Seribu Mill (Gangguan-Gangguan Kecil)
Tiga hari telah berlalu sejak Bagus menemukan buku catatan itu. Tiga hari sejak ia menyadari bahwa bayangannya tidak pernah bergerak bersamanya. Tiga hari sejak ia mulai mencatat setiap kejanggalan di sekitarnya, dan setiap catatan hanya semakin mengonfirmasi ketakutannya.
Hari pertama, ia menulis, tetangga menyapaku dengan kalimat yang
persis sama setiap pagi, selamat pagi, Bagus. Cuaca cerah, ya? Bahkan ketika
hujan turun, mereka tetap berkata, cuaca cerah. Aku tidak tahu apakah mereka
buta atau aku yang gila.
Hari kedua, Laras memasak telur ceplok setiap sarapan. Bentuknya
bulat sempurna, rasanya sama persis. Tidak pernah asin, tidak pernah hambar, selalu
berada di titik tengah yang membosankan. Aku bertanya apakah dia bisa memasak
telur dadar, dia tersenyum dan berkata, "Besok, sayang." Tapi besok tidak
pernah datang.
Hari ketiga, Arda terus menggambar figur bertopi. Aku bertanya siapa
itu, dan dia menjawab, "Dia yang menjaga pintu." Aku bertanya pintu apa, dan
dia menunjuk ke dinding kosong di kamarnya. Di dinding itu, tidak ada pintu.
Hanya cat putih yang terlalu mulus.
Bagus duduk di ruang tamu, memandangi buku catatan itu dengan tatapan
kosong. Tangannya gemetar. Ia ingin percaya bahwa ini semua hanya kebetulan,
bahwa pikirannya terlalu lelah, bahwa ia hanya perlu istirahat yang lebih lama, tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan, angka di halaman terakhir buku
catatan itu.
"Hari ke-473."
Jika ia telah menulis selama 473 hari, maka ia telah berada di rumah ini
jauh lebih lama dari yang ia ingat. Tapi ketika ia mencoba mengingat hari-hari
sebelumnya, hari ke-400, ke-300, ke-100,semuanya kosong. Seperti film yang
kehilangan gulungannya.
Ia menutup buku catatan itu dan meletakkannya di atas meja. Di depannya,
televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita yang sama, seorang pembawa
acara wanita yang tersenyum, berbicara tanpa suara, dengan angka di sudut layar
yang terus berdetak mundur.
Bagus mengambil remote dan menaikkan volume.
"..." Tidak ada suara. Hanya senyum wanita itu yang semakin
lebar, seolah-olah ia tahu bahwa Bagus sedang memperhatikannya.
Ia berganti saluran, berita yang sama, wanita yang sama dan senyum yang sama.
Ia berganti saluran lagi. Sama.
Dan lagi. Sama.
Akhirnya, ia mematikan televisi dan membuang remot ke sofa. Di cermin di
atas perapian, ia melihat bayangannya sendiri, tetapi kali ini, bayangan itu
tidak diam. Bayangan itu mengangkat tangan, melambai padanya, lalu menunjuk ke
arah lorong di belakangnya.
Bagus menoleh. Lorong itu gelap, seperti biasanya. Tidak ada apa-apa. Ia
menoleh kembali ke cermin, tetapi bayangannya sudah kembali ke posisi semula,
diam dan membeku.
Ia bangkit dan berjalan ke lorong. Udara di sana terasa lebih dingin dari
ruangan lain, seolah-olah ada AC yang menyala di ujungnya. Ia melangkah
perlahan, melewati pintu kamar Arda yang tertutup, melewati kamar mandi yang
lampunya selalu menyala meskipun tidak ada yang menggunakannya, dan berhenti di
depan pintu terakhir, pintu yang tidak pernah ia buka sejak pindah ke rumah ini.
Kenapa? Ia tidak ingat.
Tangannya meraih gagang pintu. Logamnya dingin, terlalu dingin, seperti es
yang sudah membeku selama ribuan tahun. Ia memutar gagangnya perlahan.
Terkunci.
Ia mencoba lagi. Terkunci.
Ia mengetuk pintu itu, berharap ada jawaban dari baliknya. Tidak ada suara.
Hanya keheningan yang semakin dalam.
Lalu, dari balik pintu, ia mendengar suara...tidak jelas..samar dan pelan.
Suara itu familiar. Suaranya sendiri. Tetapi ia tidak pernah berbicara, bibirnya
tidak bergerak.
Ia mundur selangkah, lalu berbalik dan berjalan cepat kembali ke ruang
tamu. Jantungnya berdebar kencang, dan tangannya masih gemetar saat ia
mengambil buku catatan itu. Ia membuka halaman kosong dan menulis.
"Hari ke-474: Ada pintu di lorong yang tidak bisa kubuka. Suara di
baliknya aku tidak tahu... Aku tidak tahu apa yang ada di sana. Tapi aku mulai
takut bahwa aku tidak ingin mengetahuinya."
Malam itu, Bagus tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidur,
mendengarkan napas Laras yang teratur dan tenang, terlalu teratur, terlalu
tenang, seperti mesin yang sedang tidur. Di luar, angin malam berdesir, tetapi
pepohonan tetap diam.
Ia menatap langit-langit, mencoba mengingat masa lalu. Ia ingat bahwa ia
pernah bekerja di sebuah perusahaan teknologi. Ia ingat bahwa ia pernah
memiliki rekan kerja yang menyebut dirinya "Rama". Ia ingat bahwa
Rama sering bercerita tentang proyek rahasia yang disebut "Kantong", sebuah
simulasi yang dirancang untuk melindungi pikiran manusia dari kebenaran yang
terlalu berat untuk dihadapi.
Tapi ketika ia mencoba mengingat wajah Rama, yang ia lihat hanyalah siluet
kabur, seperti foto yang terlalu lama terpapar sinar matahari.
Ia memejamkan mata, dan di dalam kegelapan, ia melihat angka-angka:
"Proyek Kantong - Tahap 3 - Subjek: E. Status: Tidak Stabil."
Ia membuka mata dengan kaget. Angka-angka itu menghilang, tetapi rasa
dingin di punggungnya tetap ada.
Ia menoleh ke Laras. Istrinya masih tidur dengan posisi yang sama. Tetapi
kali ini, senyumnya tampak sedikit berbeda, seperti ada sesuatu yang bergerak di
balik bibirnya, sesuatu yang mencoba keluar.
Bagus membangunkannya. "Laras?"
Matanya terbuka. Tidak ada kantuk di dalamnya, hanya kewaspadaan yang tidak
wajar.
"Ada apa, sayang?" tanyanya, dengan suara yang sama persis, tanpa
variasi.
"Apa kau kenal seseorang bernama Rama?"
Laras terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Rama? Aku tidak kenal. Tapi
aku yakin dia teman baikmu." Suaranya datar, tanpa emosi.
Bagus menatapnya lama. "Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seperti kau sedang membaca skrip."
Laras tertawa, tawa yang sama persis dengan tawa di pagi hari, dengan tawa
di film-film, dengan tawa yang tidak pernah berubah.
"Kau lucu, sayang," katanya. "Aku hanya lelah.
Tidurlah."
Ia memejamkan mata, dan dalam hitungan detik, ia kembali tertidur. Tidak
ada transisi, tidak ada gerakan, hanya mati dan hidup, seperti saklar yang
ditekan.
Bagus tidak tidur semalam itu. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap
kegelapan, dan mendengarkan bisikan-bisikan dari balik pintu di lorong.
suara pelan yang samar tidak jelas .
Keesokan paginya, Bagus mengambil palu dari gudang. Ia berjalan ke lorong,
berdiri di depan pintu yang terkunci, dan mengayunkan palu itu dengan sekuat
tenaga.
Kayu retak, serpihan-serpihan berhamburan dan di balik pintu yang hancur,
ia tidak menemukan ruangan, ia menemukan dinding beton yang kokoh, tanpa celah,
tanpa pintu, tanpa apa pun.
Ada tanda tangan yang sangat familiar, namanya sendiri, ditulis dengan
tinta merah yang tampak seperti darah.
Bagus jatuh berlutut. Palu terlepas dari genggamannya. Ia menangis, bukan
karena takut, tetapi karena ia mulai menyadari bahwa ia telah terjebak di sini
lebih lama dari yang ia kira, bahwa ia mungkin pernah mencoba keluar,
berkali-kali, dan selalu gagal.
"Tolong," bisiknya ke dinding beton. "Tolong, aku mau
keluar."
Komentar
Posting Komentar
terima kasih