Seribu Mill (Musuh?)
Jalan cahaya membawa Bagus keluar dari ruang hampa menuju sebuah ruangan yang sama sekali berbeda. Ruangan itu terang, steril, dan berbau antiseptik, bau yang sangat ia kenali, bau yang selalu ia hubungkan dengan rasa sakit dan kehilangan. Dinding-dindingnya putih, lantainya mengkilap, dan di tengah ruangan, sebuah meja kayu dengan dua kursi menghadap satu sama lain. Di salah satu kursi itu, seorang pria sudah duduk menunggunya. Pria itu mengenakan jas putih, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya menunjukkan senyum ramah yang tidak pernah sampai ke matanya. Dokter Reza. Pria yang sama yang muncul di rumahnya beberapa hari lalu, menawarkan bantuan, menyarankan relaksasi, dan menghilang begitu saja. "Bagus," sapa Reza, suaranya lembut seperti biasa. "Aku sudah menunggumu." Bagus tidak duduk. Ia berdiri di hadapan meja itu, menatap Reza dengan perasaan campur aduk,antara kelegaan karena melihat wajah yang familiar dan kecurigaan yang mendalam,kebingungan dan ama...