau pikir kau bisa menghancurkanku hanya dengan mengisolasi aku?!" Bagus terus berteriak, napasnya mulai tersengal. "Aku sudah kalah besar di dunia nyata! Aku kehilangan segalanya, istriku, rumahku, hidupku! Aku hampir kehilangan anakku! Dan kau masih mengujiku dengan teka-teki dan bayangan?!"

Ia berhenti. Napasnya berat. Tubuhnya menggigil bukan karena dingin, tetapi karena amarah yang sudah memuncak.

Lalu, sebuah suara datang. Bukan dari suatu arah, tetapi dari dalam dirinya sendiri,seolah ia berbicara kepada dirinya sendiri dengan suara yang sedikit berbeda, lebih tua, lebih lelah.

"Kau pikir kau bisa melawan dengan amarah?"

Bagus menoleh ke kiri dan kanan, tetapi tetap tidak ada apa pun.

"Kau telah menghabiskan bertahun-tahun dalam kemarahan," lanjut suara itu. "Marah pada dunia, marah pada kecelakaan, marah pada dirimu sendiri. Dan kemarahan itu tidak pernah membawamu kemana-mana. Ia hanya membutakanmu, mengeraskanmu, dan menjebakmu dalam lingkaran yang sama."

"Siapa kau?" tanya Bagus, suaranya lebih pelan, lebih lelah.

"Aku adalah bagian dari dirimu yang telah melewati semua ini sebelumnya," jawab suara itu. "Kau tidak ingat, karena kau selalu memulai dari awal setiap kali kau masuk ke simulasi. Tapi aku ingat. Aku ingat setiap kali kau berteriak, memaki, menuduh Arsitek sebagai algojo. Dan setiap kali, kau hanya memperpanjang penderitaanmu sendiri."

Bagus terdiam. Kata-kata itu terasa seperti titik terang dalam kabut yang ia alami, tetapi ia belum siap menerimanya.

"Kau tidak bisa membenciku," kata Bagus, suaranya sedikit bergetar. "Kau bisa membenciku. Kau bisa memakiku. Tapi kemarahanmu tidak akan mengubah apa pun. Ia tidak akan membawamu pulang. Ia hanya akan mengurungmu lebih dalam."

"Jadi kau bilang aku harus diam? Pasrah? Menerima semua ini sebagai takdir?" Bagus mendekat ke arah suara itu, meskipun tidak tahu ke mana ia harus melangkah.

"Aku bilang kau harus berhenti melawan dengan cara yang salah," kata suara itu dengan lembut. "Kemarahan adalah senjata tumpul. Ia bisa menghancurkan, tetapi ia tidak bisa membangun. Dan untuk keluar dari sini, kau harus membangun kembali jembatan yang telah kau bakar."

Bagus terdiam lama. Ia duduk di lantai,lantai yang terasa seperti kaca tetapi dingin seperti es, dan menatap kehampaan di hadapannya.

"Aku lelah," katanya pelan. "Aku sangat lelah."

"Aku tahu," kata suara itu. "Tapi lelah bukanlah alasan untuk berhenti. Lelah adalah alasan untuk beristirahat. Dan istirahat tidak sama dengan menyerah."

Bagus menunduk. Ia merasakan matanya mulai terasa panas, tetapi kali ini ia tidak menangis. Ia hanya duduk di sana, membiarkan ruang kosong itu merangkulnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melawan.

"Bagaimana caranya?" bisiknya. "Bagaimana aku membangun jembatan yang sudah hancur?"

"Kau memulainya dengan memaafkan dirimu sendiri," kata suara itu. "Itulah tahap kedua yang sebenarnya. Bukan hanya menghadapi rasa bersalah, tetapi melepaskannya."

Bagus mengangkat kepalanya. Di hadapannya, sebuah cermin mulai terbentuk,cermin yang perlahan memantulkan wajahnya sendiri. Tidak ada distorsi, tidak ada ilusi. Hanya dirinya. Matanya sayu, lekuk wajahnya lelah, tetapi di dalamnya, ada sisa-sisa tekad yang tidak pernah benar-benar padam.

"Aku memaafkanmu," kata suara itu, dan kali ini suara itu sama dengan suaranya sendiri, tidak berbeda, tidak lebih tua, hanya sama. "Kau pantas untuk dimaafkan, Bagus."

Ia menatap bayangannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di matanya, bukan amarah, bukan keputusasaan, tetapi keinginan untuk hidup.

"Aku memaafkanmu," katanya pada bayangannya. "Dan aku akan pulang."

Cermin itu retak, pecah, dan berubah menjadi cahaya,cahaya yang perlahan membentuk jalan di hadapannya.

TAHAP 2 , SELESAI

"Kau telah menghadapi rasa bersalah dan mulai memaafkan dirimu sendiri. Tapi ingat, memaafkan hanyalah awal. Langkah berikutnya adalah menerima bahwa kau pantas untuk bahagia."

Bagus melangkah ke jalan cahaya itu. Tidak ada teriakan, tidak ada kemarahan. Hanya langkah dan harapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Guru dengan Wajah Menyebalkan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan