Seribu Mill (Rumah yang Terlalu Sempurna)
Bagus terbangun dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan mimpi buruk, bukan suara berisik, hanya sensasi samar seperti ada sesuatu yang salah di dalam sarang laba-laba realitasnya. Matanya membuka dengan perlahan, dan untuk sesaat, ia melihat langit-langit yang familiar namun terasa asing. Plafon putih mulus, tidak ada retakan, tidak ada noda, tidak ada jejak waktu yang merayap. Rumah itu baru, tetapi ia tidak ingat kapan membelinya, kapan memilih cat dinding berwarna krem lembut yang sekarang menyelimuti setiap sudut.
Di sebelahnya, Laras masih tertidur dengan posisi sempurna, tangan di atas
bantal, rambut hitam panjangnya terurai seperti air terjun yang membeku, dan
bibirnya membentuk senyum samar yang tidak pernah berubah. Bagus menatapnya
terlalu lama, berusaha mengingat kapan terakhir kali ia melihat istrinya
mengerutkan dahi atau bergerak gelisah dalam tidur. Tidak ada. Laras selalu
tidur seperti patung, cantik dan tak bergerak, seperti boneka porselen yang
takut retak jika mengubah ekspresi.
Ia turun dari tempat tidur, kakinya menyentuh lantai kayu yang hangat.
Kehangatan itu terasa asing, lantai seharusnya dingin di pagi hari, bahkan di
rumah tanpa-AC sekalipun. Namun, ia mengabaikannya, seperti ia mengabaikan
banyak hal akhir-akhir ini.
Tangga menuju lantai bawah terasa lebih panjang dari yang ia ingat. Setiap
anak tangga memancarkan derit yang sama persis, irama yang sama, seolah-olah
rekaman suara yang diputar berulang. Di dapur, aroma sarapan telah menunggunya,
telur orak-arik, roti panggang, dan kopi hitam, menu favoritnya, tetapi ia
tidak ingat pernah menyebutkan itu pada Laras.
Di sampingnya, Arda, putranya yang berusia tujuh tahun, duduk dengan krayon
di tangan. Anak itu sedang menggambar sesuatu dengan konsentrasi yang tidak
wajar untuk seusianya. Mata Arda tidak pernah berkedip saat menggambar, dan
jari-jarinya bergerak dengan presisi mesin.
"Pagi, boy," sapa Bagus, dengan candaan meskipun suaranya terasa
asing di telinganya sendiri.
Arda tidak menjawab. Hanya senyum tipis yang terbit di bibirnya, lalu ia
melanjutkan menggambar. Bagus melihat gambar itu, sebuah rumah, pohon, matahari
di sudut kanan atas, gambar yang biasa digambar anak kecil. Tapi di samping
rumah, ada figur hitam dengan topi yang menutupi wajah. hanya siluet gelap yang
berdiri seperti arca di dalam kuil.
"Wow ...siapa itu?" tanya Bagus, berusaha tetap tenang.
"Teman," jawab Arda dengan suara datar.
Bagus tidak bertanya lebih jauh. Perutnya tiba-tiba terasa mual, dan ia
tidak yakin apakah karena telur di depannya atau karena jawaban anaknya. Ia
mengalihkan pandangan ke jam dinding di atas kompor, jam antik dengan jarum emas
yang berdetak dengan irama stabil. Tapi detik itu, ia menyadari sesuatu yang
aneh, jarum detik bergerak mundur. Satu detik ke belakang, lalu berhenti, lalu
maju lagi, lalu mundur. Seolah-olah waktu tidak bisa memutuskan arah mana yang
harus diikuti.
Bagus berpaling ke jendela dapur. Di luar, pagi masih segar, tetapi langit
berwarna abu-abu yang tidak wajar, seperti sore yang kelelahan. Pepohonan di
halaman tidak bergoyang meskipun angin bertiup. Semua tampak diam, beku, dan
terlalu tenang.
"Sayang," suara Laras memanggilnya dari balik pintu dapur. Ia
menoleh dan melihat istrinya berdiri dengan gaun putih bersih, rambutnya sudah
disisir rapi, meskipun ia baru bangun lima menit yang lalu.
"Pagi," kata Bagus, berusaha ramah dan tersenyum.
Laras mendekat, mencium keningnya, lalu duduk di samping Arda. "Aku
mimpi aneh tadi malam," katanya, suaranya lembut seperti alunan musik.
"Aku bermimpi kita berada di tempat yang gelap. Kau berteriak memanggilku,
tapi aku tidak bisa bergerak."
Bagus membeku. "Mimpi apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku senang ini hanya mimpi." Laras
tersenyum, dan senyumnya tidak berubah sama sekali, seperti topeng yang
terpasang di wajahnya.
Sepanjang sarapan, Bagus memperhatikan dua orang yang ia cinta. Arda
menggambar tanpa henti, membuat puluhan figur bertopi di atas kertas. Laras
mengunyah makanannya dengan gerakan yang sama persis, menyesap kopi dengan
interval yang teratur, dan mengucapkan kata-kata yang sama seperti pagi
kemarin: "Hari ini cerah, ya? Aku senang kita punya hari libur."
Tapi hari itu bukan hari libur. Bagus ingat betul ini hari Selasa, dan ia
seharusnya bekerja. Namun, saat ia melihat ponselnya, layar menampilkan tanggal
yang sama dengan kemarin, dan semua notifikasi pekerjaan hilang tanpa jejak.
Setelah sarapan, Bagus memutuskan untuk keluar rumah. Ia ingin merasakan
udara segar, ingin memastikan bahwa dunia di luar sana masih berputar. Tapi
saat ia melangkah ke teras, ia melihat pemandangan yang sama persis dengan hari
sebelumnya, tetangga di seberang menyiram tanaman dengan selang yang sama,
seorang pria berlari dengan rute yang sama, dan seekor burung perkutut hinggap
di pagar dengan posisi yang sama.
Bagus berhenti di tengah jalan. Semua orang tersenyum padanya, tetapi
senyum itu sama, sudut bibir yang terangkat empat puluh lima derajat, mata yang
sedikit menyipit, dan kepala yang sedikit miring ke kanan. Bahkan burung perkutut
itu seperti sedang tersenyum, menatapnya dengan mata hitam tanpa ekspresi.
Ia kembali ke dalam rumah, jantungnya berdebar lebih kencang. Di ruang
tamu, televisi menyala tanpa suara. Di layar, seorang pembawa acara wanita
berbicara dengan gestur yang sama berulang kali, seperti rekaman yang diputar
dalam lingkaran. Bagus mencoba mengganti saluran, tetapi semua saluran
menampilkan hal yang serupa, wanita itu, tersenyum, bicara tanpa suara, dan di
sudut layar, angka-angka berdetak mundur.
Ia mematikan televisi. Di cermin di atas perapian, ia melihat bayangannya
sendiri. Tetapi bayangan itu tidak bergerak bersama tubuhnya. Bayangan itu
hanya berdiri, menatapnya dengan mata gelap yang seolah berkata: "Kau tidak sendirian di sini."
Bagus berbalik, dan bayangan itu menghilang.
Ia naik ke kamar tidur, membuka lemari, dan mencari sesuatu, apa pun,yang
bisa mengingatkannya bahwa ia nyata. Di balik tumpukan pakaian, ia menemukan
sebuah buku catatan tua. Sampulnya berdebu, tetapi ada tulisan tangan di
halaman pertama:
"Hari ke-473: Aku masih di sini. Mereka tidak tahu aku menulis
ini."
Itu adalah tulisannya sendiri. Tangannya sendiri. Tapi ia tidak ingat
pernah menulisnya.
Di bawahnya, ada baris lain:
"Mereka bilang ini untuk perlindungan. Tapi perlindungan dari apa?"
Bagus memejamkan mata. Dunia di sekitarnya terasa berat, seperti selimut
basah yang menekan bahunya. Ia mendengar suara langkah kaki di lorong, tetapi
tidak ada siapa-siapa. Ia mendengar suara anaknya tertawa, tetapi ketika ia melihatnya,
Arda sedang duduk diam di kamarnya, menatap dinding kosong.
Malam itu, Bagus berbaring di tempat tidur, berusaha tidur. Di sebelahnya,
Laras tertidur dengan posisi yang sama persis seperti pagi, senyum yang sama,
tangan yang sama di atas bantal. Di luar, angin malam berdesir, tetapi
pepohonan tidak bergoyang.
Ketika ia hampir tertidur, ia mendengar bisikan di telinganya:
"Kau tidak nyata."..sangat samar..dan tidak jelas
Ia membuka mata dengan kaget. Tidak ada siapa-siapa. Hanya langit-langit
yang terlalu putih, terlalu mulus, terlalu sempurna.
Dan di sudut kamar, sekilas ia melihat siluet bertopi.
Bagus tidak berteriak. Ia hanya memejamkan mata, berpura-pura tidur, dan
berharap bahwa saat ia terbangun, semua ini hanya mimpi.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih