Seribu Mill (Musuh?)

Jalan cahaya membawa Bagus keluar dari ruang hampa menuju sebuah ruangan yang sama sekali berbeda. Ruangan itu terang, steril, dan berbau antiseptik, bau yang sangat ia kenali, bau yang selalu ia hubungkan dengan rasa sakit dan kehilangan. Dinding-dindingnya putih, lantainya mengkilap, dan di tengah ruangan, sebuah meja kayu dengan dua kursi menghadap satu sama lain.

Di salah satu kursi itu, seorang pria sudah duduk menunggunya.

Pria itu mengenakan jas putih, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya menunjukkan senyum ramah yang tidak pernah sampai ke matanya. Dokter Reza. Pria yang sama yang muncul di rumahnya beberapa hari lalu, menawarkan bantuan, menyarankan relaksasi, dan menghilang begitu saja.

"Bagus," sapa Reza, suaranya lembut seperti biasa. "Aku sudah menunggumu."

Bagus tidak duduk. Ia berdiri di hadapan meja itu, menatap Reza dengan perasaan campur aduk,antara kelegaan karena melihat wajah yang familiar dan kecurigaan yang mendalam,kebingungan dan amarah.

"Kau," kata Bagus, suaranya datar namun tegang. "Kau muncul di rumahku. Kau bilang kau psikiater. Tapi kau bukan siapa-siapa, kan?"

Reza tersenyum. "Aku adalah apa yang kau perlukan. Kadang sebagai teman, kadang sebagai musuh. Tergantung pada seberapa dalam kau ingin menggali."

"Aku tidak butuh teka-teki," potong Bagus. "Aku sudah cukup melihat ilusi. Katakan siapa kau sebenarnya."

Reza menghela napas, lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke jendela yang tiba-tiba muncul di dinding,jendela yang memperlihatkan pemandangan kota yang tidak pernah Bagus kenali. Gedung-gedung tinggi, jalanan sibuk, dan di kejauhan, laut yang tampak seperti dilukis dengan kuas yang terlalu halus.

"Aku adalah mmmm," kata Reza. "Aku yang memastikan bahwa siapa pun yang mencoba keluar dari tempat ini benar-benar siap. Dan kau, kau... kau sudah melewati dua tahap. Tapi tahap ketiga akan sangat sulit bagi mu."

Bagus mendekat. "Apa yang harus kulakukan?"

Reza berbalik, menatapnya dengan mata yang tajam dan dingin. "Kau harus menerima bahwa kaulah yang menciptakan semua ini. Bukan aku, bukan Laras, bukan Arda, bukan Arsitek. Kau."

Bagus membeku. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga. Ia sudah mendengar bisikan serupa dari suara di ruang hampa, tetapi mendengarnya dari mulut Reza,dari seseorang yang tampak nyata,membuatnya terasa lebih berat.

"Aku tidak... aku tidak mungkin," gumamnya. "Aku tidak punya kemampuan untuk menciptakan dunia seperti ini."

"Kau tidak perlu kemampuan," kata Reza. "Yang kau butuhkan adalah trauma yang cukup dalam dan keinginan yang cukup kuat untuk melarikan diri. Kau kehilangan Laras dan hampir kehilangan Arda dalam kecelakaan itu. Kau tidak bisa menerima kenyataan. Jadi otakmu,pikiranmu yang putus asa,menciptakan dunia ini. Rumah yang sempurna, istri yang setia, anak yang lucu. Semua untuk membuatmu tetap tenang, tetap aman, tetap dalam kebohongan."

Bagus merasakan kepalanya berdenyut. Ia meraih meja untuk menopang tubuhnya. "Tapi kenapa aku tidak ingat?"

"Karena kau tidak ingin ingat," jawab Reza. "Setiap kali kau mendekati kebenaran, pikiranku,pikiranku yang masih dalam mode perlindungan,akan mengarahkanmu kembali ke awal. Itu sebabnya kau selalu memulai dari hari yang sama. Itu sebabnya sarapanmu selalu telur orak-arik. Itu sebabnya Laras selalu tersenyum dengan cara yang sama. Semua adalah siklus yang dirancang untuk mencegahmu mengingat."

Bagus menunduk. Tangannya gemetar di atas meja kayu. "Jadi... aku tidak pernah benar-benar maju? Aku hanya berputar-putar di lingkaran yang sama?"

Reza mengangguk. "Sampai sekarang. Entah bagaimana, kau berhasil menembusnya. Mungkin karena ada bagian dari dirimu yang lebih kuat dari rasa sakitmu. Mungkin karena Arda di dunia nyata terus memanggilmu. Tapi kau di sini sekarang. Dan kau harus memutuskan."

"Memutuskan apa?"

"Apakah kau ingin terus menjadi pencipta dunia ini, atau menjadi penghuninya?" Reza mendekat, matanya menatap Bagus dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Jika kau tetap menjadi pencipta, kau bisa mengubah apa pun. Menghidupkan kembali Laras, membuat Arda tertawa, memperbaiki rumah yang rusak. Tapi semua itu hanya ilusi. Jika kau menjadi penghuni, kau harus menerima bahwa kau tidak memiliki kendali. Bahwa dunia ini sudah rusak, dan satu-satunya cara untuk keluar adalah dengan menghancurkannya."

Bagus mengangkat kepalanya. Matanya merah, tetapi tidak ada air mata. Hanya tekad yang terbentuk perlahan.

"Aku sudah memilih," katanya. "Aku ingin keluar."

Reza tersenyum, tetapi senyum itu tidak lagi ramah. Ia berubah, perlahan, menjadi sesuatu yang lain,sesuatu yang lebih gelap, lebih tua, dan lebih menakutkan.

"Kalau begitu," kata Reza, suaranya bergema seperti guntur di ruangan yang sempit, "kau harus melewati aku."

Dinding-dinding putih itu mulai retak. Cahaya antiseptik berganti menjadi kegelapan, dan dari balik bayangan-bayangan yang muncul, Bagus melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat,dirinya sendiri, dalam berbagai versi, semuanya menatapnya dengan mata yang penuh tuduhan.

"Siapa kau sebenarnya?" bisik Bagus, suaranya nyaris tak terdengar.

"Aku adalah kau yang tidak mau bangun," jawab Reza, dan suaranya kini bergema dari segala arah. "Aku adalah kau yang memilih kebohongan karena kebenaran terlalu menyakitkan. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah."

Bagus mengertakkan gigi. Ia tidak punya senjata, tidak punya rencana. Hanya ada tekad yang telah ia bangun selama perjalanan ini.

"Aku tidak peduli siapa kau," katanya, suaranya mantap. "Aku sudah melewati ilusi rumah, aku sudah melepaskan Laras, aku sudah memaafkan diriku sendiri. Aku tidak akan berhenti di sini."

Ia melangkahmaju, menuju Reza yang mulai memudar, menuju kegelapan yang mengancam, menuju apa pun yang menunggunya di sisi lain.

"Aku akan pulang," katanya. "Untuk Arda."

Dan dunia di sekelilingnya runtuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Guru dengan Wajah Menyebalkan

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan