Seribu mill (Prolog)
Prolog
Di ruang yang dingin dan berbau formalin, ada kantung mayat bernomor 7. Di
dalamnya, Dia terbaring dengan mata yang tidak bisa ia tutup rapat-rapat.
Tubuhnya kaku, tetapi pikirannya bergerak cepat, melompat-lompat antara
kenangan yang tampak asing dan mimpi yang terasa nyata. Ia tidak ingat kapan ia
mati. Ia tidak ingat bagaimana ia sampai di sini. Yang ia ingat hanyalah
bisikan, bisikan yang terus berulang, seperti mantra yang dipaksakan masuk ke
dalam kepalanya.
"Kau bukan siapa-siapa," suara itu berbisik. "Kau hanya sketsa yang lupa bahwa ia
tidak pernah diwarnai."
Dia mencoba menggerakkan jarinya. Tidak ada respons. Tubuhnya seakan-akan
bukan miliknya lagi, seperti baju yang terlalu longgar dan tidak pernah pas. Di
luar kantung, ada suara orang berbicara dengan nada pelan, profesional, dan
tanpa emosi. Suara dokter, mungkin, atau perawat. Mereka tidak tahu bahwa ada
tubuh yang masih mendengar. Mereka tidak tahu bahwa di balik kantung plastik itu,
ada seseorang yang berjuang untuk mengingat siapa dirinya.
"Detak jantungnya sudah berhenti pukul 03.47," kata salah satu suara. "Penyebab:
overdosis. Tapi hasil autopsi menunjukkan tidak ada jejak obat di
tubuhnya."
Suara lain menyahut, "Mungkin dia memang sudah mati lebih
awal. Sebelum tubuhnya mengetahuinya."
Tubuh itu ingin berteriak: "Aku tidak mati! Aku di sini! Aku
masih bisa mendengar kalian!" Tetapi tidak ada suara yang keluar.
Hanya keheningan yang semakin dalam, dan di dalam keheningan itu, ia mulai
mendengar sesuatu yang lain: irama detak jantung. Bukan dari tubuhnya, tetapi
dari suatu tempat yang jauh, samar, seperti gema dari kehidupan lain.
Lalu, tiba-tiba, semua berubah.
Ia tidak lagi berada di dalam kantung mayat. Ia berada di kamar tidurnya
sendiri, selimut lembut menutupi tubuhnya. Di sebelahnya, Laras masih
tidur. Di luar, pagi menjelang, dan burung pipit masih bertengger di pagar,
menatapnya dengan mata hitam yang tidak berkedip. Semua terasa normal, terlalu
normal. Seperti rumah yang baru saja dicat ulang untuk menyembunyikan noda
lama.
Dia menatap tangannya. Tidak ada bekas luka, tidak ada jarum, tidak ada
tanda-tanda bahwa ia pernah berada di ruang mayat. Tetapi di sudut matanya, ia
melihat sesuatu, bayangan tipis di dinding yang tidak bergerak bersamanya.
Bayangan itu hanya berdiri, diam, menunggu.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih