Seribu Mill (Semu)

 

Pintu itu membawanya bukan ke dunia nyata, tetapi ke sebuah ruangan transisi. Dingin. Sunyi. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca buram yang memantulkan bayangannya sendiri dalam lipatan tak berujung, seperti galeri cermin yang dirancang untuk membuat siapa pun kehilangan orientasi. Di tengah ruangan, sebuah layar mengambang menampilkan deretan angka,

TAHAP 1, ILUSI

" Lepaskan."

Bagus berdiri di hadapan layar itu, tubuhnya masih gemetar oleh pertemuannya dengan Laras. Ia telah menangis, ia telah berteriak, ia telah memecahkan cermin dan monitor. Tapi sekarang, ia dihadapkan pada sesuatu yang lebih sulit dari sekadar menghancurkan benda-benda: ia harus menghancurkan keyakinannya sendiri.

Dari balik kaca buram, suara-suara mulai muncul. Suara-suara yang familiar. Suara Laras memanggil namanya dengan lembut. Suara Arda tertawa di kejauhan. Suara ibunya yang sudah lama meninggal,  memintanya pulang untuk makan malam. Semua suara itu lembut, hangat, menggoda, seperti tangan-tangan yang mencoba menariknya kembali ke dalam pelukan ilusi.

" Aku di sini. Kami semua di sini, dan kami menunggumu."

Ia menutup telinganya, tetapi suara-suara itu tetap masuk, merembes melalui sela-sela jarinya, menusuk pikirannya seperti jarum yang tidak bisa ia cabut. Ia tahu itu tipuan. Ia tahu Laras sudah pergi, Arda hanyalah rekonstruksi, dan ibunya sudah tiada bertahun-tahun lalu. Tapi mendengar suara mereka,begitu nyata, begitu dekat,membuat dadanya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa.

"Aku tahu kau tidak nyata," katanya, suaranya parau namun tegas. "Aku tahu ini hanya sisa-sisa program yang mencoba membuatku tetap di sini. Tapi aku tidak akan kembali."

Suara-suara itu menghilang. Ruangan menjadi sunyi. Lalu layar di depannya berganti tampilan:

TAHAP 1 , SELESAI

"Kau telah mengakui bahwa ilusi adalah ilusi. Tapi mengakui dan melepaskan adalah dua hal yang berbeda."

Bagus mengerutkan dahi. "Apa maksudnya?"

Layar itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba, kaca-kaca buram di sekelilingnya mulai memudar, dan ia tidak lagi berada di ruangan transisi. Ia berdiri di rumahnya sendiri, rumah yang ia kenal dengan baik, dengan dapur, ruang tamu, dan lorong yang menuju pintu terkunci. Semuanya tampak sama. Laras sedang duduk di meja makan, menatapnya dengan mata yang hangat. Arda menggambar di lantai, dan di sampingnya, figur bertopi masih setia menemaninya.

"Kau kembali," kata Laras, tersenyum. "Aku tahu kau akan kembali."

Bagus terdiam. Rasanya seperti mimpi buruk yang terulang. Tapi ia tahu ini bukan mimpi,ini adalah ujian. Tahap pertama tidak memintanya untuk mengakui bahwa ilusi itu ada. Tahap pertama memintanya untuk melepaskan ilusi itu. Secara nyata. Secara permanen.

"Aku tidak akan tinggal," katanya, suaranya bergetar tetapi mantap. "Aku sudah melihat apa yang ada di balik pintu itu. Aku sudah melihat Arda yang nyata. Aku tidak butuh tiruan ini lagi."

Laras berdiri, mendekatinya perlahan. "Kau yakin? Karena jika kau pergi, tidak ada yang tersisa. Tidak ada rumah, tidak ada keluarga, tidak ada yang mencintaimu. Hanya kehampaan dan kenangan yang perlahan memudar."

"Lebih baik kehampaan daripada kebohongan," jawab Bagus.

Ia berjalan ke meja makan, mengambil sepiring telur orak-arik yang masih hangat, dan melemparkannya ke lantai. Piring pecah. Telur berhamburan seperti kuning matahari yang hancur.

Laras tidak marah. Ia hanya menatapnya dengan sedih. "Kau menghancurkan sarapan favoritmu."

"Aku menghancurkan ilusi," kata Bagus. "Itu lebih penting."

Ia berjalan ke kamar Arda. Anak itu masih duduk di lantai, menggambar dengan krayon. Figur bertopi masih di sampingnya. Bagus meraih gambar itu, merobeknya menjadi dua, lalu empat, lalu berkeping-keping.

Arda menatapnya, tetapi tidak menangis. Ia hanya berkata, "Kau menyakitinya."

"Aku menyakiti ilusi," jawab Bagus. "Dan itu tidak apa-apa."

Ia meninggalkan kamar Arda, meninggalkan rumah itu, dan berjalan ke pintu depan. Ia membukanya, dan di baliknya, ia tidak melihat jalanan atau tetangga atau dunia yang dikenalnya. Ia melihat kegelapan, kegelapan yang dalam, yang menunggu, yang tidak berjanji apa pun kecuali kebenaran.

Ia melangkah masuk, dan di belakangnya, rumah itu mulai runtuh. Dinding-dindingnya retak, atapnya ambruk, dan semua suara-suara hangat itu menghilang dalam debu dan keheningan.

Ketika ia membuka matanya, ia kembali berada di ruangan transisi. Layar di depannya kini menampilkan:

TAHAP 1 , LENGKAP

"Kau telah melepaskan ilusi. Tapi ingat, ilusi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu di sudut-sudut gelap pikiranmu, menunggu saat kau lemah, menunggu saat kau rindu."

Bagus mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan membiarkannya mengendalikanku lagi."

Di layar berikutnya, angka-angka bergulir:

TAHAP 2 , RASA BERSALAH

"Kau telah mengakui bahwa duniamu palsu. Sekarang akui bahwa kaulah yang menciptakannya. Dan akui mengapa."

Bagus menarik napas dalam. Ia sudah tahu apa yang akan datang. Tapi ia belum siap. Mungkin tidak akan pernah siap.

Tapi ia tetap melangkah maju.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Sakralitas Pemakaman

Sistem Bumi, Peradaban Manusia & Biosfer: Proyeksi 20 kedepan

Kondisi Bumi Masa Depan - Analisis ,Proyeksi, Tantangan, dan Potensi Masa Depan